Potret Perjuangan Siswa SD di Pandeglang, Buka Sepatu dan Terjang Sungai demi Sekolah

56 menit yang lalu 2
Potret Perjuangan Siswa SD di Pandeglang, Buka Sepatu dan Terjang Sungai demi Sekolah Tangkapan Layar: Siswa SD di Kabupaten Pandeglang, Banten setiap hari menerjang Sungai Cipunten Agung demi ke sekolah(Foto-Foto: Metro TV/Seprinal Sri Putra)

PULUHAN siswa Sekolah Dasar (SD) di Kabupaten Pandeglang, Banten, kudu mempertaruhkan keselamatan mereka setiap hari dengan menerjang Sungai Cipunten Agung sepanjang 26 meter di Kecamatan Labuan demi bisa pergi ke sekolah. Akses penyeberangan ini terpaksa ditempuh usai jembatan bambu nan biasa digunakan penduduk hancur diterjang arus deras beberapa tahun lalu.

Dengan penuh kehati-hatian dan didampingi orangtua nan cemas, anak-anak tersebut merintangi derasnya sungai. Sebelum melangkah ke dalam air, para siswa kudu melepas sepatu dan kaus kaki agar tidak basah saat tiba di sekolah.

Salah satu orangtua siswa, Dianah, mengaku selalu mendampingi anaknya nan tetap duduk di bangku SD untuk menyeberangi sungai. Rasa cemas terus menyelimuti pikirannya setiap kali mengantar dan menjemput sang buah hati.

"Lewat sungai ini tiap hari. Waktu itu sempat ada (jembatan) dari bambu, tapi kebawa arus sungai. Sekarang enggak ada sama sekali," ujar Dianah di Labuan, Pandeglang, Senin (27/7).

Dianah mengungkapkan, sebenarnya terdapat pengganti jalan darat. Namun, rute tersebut memutar sejauh nyaris tiga kilometer untuk bisa mencapai SDN Padahayu 2, Pandeglang.

"Khawatir iya, apalagi jika musim hujan, arus besar, jadi engga bisa sekolah. Harapannya mau dibangun jembatan, biar anak-anak sekolahnya nyaman," minta dia.

Kondisi prasarana nan minim ini turut berakibat pada operasional sekolah. Kepala Sekolah SDN Padahayu 2, Tedi Rustandi, mengakui bahwa ketiadaan akses jembatan nan memadai berkapak pada menurunnya jumlah pendaftar siswa baru di sekolah nan dipimpinnya.

"Dulu jumlah siswa di sini banyak. Sempat ada jembatan dibangun swadaya masyarakat, tapi hanyut. Akhirnya sekarang memengaruhi jumlah siswa di sini," kata Tedi.

Ia menambahkan, rasa takut para orang tua bakal keselamatan anak-anak mereka membikin banyak family memilih memindahkan alias mendaftarkan anaknya ke sekolah lain nan lokasinya lebih jauh namun lebih kondusif diakses. (Metro TV/Seprinal Sri Putra/P-4)

Selengkapnya