Situasi pasien di RSUD Komodo, Labuan Bajo.(MI/Marianus)
DINAS Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), mencatat sebanyak 3.151 kasus penyakit telah ditangani di wilayah terdampak gempa bumi sepanjang periode 15 hingga 25 Agustus 2026. Data dari Posko Kesehatan setempat mengompilasi 15 jenis penyakit terbanyak nan mengintai masyarakat pascabencana.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Barat, Theresia Asmon, mengatakan pemantauan kesehatan masyarakat terus dilakukan melalui posko-posko kesehatan nan tersebar di wilayah terdampak bencana.
Dari total kasus tersebut, jangkitan saluran pernapasan akut alias ISPA menjadi penyakit nan paling banyak ditemukan, ialah sebanyak 727 kasus alias 23,1 persen dari keseluruhan kasus.
“ISPA menjadi penyakit nan paling banyak ditemukan dalam pelayanan kesehatan pascagempa. Karena itu, kondisi lingkungan dan kesehatan masyarakat di letak pengungsian terus menjadi perhatian,” kata Theresia, Rabu (26/8).
Selain ISPA, hipertensi menempati urutan kedua dengan 601 kasus alias 19,1 persen.
Selanjutnya, myalgia alias nyeri otot tercatat sebanyak 275 kasus, low back pain atau nyeri punggung bawah 271 kasus, serta gangguan obstetri dan ginekologi sebanyak 189 kasus.
Berikut adalah 15 penyakit terbanyak nan teridentifikasi di Posko Kesehatan Manggarai Barat:
| No | Jenis Penyakit | Jumlah Kasus |
| 1 | Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) | 727 kasus (23,1%) |
| 2 | Hipertensi | 601 kasus (19,1%) |
| 3 | Myalgia (Nyeri Otot) | 275 kasus |
| 4 | Low Back Pain (Nyeri Punggung Bawah) | 271 kasus |
| 5 | Gangguan Obstetri dan Ginekologi | 189 kasus |
| 6 | Common Cold | 187 kasus |
| 7 | Neurologi dan Psikiatri | 167 kasus |
| 8 | Luka alias Cedera | 153 kasus |
| 9 | Dispepsia | 140 kasus |
| 10 | Penyakit Kulit dan Jaringan Lunak | 106 kasus |
| 11 | Muskuloskeletal dan Trauma | 96 kasus |
| 12 | Diare | 76 kasus |
| 13 | Diabetes Melitus | 55 kasus |
| 14 | Gastritis | 51 kasus |
| 15 | Penyakit Gigi dan Mulut | 37 kasus |
Dinas Kesehatan Manggarai Barat mengingatkan masyarakat terdampak gempa, khususnya mereka nan tetap berada di letak pengungsian, untuk menjaga kebersihan lingkungan, mengonsumsi makanan dan air nan aman, serta segera memeriksakan diri jika mengalami keluhan kesehatan.
Pemantauan terhadap pola penyakit juga diperlukan untuk mengantisipasi munculnya masalah kesehatan lain selama masa tanggap darurat.
Data 3.151 kasus tersebut menjadi salah satu dasar bagi pemerintah wilayah dalam menentukan kebutuhan pelayanan dan penanganan kesehatan masyarakat pascagempa di Kabupaten Manggarai Barat. (MM/P-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·