4 Gunung Api di Sulawesi Utara Waspada Level II, Warga Diminta Jauhi Zona Bahaya

41 menit yang lalu 3
4 Gunung Api di Sulawesi Utara Waspada Level II, Warga Diminta Jauhi Zona Bahaya Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulawesi Utara.(Dok. Antara)

BALAI Pemantauan Gunung Api dan Mitigasi Bencana Gerakan Tanah Sulawesi Maluku, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Kementerian ESDM), melaporkan bahwa empat dari delapan gunung api aktif di Sulawesi Utara sekarang menyandang status Waspada (Level II).

Penyelidik Bumi Ahli Muda dari balai tersebut, Sandy Gumolili, mengonfirmasi bahwa penetapan status ini didasarkan pada hasil pemantauan terkini terhadap aktivitas vulkanik di wilayah ujung utara Sulawesi tersebut.

Daftar Gunung Api Berstatus Waspada

Keempat gunung api nan saat ini berada pada Level II (Waspada) adalah:

  • Gunung Awu (Kabupaten Kepulauan Sangihe)
  • Gunung Karangetang (Kabupaten Kepulauan Sitaro)
  • Gunung Lokon (Kota Tomohon)
  • Gunung Soputan (Kabupaten Minahasa Tenggara)

Khusus untuk Gunung Awu, Sandy menjelaskan bahwa statusnya baru saja diturunkan dari Siaga (Level III) menjadi Waspada pada 8 Juli 2026 lalu.

Gunung Api Berstatus Normal

Sementara itu, empat gunung api lainnya di Sulawesi Utara tetap terpantau dalam status Normal (Level I), yaitu:

  • Gunung Mahawu (Kota Tomohon)
  • Gunung Ruang (Kabupaten Kepulauan Sitaro)
  • Gunung Tangkoko (Kota Bitung)
  • Gunung Ambang (Kabupaten Bolaang Mongondow)

Rekomendasi Radius Bahaya

Pihak otoritas menekankan pentingnya kepatuhan masyarakat terhadap radius ancaman nan telah ditetapkan untuk masing-masing gunung, baik nan berstatus Waspada maupun Normal.

Masyarakat dan visitor dilarang beraktivitas di area ancaman radius 1,5 kilometer dari puncak kawah dua (utara) dan kawah utama (selatan). Larangan juga bertindak pada area ekspansi sektoral ke arah selatan-barat daya sejauh 2,5 kilometer.

Warga juga diminta mewaspadai potensi guguran lava dan awan panas guguran nan dapat terjadi sewaktu-waktu. Hal ini disebabkan oleh penumpukan material lava sebelumnya nan kondisinya belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke arah sektor selatan, tenggara, barat, dan barat daya. (Ant/H-3)

Selengkapnya