17 pasangan pengantin mengikuti prosesi Nikah Hemat nan digelar Pemerintah Kabupaten Purwakarta.(MI/Reza Sunarya)
SEBANYAK 17 pasangan pengantin menjalani nikah massal di Pendopo Kabupaten Purwakarta. Program Nikah Hemat menjadi salah satu corak pelayanan Pemerintah Kabupaten Purwakarta kepada masyarakat di Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat.
Seluruh kebutuhan dasar pernikahan disiapkan secara gratis, mulai dari penyelenggaraan janji nikah di Kantor Urusan Agama (KUA), bingkisan perlengkapan ibadah, mobil pengantin, hingga akomodasi bilik pengantin nan dapat digunakan pasangan setelah akad.
Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein mengatakan program tersebut lahir setelah pemerintah wilayah memandang banyak masyarakat nan justru terlilit utang akibat memaksakan pesta pernikahan nan mewah.
"Pemkab Purwakarta bekerja sama dengan Kementerian Agama untuk melaksanakan Nikah Hemat. Menikah di KUA itu gratis, tidak dipungut biaya. Program ini kami lakukan lantaran banyak masyarakat nan mengusulkan support setelah terlilit utang gara-gara menikahkan anak dengan pesta besar tanpa perhitungan," kata Binzein, Rabu (22/7)
Binzein menjelaskan, pemerintah tidak hanya memfasilitasi prosesi pernikahan, tetapi juga memberikan seperangkat perangkat salat, akomodasi mobil pengantin, hingga akomodasi bilik pengantin agar pasangan bisa memulai kehidupan rumah tangga tanpa terbebani biaya besar.
"Ada 17 pasangan nan menikah serentak, masing-masing mewakili 17 kecamatan di Purwakarta. Program ini sebenarnya sudah melangkah sebelumnya di beragam KUA, hanya saja sekarang dilaksanakan secara serentak," ujarnya.
Menurut Binzein, program tersebut hanya diperuntukkan bagi masyarakat Purwakarta alias pasangan nan salah satunya merupakan penduduk Purwakarta dan melangsungkan pernikahan di wilayah tersebut.
Bagi masyarakat nan mau mengikuti program Nikah Hemat, pendaftaran dilakukan melalui KUA masing-masing, sedangkan untuk mendapatkan akomodasi mobil pengantin cukup mendaftar ke Balai Kota Purwakarta.
Tak hanya itu, Binzein juga memperbolehkan pasangan peserta Nikah Hemat memanfaatkan rumah dinas bupati sebagai bilik pengantin alias tempat berbulan madu secara gratis.
"Kalau menginap di hotel tentu kudu mengeluarkan biaya. Di rumah dinas ini bisa dimanfaatkan tanpa biaya. Beberapa pasangan sebelumnya juga sudah menggunakan akomodasi tersebut," katanya.
Binzein berambisi program ini bisa mengubah langkah pandang masyarakat terhadap pernikahan.
Di antara 17 pasangan tersebut, kisah Rusmiati dan Wartono menjadi perhatian. Keduanya dipertemukan bukan melalui perantara family ataupun teman, melainkan lewat aplikasi pencarian jodoh. (RZ)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·