Pengunjung berbelanja di salah satu gerai kue di Jalan Malioboro, Yogyakarta.(MI/Ardi Teristi )
HIRUK pikuk pariwisata seolah tak pernah terlelap di area jalan nan membentang sekira satu kilometer di pusat Kota Yogyakarta. Malioboro namanya, sebuah ikon wisata shopping di kota nan sering dijuluki sebagai kota pariwisata dan kota pendidikan ini.
Di jalan nan menjadi bagian dari Sumbu Filosofi dan telah ditetapkan sebagai dari Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO ini, geliat ribuan UMKM menjajakan jenis cinderamata. Mulai dari batik, tas, hingga gantungan kunci, dan jenis kuliner, dari gudeg, soto, hingga bakpia.
Di sisi lain, para musisi jalanan menyanyi merdu nan dihargai secara suka rela dari para wisatawan. Pengemudi becak dan andong pun tak mau kalah. Mereka hilir-mudik mengangkut penumpang. Tak hanya itu, di area ini juga banyak berdiri hotel gerai waralaba, dan beberapa mal. Geliat ekonomi nan tak pernah meninggal itu coba dipotret oleh Badan Pusat Statistik (BPS) lewat Sensus Ekonomi 2026.
Yati, 46, menceritakan, petugas sensus dari BPS sudah mendata aktivitas toko batik.
"Saya hanya bekerja di sini. Pemiliknya sudah didata sekitar bulan lalu," terang dia nan berdagang di Pasar Beringharjo, Jumat (31/7).
Hal nan sama juga disampaikan oleh Jeki, 23, pedagang nan berdagang cinderamata tas di Teras Malioboro. Lelaki nan baru ikut berdagang tiga tahun ini mengatakan, dirinya sudah disurvei pada saat pencanangan Sensus Ekonomi 2026 di Teras Malioboro, 18 Juni 2026 nan lalu.
"Pertanyaannya tidak sulit. Saya tinggal sampaikan apa adanya, tentang kondisi riil di sini, seperti sejak kapan mulai berdagang dan omzet penjualan," papar dia.
Sementara itu, bagi Misno, 49, nan berdagang makanan dan minuman di Teras Malioboro, sensus ekonomi menjadi arena curhat tentang tantangan-tantangan nan dihadapi.
"Harapannya, ada perbaikan dan jualan lebih ramai," minta laki-laki nan sudah berdagang di area Malioboro sejak 1998 ini.
Sesuai Target
Ditemui terpisah, Kepala BPS Kota Yogyakarta Joko Prayitno mengatakan, pendataan di Kota Yogyakarta sesuai dengan sasaran nan telah ditetapkan.
"Dari total waktu 2,5 bulan nan dialokasikan, pencapaian di lapangan sudah melampaui target. Kami optimistis bisa selesai sesuai target," tegas dia.
Untuk menyisir seluruh sasaran wilayah di Kota Yogyakarta, pihak penyelenggara mengerahkan sebanyak 342 orang petugas. Para petugas tersebut bertanggung jawab untuk melakukan pendataan pada 2.067 Satuan Lingkungan Setempat (SLS) maupun sub-SLS nan menjadi sasaran utama program.
Data baru bisa dinyatakan betul-betul rampung setelah melalui proses pemeriksaan menyeluruh agar hasilnya bersih (clean). Hasil itu sudah melampaui sasaran dan optimis bisa mencapai sasaran saat ini berhujung pada akhir Agustus 2026. Diakuinya, Kawasan Malioboro menjadi area nan menarik lantaran menjadi jantung pariwisata dan perekonomian di Kota Yogyakarta. Ia menyatakan bahwa kondisi riil di lapangan sangat kondusif.
"Kalau di Kota Jogja, alhamdulillah dari petugas saya nan 342 itu belum mendapatkan info penolakan," tegasnya.
Ia mengaku, memang ada penduduk nan belum bisa didata. Namun, perihal tersebut bukan lantaran ada penolakan, melainkan lantaran aspek kesibukan alias sedang capek saat petugas datang.
"Jadi ketika barangkali misalnya baru capek, belum bisa didata gitu, bukan kita (artikan) menolak gitu ya. Nanti kita komunikasikan dengan pengawasnya," terang dia.
Informasi Dilindungi
Joko Prayitno menegaskan, seluruh info dari responden dilindungi penuh oleh payung norma nan ketat dan tidak bakal disalahgunakan untuk kepentingan di luar statistik nasional.
"Dilindungi UU No 16/1997 tentang Statistik. Aturan ini melarang keras petugas membocorkan info responden, di mana pelanggaran terhadap kerahasiaan tersebut bakal dikenai hukuman pidana sesuai peraturan perundang-undangan," tegas dia.
Ia menambahkan, BPS juga menerapkan sistem enkripsi dan pengamanan ketat selama proses pengumpulan hingga pengolahan data. BPS memberikan agunan tertulis bahwa info nan masuk murni hanya untuk kepentingan statistik seperti perencanaan pembangunan, penyusunan kebijakan ekonomi, dan pertimbangan sektor usaha.
"Data sensus ini tidak untuk audit, investigasi, alias kepentingan fiskal/perpajakan. Tidak ada identitas alias rincian unit upaya tertentu nan disampaikan ke publik," tegas dia.
Dengan agunan privasi nan kondusif ini, para pelaku upaya diimbau untuk memberikan info nan jujur dan jeli demi pemetaan ekonomi Indonesia nan lebih baik.
Kepala Daerah Joko Prayitno mengatakan, rayuan dan keteladanan dari kepala wilayah dan tokoh masyarakat membikin masyarakat mau menerima petugas sensus ekonomi secara terbuka. Mereka seperti Sri Sultan HB X dan Hasto Wardoyo, menerima petugas secara terbuka untuk disurvei.
Ia menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih nan sebesar-besarnya kepada seluruh masyarakat Kota Yogyakarta nan telah menyambut petugas dengan sangat baik dan responsif.
"Berkat keterbukaan nan disampaikan, program ini dapat melangkah lancar," imbuh dia.
Sebelumnya, saat pencanangan Sensus Ekonomi di Kota Yogyakarta (18/6) nan lalu, Wakil Kepala BPS RI Sonny Harry Budiutomo Harmadi mengatakan, DIY sangat spesial lantaran capaian indeks pembangunan manusianya tertinggi kedua di Indonesia.
"Yogyakarta terkenal dengan Kota Pendidikan dan Pariwisata, di mana pendidikan punya peran nan luar biasa dalam pembangunan bangsa, baik dalam konteks pembangunan manusia maupun pembangunan ekonomi,” kata dia.
Sementara itu, Gubernur DIY, Sri Sultan HB X menyampaikan pentingnya Sensus Ekonomi 2026 demi terwujudnya info nan akurat, lengkap, dan berkualitas. Dengan demikian, info ekonomi potret nan utuh mengenai dinamika bumi upaya bisa diperoleh.
Data nan didapat bakal menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan pengembangan UMKM, memperkuat investasi, meningkatkan daya saing daerah, memperluas kesempatan kerja, sekaligus memastikan bahwa faedah pembangunan dapat dirasakan secara lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat.
“Mari kita sambut para petugas Badan Pusat Statistik dengan baik, berikan info nan benar, lengkap, dan sebenar-benarnya," pesan Sri Sultan, Kamis (18/6).
Bagi Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo meminta masyarakat tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berperan-serta dalam pendataan tersebut. Data nan dikumpulkan dalam Sensus Ekonomi merupakan info mikro nan dicatat berasas nama dan alamat sehingga partisipasi aktif masyarakat sangat krusial untuk memperoleh info nan berbobot dan akurat.
“Data ini nantinya menjadi dasar dalam perencanaan pembangunan dan penyusunan beragam kebijakan ekonomi,” tutup dia.(AT/E-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·