Fresh Graduate Singapura Makin Sulit Cari Kerja, Ada Apa?

57 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Lulusan baru (fresh graduate) di Singapura sekarang menghadapi tantangan nan semakin berat untuk mendapatkan pekerjaan. Meski lowongan kerja tingkat pemula tetap tersedia dalam jumlah nan cukup, banyak di antaranya bukan berasal dari sektor nan menjadi sasaran para lulusan universitas.

Laporan The Straits Times dikutip Selasa (28/7/2026) menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja di Singapura sekarang semakin selektif. Banyak lulusan mengirim ratusan lamaran kerja, tetapi hanya memperoleh sedikit panggilan wawancara.

Salah satunya dialami Ho, lulusan berumur 25 tahun dari salah satu universitas lokal. Meski lulus sebagai mahasiswa terbaik, mempunyai empat pengalaman magang, serta mengikuti sekitar 10 pameran karier, dia telah mengirim lebih dari 300 lamaran untuk pekerjaan di sektor keuangan.

Hasilnya, dia hanya mendapat respons dari sekitar 10 perusahaan dan lolos hingga tahap wawancara akhir sebanyak lima kali. Hingga kini, dia tetap belum memperoleh pekerjaan penuh waktu.

Situasi berbeda dialami Ong, lulusan farmasi berumur 24 tahun. Ia hanya melamar ke sejumlah rumah sakit untuk program training wajib sebelum memperoleh lisensi praktik. Seluruh rumah sakit nan dilamarnya langsung memberikan tawaran pekerjaan.

Perbedaan pengalaman tersebut mencerminkan kondisi pasar kerja Singapura nan sekarang mengalami ketidaksesuaian antara kesiapan lowongan dan minat lulusan.

Lowongan Banyak, Tapi Bukan di Sektor Favorit

Data Kementerian Tenaga Kerja Singapura (MOM) menunjukkan setiap tahun terdapat sekitar 25.000-30.000 lulusan sarjana nan memasuki pasar kerja. Sementara itu, jumlah lowongan pekerjaan level pemula untuk kategori ahli mencapai lebih dari 32.000 posisi.

Namun sebagian besar lowongan tersebut berada di sektor manajemen publik, pendidikan, jasa kesehatan, manufaktur, konstruksi, hingga jasa sosial. Sebaliknya, sektor nan paling diminati lulusan seperti teknologi info (IT) dan jasa finansial justru mempunyai proporsi lowongan entry level nan jauh lebih kecil.

Pada kuartal I-2026, hanya 22,2% lowongan di sektor teknologi info nan terbuka bagi fresh graduate. Di sektor finansial dan asuransi, angkanya hanya 25,3%.

"Masalahnya bukan tidak ada pekerjaan. nan terjadi adalah ketidaksesuaian antara sektor nan diinginkan lulusan dengan sektor nan sedang merekrut serta keahlian nan sekarang dibutuhkan perusahaan," ujar CEO perusahaan konsultan tenaga kerja Elitez Group, Derrick Teo.

Persaingan Makin Ketat & AI?

Persaingan juga semakin sengit lantaran jumlah lulusan teknologi meningkat pesat. Data Kementerian Pendidikan Singapura menunjukkan jumlah lulusan teknologi info naik nyaris dua kali lipat, dari 1.367 orang pada 2020 menjadi 2.694 orang pada 2024.

Di sisi lain, lowongan kerja di sektor teknologi justru menurun setelah ledakan perekrutan pascapandemi. Lowongan di sektor tersebut turun dari sekitar 11.700 posisi pada 2022 menjadi sekitar 5.300 posisi pada kuartal pertama 2026.

Perusahaan sekarang juga semakin selektif. Selain nilai akademik, pelamar dituntut mempunyai pengalaman magang, keahlian teknis, serta kesiapan untuk langsung bekerja. Banyak lulusan akhirnya memilih pekerjaan perjanjian alias sementara sembari menunggu kesempatan memperoleh pekerjaan tetap.

Meski kepintaran buatan (AI) semakin banyak digunakan perusahaan, para pengamat menilai teknologi tersebut belum menjadi penyebab utama sulitnya fresh graduate mendapatkan pekerjaan. Survei MOM menunjukkan hanya 6,2% perusahaan nan menggunakan AI mengurangi jumlah pegawai alias perekrutan lantaran otomatisasi.

Sebaliknya, AI lebih banyak mengubah langkah bekerja dibanding menggantikan tenaga kerja. Namun, AI mulai berkedudukan dalam proses rekrutmen, terutama untuk menyaring CV secara otomatis. K

ondisi ini membikin banyak pelamar merasa lamaran mereka "hilang" tanpa pernah mendapat respons dari perusahaan. Para master menilai lulusan perlu lebih elastis dalam memilih sektor pekerjaan serta meningkatkan keahlian praktis, termasuk keahlian memanfaatkan AI, agar lebih kompetitif di tengah pasar kerja nan semakin selektif.

(sef/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya