Virus Mematikan Menggila! 2 Ribu Orang Tewas-100 Kasus dalam 24 Jam

2 jam yang lalu 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Wabah mematikan Ebola di Republik Demokratik Kongo (Kongo) sekarang secara resmi menjadi nan paling mematikan dalam sejarah negara tersebut. Berdasarkan info pemerintah, setidaknya 2.325 orang telah dilaporkan tewas nan secara langsung melampaui jumlah korban jiwa dari pandemi periode 2018-2020 lalu.

Mengutip The Guardian, Senin (17/08/2026), institut kesehatan masyarakat Kongo menyatakan bahwa total kasus terkonfirmasi sekarang telah melonjak tajam menjadi 4.945 kasus. Angka mengkhawatirkan tersebut sudah termasuk temuan 101 kasus baru nan terdeteksi hanya dalam kurun waktu 24 jam terakhir.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memproyeksikan bahwa pandemi ini berada di jalur nan tepat untuk melampaui rekor mematikan pandemi Ebola di Afrika Barat tahun 2014-2016 sebagai nan terbesar dalam sejarah. Wabah Afrika Barat nan melanda wilayah Guinea, Liberia, dan Sierra Leone tersebut tercatat mengakibatkan 28.616 kasus dengan 11.310 kematian.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada hari Jumat juga telah mengeluarkan peringatan keras mengenai krisis kesehatan ini. Mereka menegaskan bahwa Ebola sedang memenangkan pertempuran di Kongo lantaran epidemi mematikan ini diklaim merenggut satu nyawa setiap 30 menit.

Sebanyak enam dari 26 provinsi di Kongo sekarang telah terinfeksi, dengan sebaran utama berada di sepanjang perbatasan timur laut negara itu. Provinsi Ituri nan menjadi letak pertama kali pandemi ini dilaporkan sekarang mencatat lebih dari 3.400 kasus infeksi.

Lonjakan drastis jumlah kasus ini menjadikan pandemi ke-17 dalam sejarah Kongo tersebut sebagai penularan virus tercepat nan pernah diketahui. Sebagai perbandingan, pandemi di Afrika Barat tahun 2014-2016 memerlukan waktu nyaris lima bulan untuk mencapai 1.000 kematian, sementara pandemi kali ini sukses merenggut lebih dari 2.000 nyawa dalam waktu kurang dari tiga bulan.

Mirisnya, hingga saat ini tetap belum ada vaksin maupun pengobatan nan disetujui secara resmi untuk galur virus Bundibugyo langka nan bertanggung jawab atas lonjakan kasus tersebut. Uji klinis untuk dua kemungkinan pengobatan baru saja dimulai pada bulan lampau di wilayah Ituri.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, pada pekan lampau menyatakan bahwa dua vaksin nan dikembangkan unik untuk galur Bundibugyo saat ini sedang diuji coba langsung pada manusia.

Spesialis kesehatan masyarakat nan baru-baru ini dikerahkan ke Kongo berbareng Médecins Sans Frontières, Thomas Parisch, memberikan pandangannya mengenai krisis ini.

"Normalnya, seiring berjalannya wabah, rasio fatalitas kasus harusnya turun saat pencarian kontak membaik dan pasien diidentifikasi serta diobati lebih awal," tuturnya.

"Sebaliknya, kami tetap memandang banyak kasus terdeteksi sangat terlambat, ketika pengobatan mini kemungkinannya untuk berhasil, dengan banyak nan baru teridentifikasi setelah mereka meninggal di masyarakat," paparnya.

Krisis lintas pemisah juga mulai terlihat dengan laporan setidaknya 20 kasus di Uganda, di mana seluruhnya berpusat di ibu kota Kampala. Namun, kasus terakhir di wilayah tersebut dilaporkan pada 21 Juni lampau dan belum ada penularan organisasi nan tercatat.

Sebelumnya pada bulan Mei, lonjakan penyakit di Kongo dan Uganda ini telah ditetapkan sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat nan meresahkan bumi oleh WHO. Pengurutan genetik menunjukkan bahwa virus mematikan ini sebenarnya telah mulai menyebar beberapa bulan lebih awal pada bulan Februari.

Ebola diketahui menular dari hewan liar ke manusia, lampau menyebar masif di dalam populasi melalui kontak langsung dengan darah, sekresi, organ, alias cairan tubuh pasien nan terinfeksi maupun mayat. Virus ini juga sangat rentan menular melalui permukaan dan material nan terkontaminasi seperti tempat tidur alias pakaian.

Menurut info WHO, indikasi awal jangkitan dapat meliputi demam, kelelahan, malaise, nyeri otot, sakit kepala, hingga sakit tenggorokan. Keluhan tersebut nantinya bakal diikuti secara sigap oleh muntah, diare, sakit perut, ruam, dan indikasi gangguan serius pada kegunaan ginjal serta hati.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya