NTT Siapkan Pompa Air hingga Sistem Brigade Hadapi Ancaman Kekeringan

1 bulan yang lalu 26
NTT Siapkan Pompa Air hingga Sistem Brigade Hadapi Ancaman Kekeringan Persawahan Oepoi di Kupang, Nusa Tenggara Timur.(MI/Palce Amalo)

PEMERINTAH Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memperkuat kesiapan menghadapi ancaman kekeringan tahun ini bmelalui tiga strategi utama, ialah mitigasi, adaptasi, dan antisipasi.

 Selain memperkuat pemantauan cuaca dan pengelolaan sumber air, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT juga menyiapkan puluhan pompa air dan perangkat mesin pertanian (alsintan) nan dapat segera digerakkan ke wilayah terdampak.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTT Joaz Bily Oemboe Wanda mengatakan perubahan suasana membikin pola musim semakin susah diprediksi sehingga pemerintah kudu mempercepat langkah antisipasi untuk mencegah kandas panen.

"Tahun ini akibat kekeringan mulai terasa di beberapa wilayah, terutama Sumba Barat. Karena itu kami terus memantau perkembangan cuaca berbareng BMKG dan menyiapkan langkah penanganan," kata Joaz kepada Media Indonesia di  Kupang, Selasa (15/7).

Menurutnya, sebagai langkah mitigasi, dinas pertanian memperbarui info cuaca secara berkala, memetakan sumber-sumber air berbareng Balai Wilayah Sungai (BWS), Dinas PUPR, pemerintah kabupaten dan kota, serta mengimbau petani tidak memaksakan menanam padi andaikan kesiapan air tidak mencukupi.

Untuk mempercepat penanganan di lapangan, Dinas Pertanian menerapkan sistem brigade dalam pengelolaan alsintan. Melalui sistem ini, pompa air dan traktor menjadi stok pemerintah nan dapat dipinjam golongan tani sesuai kebutuhan, lampau dikembalikan agar dapat segera digeser ke wilayah lain nan membutuhkan.

Saat ini Dinas Pertanian NTT tetap mempunyai stok sekitar 60-70 unit pompa air. Tahun ini pemerintah juga kembali menerima tambahan sekitar 80 unit pompa air dari Kementerian Pertanian.

"Tahun lampau 84 unit pompa air sukses menyelamatkan sekitar 1.000 hektare sawah di Kabupaten Kupang. Kalau kebutuhan bertambah, kami bakal mengusulkan tambahan lagi ke pemerintah pusat," kata Joaz.

Selain pompa air, pemerintah juga menyiapkan support traktor, bibit padi, jagung, kedelai, dan pestisida. Untuk wilayah nan berpotensi kekurangan air, petani didorong menanam komoditas nan lebih tahan kekeringan, seperti kedelai dan tanaman kacang-kacangan.

 Pantau Kekeringan hingga Tingkat Kecamatan

Kepala UPT Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Perkebunan NTT Gebi Reni mengatakan pemantauan akibat kekeringan dilakukan oleh Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) nan tersebar di seluruh kabupaten.

Selain mengawasi serangan (benih)penyakit dan penyakit tanaman, POPT juga bekerja memantau kejadian kekeringan dan banjir. Saat ini NTT mempunyai sekitar 254 petugas POPT, tetap jauh dari kebutuhan ideal satu petugas di setiap kecamatan.

"Kami menerima info suasana dari BMKG, kemudian diteruskan kepada petugas POPT di lapangan untuk disampaikan kepada penyuluh dan petani sebagai langkah antisipasi," ujar Gebi.

Hingga saat ini, laporan akibat kekeringan baru berasal dari Kabupaten Sumba Barat. Luas areal terdampak mencapai sekitar 305 hektare sawah, dengan sekitar 29 hektare diperkirakan mengalami puso alias kandas panen lantaran tanaman padi nan telah berumur sekitar satu bulan tidak lagi memperoleh pasokan air.

Menurut Gebi, penggunaan pompa air di sejumlah letak pun belum tentu menjadi solusi lantaran sumber air di wilayah tersebut sudah mengering.

"Kalau sumber airnya sudah tidak ada, pompa air juga tidak bisa dimanfaatkan. Karena itu petani kami arahkan beranjak ke tanaman nan lebih tahan kekeringan dan tetap bisa memanfaatkan sisa kelembapan tanah," katanya.

Meski demikian, hingga sekarang belum ada laporan kekeringan dari kabupaten lain. Dinas Pertanian tetap meningkatkan kewaspadaan berasas prakiraan BMKG nan menunjukkan sejumlah wilayah di NTT mulai memasuki kategori rawan kekeringan.

Disiagakan Pestisida dan Waspadai Ancaman Belalang 

Selain kekeringan, Dinas Pertanian juga mengantisipasi meningkatnya serangan organisme pengganggu tanaman akibat perubahan iklim.

 Untuk mendukung pengendalian hama, pemerintah menyiapkan lima penyimpanan pestisida nan tersebar di Pulau Timor, Sumba, Flores, dan Manggarai Raya sehingga pengedaran dapat dilakukan lebih sigap andaikan terjadi serangan.

Gebi mengatakan salah satu (benih)penyakit nan terus diwaspadai adalah belalang di Pulau Sumba. Pengendalian nan dilakukan berbareng Kementerian Pertanian dan FAO sejak 2021 hingga 2025 sukses menekan populasinya. 

Namun kondisi cuaca ekstrem tetap berpotensi memicu telur belalang nan berada di dalam tanah kembali menetas sehingga pengawasan terus diperketat. "Kondisi suasana sangat memengaruhi perkembangan belalang. Karena itu pemantauan kami lakukan terus agar serangan bisa dicegah sejak dini," ujarnya. (PO/E-4)

Selengkapnya