ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia- Suku kembang tinggi dan kenaikan inflasi menjadi rumor nan mempengaruhi pasar finansial RI termasuk terhadap minat investasi di pasar utang sepanjang tahun 2025.
Rating Director PEFINDO, Hendro Utomo menyebut ketidakpastian akibat akibat geopolitik menciptakan pasar nan volatile dan kebijakan moneter hawkish dengan kenaikan suku kembang dapat menahan pertumbuhan ekonomi dan yield obligasi bakal tetap tinggi. Selain itu inflasi nan bergerak naik dinilai bisa menekan aktivitas bumi upaya dan menekan kebutuhan pembiayaan.
Menghadapi ini dan dalam upaya mendorong minat investasi di pasar domestik, pemerintah diharapkan dapat menjaga defisit fiskal di Bawah 3% dari PDB guna menjaga kredibilitas pengelolaan fiskal pemerintah sekaligus menekan kebutuhan pembiayaan baru. Di sisi lain, jumlah surat utang nan jatuh tempo tetap cukup besar sehingga bakal mendorong permintaan instrumentasi utang baru di tengah gejolak pasar.
Dari sisi surat utang korporasi, penanammodal tetap bakal berhati-hati dalam memilih obligasi korporasi utamanya mengenai akibat nan tercermin dari rating surat utang terkait.
Seperti apa prospek dan tantangan angsuran korporasi hadapi gejolak 2026? Selengkapnya simak perbincangan Andi Shalini dengan Rating Director PEFINDO, Hendro Utomo dalam Power Lunch, CNBC (Senin, 06/07/2026)
Add
source on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·