Kementerian Dalam Negeri Inggris resmi mengakui lima korban pelecehan seksual Mohamed Al Fayed sebagai korban perbudakan modern.(AFP)
SEDIKITNYA lima wanita nan menjadi korban pelecehan seksual oleh mantan pemilik toko ritel mewah Harrods, mendiang Mohamed Al Fayed, telah diakui secara resmi oleh Kementerian Dalam Negeri Inggris (Home Office) sebagai korban perbudakan modern.
Penetapan tersebut dikeluarkan melalui Mekanisme Rujukan Nasional (National Referral Mechanism/NRM), kerangka kerja resmi Pemerintah Inggris untuk mengidentifikasi korban perbudakan modern. Berdasarkan keputusan conclusive grounds (alasan nan menyimpulkan), para korban diakui secara norma telah menjadi sasaran perdagangan manusia dan eksploitasi, baik secara internasional maupun di dalam negeri Inggris. Bahkan, satu kasus memperlihatkan praktik perdagangan manusia nan terjadi seluruhnya di dalam area ritel Harrods.
Pengakuan ini berasal dari pengungkapan kasus Rachel Louw pada April lalu, nan menjadi wanita pertama dengan keputusan resmi tersebut. Kini, empat korban lainnya nan tergabung dalam golongan pembelaan penyintas No One Above juga menerima keputusan serupa.
Salah satu penyintas mengungkapkan menerima surat keputusan resmi dari pemerintah memberikan emosi nan emosional.
"Melihatnya secara tertulis Anda adalah korban perbudakan modern dan perdagangan manusia sangat... sangat mengejutkan untuk dibaca," ujarnya kepada PA Media.
Sebelumnya, Rachel Louw juga menyampaikan perasaannya kepada BBC saat kasusnya diakui oleh pemerintah.
"Ada emosi asing untuk merasa positif tentang pengakuan atas sesuatu nan secara intrinsik sangat negatif," kata Louw. "Tapi ini adalah pembenaran dan validasi."
Keputusan NRM ini dinilai para mahir norma dapat memperkuat kredibilitas saksi dalam proses pidana serta memengaruhi arah penyelidikan kepolisian. Kepolisian Metropolittan London (The Met) saat ini sedang menjalankan penyelidikan berjulukan Operation Cornpoppy untuk menelusuri apakah ada pihak lain nan memfasilitasi kejahatan Al Fayed.
Pihak kepolisian telah memperluas konsentrasi penyelidikan hingga mencakup tindak pidana perdagangan manusia. Sebanyak 154 korban telah melapor atas tuduhan serangan seksual, pemerkosaan, pemanfaatan seksual, dan perdagangan manusia. Pada Maret lalu, kepolisian mengumumkan telah memeriksa empat orang di bawah ancaman balasan atas dugaan keterlibatan mereka.
Ratusan wanita telah menuduh Mohamed Al Fayed melakukan pemerkosaan, serangan seksual, dan perdagangan manusia selama dia mempunyai Harrods dari tahun 1985 hingga 2010. Al Fayed meninggal bumi pada tahun 2023 di usia 94 tahun tanpa pernah menghadapi tuduhan norma di pengadilan. Beberapa korban juga menuduh saudaranya, Salah Al Fayed, melakukan perihal serupa sebelum meninggal bumi pada tahun 2010. (BBC/Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·