Warga Alasmalang Sulap Limbah Kulit Durian Jadi Produk Bernilai Ekonomi

7 jam yang lalu 2
Warga Alasmalang Sulap Limbah Kulit Durian Jadi Produk Bernilai Ekonomi Ilustrasi(Dok Istimewa)

WARGA Desa Alasmalang, Kecamatan Kemranjen, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah memanfaatkan limbah kulit durian. Mereka mengubah kulit tersebut menjadi beragam produk berbobot ekonomi.

Kulit durian diolah menjadi serat nan dapat digunakan sebagai bahan isian bantal, gantungan kunci, media tanam, hingga bahan penyerap minyak. Sementara bagian lain dari buah tersebut dimanfaatkan untuk membikin keripik kulit durian, basreng biji durian, serta dodol dari buah durian berbobot rendah.

Ketua Pokdarwis Alasmalang, Roniyah, mengatakan penemuan pengolahan limbah tersebut muncul lantaran banyaknya kulit durian nan dihasilkan saat musim panen.

"Daripada nan tadinya tidak ada nilai ekonomisnya sama sekali, dibuang dan bisa jadi sampah berbahaya, sekarang kami punya nilai ekonomisnya," kata Roniyah saat ditemui di Pusat Edukasi Pengolahan Limbah Kulit Durian Desa Alasmalang. 

Kulit durian nan terkumpul terlebih dulu dicacah menggunakan mesin hingga menjadi serat. Setelah dikeringkan, serat tersebut dapat dimanfaatkan untuk beragam keperluan, antara lain sebagai bahan isian bantal dan gantungan kunci.

Salah satu produk suvenir berupa gantungan kunci bergambar durian dijual dengan nilai Rp10.000 per buah. Produk tersebut banyak dibeli visitor nan berjamu ke Alasmalang, nan dikenal sebagai salah satu sentra durian di Banyumas.

Pemanfaatan serat kulit durian juga dikembangkan untuk media tanam dan oil absorbent alias bahan penyerap minyak. Produk tersebut apalagi dipasok untuk kebutuhan PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maos di Kabupaten Cilacap.

Selain diolah menjadi serat, bagian dalam kulit durian nan berwarna putih juga dimanfaatkan sebagai bahan dasar keripik. Kulit tersebut dicampur dengan tepung dan ramuan sebelum digoreng hingga menghasilkan makanan ringan nan renyah.

Tidak hanya kulit, buah durian nan tidak memenuhi standar penjualan juga turut dimanfaatkan. Durian grade C nan sebelumnya berpotensi terbuang diolah menjadi dodol, sedangkan bijinya dimanfaatkan sebagai bahan baku basreng.

Produk-produk tersebut dijual dengan nilai bervariasi. Keripik kulit durian dibanderol Rp15.000 untuk bungkusan 250 gram, basreng biji durian Rp20.000, sedangkan dodol durian dijual sekitar Rp80.000 per kilogram.
Menurut Roniyah, pemasaran dilakukan melalui outlet milik golongan maupun platform marketplace.

Kepala Desa Alasmalang, Katam, mengatakan persoalan limbah kulit durian telah dihadapi penduduk selama bertahun-tahun. Sebagai desa sentra durian, produksi limbah meningkat seiring bertambahnya hasil panen. "Dalam setahun limbah kulit durian sebanyak 6 ton, apalagi sekarang lantaran panennya semakin banyak bisa sampai 16 ton per tahun," ujar Katam.

Sebelum dimanfaatkan, kulit durian umumnya dibuang di pekarangan, selokan, hingga sungai. Penumpukan limbah tersebut kemudian menimbulkan persoalan lingkungan, termasuk memicu banjir. "Karena belum tahu kegunaan dan manfaatnya, banyak kulit durian dibuang ke selokan, akhirnya terjadi luapan sungai nan berakibat pada ratusan kepala keluarga," katanya.

Perubahan mulai terjadi setelah Desa Alasmalang ditetapkan sebagai bagian dari Program Kampung Iklim (ProKlim). Warga kemudian mulai mencari langkah untuk mengolah limbah menjadi produk nan mempunyai nilai tambah.

Pada 2024, penduduk mengawali upaya tersebut dengan mengolah durian grade C menjadi dodol. Durian nan tidak memenuhi standar penjualan sebelumnya hanya mempunyai nilai jual sekitar Rp10.000.

Pengembangan pengolahan limbah selanjutnya dilakukan melalui kerja sama pemerintah desa dengan Pemerintah Kabupaten Banyumas, Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), serta Pertamina. Dari kerja sama tersebut, penduduk mengembangkan pemanfaatan kulit durian menjadi serat dan beragam produk olahan.

Katam mengatakan penelitian berbareng perguruan tinggi juga menunjukkan adanya kandungan pada limbah kulit durian nan berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pupuk.

Ke depan, pemerintah desa berambisi potensi durian dapat dikembangkan lebih luas, tidak hanya sebagai komoditas buah, tetapi juga sebagai sumber beragam produk olahan. "Harapannya kelak ke depan kami mau bikin kayak pusat jajanan rakyat dari durian di sini," kata Katam.

Program pengelolaan limbah tersebut melibatkan beragam unsur masyarakat, mulai dari Pokdarwis, Karang Taruna, BUMDes, hingga Kelompok Wanita Tani (KWT). “Secara keseluruhan, aktivitas tersebut melibatkan lebih dari 100 warga,”jelasnya. (H-2)
 

Selengkapnya