Perahu nelayan melintasi gedung Jembatan Lam Awe sisa tsunami 26 Desember 2004 di Peukan Bada, Aceh Besar, Aceh, Minggu (8/12/2024).(Antara)
KEPALA BMKG Teuku Faisal Fathani menegaskan bahwa secanggih apa pun teknologi pemantauan gempa dan tsunami tidak bakal bisa menyelamatkan masyarakat andaikan tidak diikuti kesiapsiagaan dan respons sigap di tingkat wilayah maupun organisasi pesisir.
Dalam pembukaan webinar peringatan 20 tahun Gempa dan Tsunami Pangandaran, Kamis (16/7), Faisal mengatakan Indonesia telah mengalami transformasi besar dalam sistem mitigasi tsunami selama dua dasawarsa terakhir. Menurutnya, tragedi Pangandaran 2006 menjadi salah satu titik kembali krusial dalam pembangunan sistem peringatan awal nasional.
"Saat ini InaTEWS didukung jaringan sensor seismograf, ratusan tide gauge, dan sistem komputasi berkinerja tinggi nan bisa menganalisis potensi tsunami dan menghasilkan peringatan awal dalam waktu kurang dari tiga menit," ujarnya.
Meski demikian, Faisal mengingatkan bahwa teknologi hanya menjadi salah satu mata rantai keselamatan. Informasi peringatan awal kudu dipahami dan segera ditindaklanjuti melalui pemindahan oleh pemerintah wilayah maupun masyarakat.
"Sehebat apa pun teknologi pemantauan tidak bakal bisa menyelamatkan nyawa andaikan tidak terhubung dengan masyarakat di hilir," ungkap dia.
Ia menjelaskan kekuatan utama dalam rantai keselamatan tsunami terletak pada kesiapan masyarakat dalam hitungan detik setelah peringatan diterima. Karena itu, edukasi, simulasi rutin, dan kerjasama lintas sektor kudu terus diperkuat.
Menurut Faisal, BMKG berbareng BNPB, pemerintah daerah, dan kalangan akademisi terus mendorong program organisasi siap tsunami agar budaya sadar musibah semakin mengakar di masyarakat. Dengan budaya tersebut, setiap penduduk diharapkan mengetahui langkah pengamanan diri ketika ancaman tsunami terjadi.
Faisal menilai tantangan kebencanaan di masa depan tidak bakal berkurang. Namun dengan sinergi antarlembaga dan partisipasi masyarakat, Indonesia dapat membangun ketahanan pesisir nan lebih kuat.
"Mari kita gunakan peringatan ini untuk memperkuat komitmen terhadap keselamatan generasi mendatang," katanya
Ia menambahkan bahwa pengalaman 20 tahun terakhir menunjukkan kemajuan signifikan dalam sistem pemantauan dan peringatan awal tsunami, tetapi pelajaran terpenting tetap sama, teknologi kudu melangkah beriringan dengan kesiapsiagaan masyarakat agar korban jiwa dapat diminimalkan ketika musibah terjadi. (E-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·