Agama Dalam Bayangan Ego

1 bulan yang lalu 19
Agama Dalam Bayangan Ego Mohsen Hasan(Dok.Pribadi)

DI SELA-SELA majelis kajiannya Habib Umar bin Hafiz bin Syeikh Abu Bakar menyampaikan hasil pengamatannya atas perkembangan sebagian orang beragama. Menurut dia, tidak sedikit orang membikin penafsiran dan pemahaman ekstrem alias keakuan sehingga suasana sarat kebisingan opini alias pendapat. Akibatnya, nilai kesucian lenyap di tengah gejolak klaim kebenaran.

Banyak orang mengaku memihak agama tetapi sesungguhnya nan mereka bela diri sendiri, egonya, kelompoknya, dan tafsirnya. Agama nan semestinya menjadi jalan penyucian berubah menjadi panggung pembenaran. Di bumi maya, kita bisa memandang dengan mudah gimana ayat suci menjadi perangkat serang, bukan cermin untuk memandang diri.

Zaman ini telah melahirkan generasi religius secara simbolik tetapi resah secara spiritual. Mereka mencari Tuhan di luar tetapi menolak menemukannya di dalam diri nan paling sunyi.

Penulis bakal membawakan pendapat dua master pisikologi, filsafat, dan tasawuf, ialah Sigmund Freud dalam karyanya The Future of  an Illusion dan Imam Ghazali seorang master dan tokoh hujjatul Islam pada masanya dalam sebuah karyanya Ihya ùlumiddin.

Freud dan Ilusi Keagamaan

Lebih dari seabad lalu, bapak psikoanalisis Sigmund Freud, menulis dalam The Future of an Illusion bahwa kepercayaan lahir dari kebutuhan psikis manusia bakal perlindungan. Menurutnya, manusia menciptakan figur Tuhan sebagai corak proyeksi rasa takut terhadap bumi nan tidak terkendali.

Bagi Freud, kepercayaan adalah wish fulfillment pemenuhan gairah terdalam manusia untuk merasa aman. Meski banyak nan menolak pandangannya, kritik Freud membuka ruang refleksi nan tajam: kadang kita memang tidak sedang mencari Tuhan, melainkan sedang mencari rasa tenang nan sesuai dengan kemauan diri. Manusia modern berakidah bukan untuk tunduk, melainkan untuk mendapatkan pembenaran batin.

Ia menafsirkan kitab suci seperti menatap cermin: hanya mau memandang dirinya, bukan Tuhan nan sejati. Freud mungkin tidak memahami kedalaman iman, tetapi dia memahami dengan sangat baik tabiat manusia bahwa ego seringkali mengenakan jubah kesalehan untuk menutupi luka jiwa dan ambisi tersembunyi.

Imam Al-Ghazali dan Kesalehan nan Menipu

Namun, jauh sebelum Freud, Imam Al-Ghazali telah mengingatkan perihal nan sama dengan bahasa lebih lembut namun jauh lebih dalam. Dalam Ihya ùlumiddin dia menulis: “Nafsu mencintai kedudukan, mau tampak benar, dan membenci kebenaran jika datang dari orang lain.”

Bagi Al-Ghazali, kepercayaan bukanlah kumpulan dogma alias simbol kesalehan, melainkan proses penyucian hati. Ketika pengetahuan kepercayaan tidak membikin hati tunduk dan jiwa lembut, maka pengetahuan itu justru menjadi hujjah nan memberatkan di akhirat. Ia mengkritik keras dua golongan nan tetap relevan hingga kini: para ustadz nan kehilangan hati, dan para mahir ibadah nan kehilangan ilmu. Dua-duanya rawan nan satu menyesatkan dengan dalil, nan lain dengan fanatisme tanpa hikmah.

Imam Al-Ghazali menegaskan: “Ilmu tanpa etika menjerumuskan, dan ibadah tanpa pengetahuan menyesatkan.” Hari ini, kita memandang gimana kalimat itu hidup kembali. Kebenaran direduksi menjadi argumentasi dan kesalehan diukur dari penampilan bukan dari kerendahan hati.

Pertemuan Dua Dunia: Psikologi dan Spiritualitas

Menariknya, jika Freud dan Al-Ghazali duduk berdialog, keduanya bakal sepakat pada satu hal: manusia adalah makhluk nan mudah tertipu oleh dirinya sendiri. Freud menyebutnya self-deception. Al-Ghazali menyebutnya ghurur.

Yang satu berbincang tentang sistem pertahanan ego, nan lain tentang penyakit hati. Namun, keduanya mengarah ke akar nan sama: kepercayaan bisa menjadi topeng bagi ego jika tidak diiringi kesadaran diri. 

Agama, dalam pengertian ini, bukan hanya sistem keyakinan, tetapi cermin moralitas batin. Ia menuntut kejujuran bukan pada bumi luar, tetapi pada diri sendiri. Karena sesungguhnya, orang nan paling susah dihadapi bukanlah musuh di luar tetapi ego di dalam diri nan selalu mau menang.

Manusia Modern dan Krisis Kesadaran

Kita hidup di masa ketika manusia mau menjadi betul lebih dari mau menjadi baik. Ketika kepercayaan menjadi senjata politik, komoditas sosial, alias arena ketenaran spiritual. Kita hidup di masa ketika kepercayaan kehilangan kedalaman lantaran kehilangan keheningan. Media sosial mengubah dakwah menjadi panggung kejuaraan dan kebisingan mengalahkan zikir nan sepi.

Freud menyebutnya kebutuhan narsistik. Al-Ghazali menyebutnya penyakit hati. Dua istilah berbeda namun maknanya sama: manusia modern haus pengakuan bukan kebenaran.

Kembali Pada Hakikat Agama

Jalan keluar dari krisis ini bukanlah menolak modernitas, melainkan mengembalikan kepercayaan pada jantung kesadarannya. Freud menawarkan insight kejujuran dalam memandang motif diri. Al-Ghazali menawarkan muhasabah, kejujuran menilai hati.

Keduanya adalah corak sinar kesadaran, nan menuntun manusia untuk mengenali bahwa kebenaran sejati tidak bakal pernah lahir dari ego nan belum disucikan. Agama kudu kembali menjadi cermin, bukan topeng. Ketika kepercayaan menjadi cermin, manusia bakal menunduk dan memperbaiki diri. Ketika kepercayaan menjadi topeng, manusia menundukkan orang lain.

Penutup & Khulasoh

Kita tidak sedang kehilangan Tuhan. Kita hanya terlalu sibuk menjadi Tuhan bagi diri sendiri. Kita tidak kehilangan agama. Kita hanya kehilangan kejujuran dalam beragama.

Seperti kata Imam Al-Ghazali: “Barang siapa mengenal dirinya, maka dia bakal mengenal Tuhannya.” Man àrafaa nafsahu fagad àrafa rabbahu. Dan barangkali, inilah nan kudu kita renungkan hari ini bahwa sebelum kita berdebat 

tentang siapa paling benar, kita perlu bertanya lebih dahulu: apakah kita sudah cukup jujur terhadap diri sendiri di hadapan Tuhan?

Agama tidak untuk menguasai, tetapi untuk mengasihi; tidak untuk menang, tetapi untuk menenangkan; dan tidak untuk membenarkan ego, tetapi untuk menyucikan jiwa. (H-4)

Selengkapnya