ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan pertumbuhan dunia sebesar 3% pada tahun 2026, turun dari rata-rata 3,5% pada 2024-2025 dalam Laporan Prospek Ekonomi Dunia (World Economic Outlook/WEO) Juli 2026.
IMF menilai perlambatan pertumbuhan ekonomi lantaran pengaruh berkepanjangan dari perang di Timur Tengah.
"Perlambatan moderat ini mencerminkan akibat perang di Timur Tengah," kata IMF, dalam laporan terbarunya, Kamis (9/7/2026).
IMF memandang akibat terhadap prospek lebih seimbang daripada pada bulan April tetapi tetap condong ke sisi negatif. Kemungkinan bentrok Timur Tengah nan kembali terjadi membayangi dan dapat memperpanjang volatilitas nilai komoditas, semakin menakut-nakuti rantai pasokan, meningkatkan harga, dan membebani kondisi keuangan.
"Fragmentasi perdagangan dapat meningkat, kemungkinan merugikan produksi dan meningkatkan harga," terang IMF.
IMF menilai prioritas kebijakan saat ini adalah memulihkan stabilitas harga, nan didukung oleh komunikasi nan jelas, independensi bank sentral, dan pengawasan finansial nan kuat, sembari membangun kembali penyangga fiskal dan menggunakan instrumen fiskal secara irit melalui support sementara dan terarah nan menjaga sinyal harga.
"Reformasi struktural diperlukan untuk mempromosikan keamanan energi, kesiapan AI, penyeimbangan kembali domestik, dan kerja sama internasional kudu diperkuat untuk mengurangi tekanan dari ketegangan nan sedang berlangsung."
Di sisi lain, IMF memandang adanya akibat inflasi bumi bakal semakin memanas pada 2026. Inflasi yang panas bisa menjadi tantangan bagi pertumbuhan ekonomi negara.
"Mengenai inflasi, gambaran tersebut agak kurang menggembirakan. Inflasi utama dunia telah direvisi naik menjadi 4,7% tahun ini, sementara perkiraan inflasi inti kami secara umum tidak berubah. Sederhananya, tren disinflasi nan telah berjalan sejak awal tahun 2024 telah terhenti," kata IMF dikutip Kamis (9/7/2026).
Meskipun demikian, IMF memandang ekonomi bumi telah mengatasi guncangan akibat perang dengan lebih baik daripada nan dikhawatirkan sejauh ini.
Lonjakan nilai minyak nan lebih besar dapat dihindari berkah pengurangan persediaan, peningkatan produksi di luar Teluk, dan tindakan untuk membantu mengurangi permintaan minyak. Selain itu, meskipun kondisi finansial mengencang tajam pada bulan April, kondisi tersebut telah mereda dan tetap mendukung menurut standar historis.
"Sekarang perkiraan kami mengasumsikan bahwa Selat Hormuz mulai dibuka kembali pada pertengahan Juli, dengan kondisi kembali normal seperti sebelum perang pada Maret 2027. Asumsi nilai komoditas didasarkan pada nilai pasar per 10 Juni, nan menyiratkan nilai minyak rata-rata $89 per barel untuk tahun 2026," menurut outlook IMF.
"Pada intinya, kami memperkirakan pemulihan berbentuk V, pertumbuhan nan lebih lemah tahun ini dibandingkan dengan perkiraan pra-perang kami, diikuti oleh pemulihan tahun depan," sambungnya.
Pelemahan pertumbuhan ekonomi tersebut tidak turun lebih dalam lantaran ditopang perkembangan teknologi dunia. Momentum percepatan nan didorong oleh permintaan dalam siklus teknologi dunia berkah kemajuan dalam kepintaran buatan (AI) dan adopsinya.
"Dampaknya sangat bervariasi berasas paparan negara terhadap perang dan posisi dalam rantai nilai teknologi. Eksportir daya di luar area bentrok mendapat faedah dari persyaratan perdagangan nan menguntungkan, sedangkan ekonomi nan terhubung dengan peningkatan nan dipimpin teknologi mengalami aktivitas nan lebih kuat meskipun mereka adalah importir energi," menurut IMF.
(ras/haa)
Addsource on Google

2 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·