Ilutrasi penemuan awal musibah dengan menggunakan kepintaran buatan (AI)(Magnific)
BENCANA alam telah menewaskan sekitar 700.000 orang dalam satu dekade, menurut info United Nations. Di tengah meningkatnya akibat cuaca ekstrem, Google mengembangkan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk membantu pemerintah dan masyarakat mendapatkan peringatan musibah lebih cepat, mulai dari banjir hingga angin besar dan kebakaran hutan.
Angka 700.000 merujuk pada laporan United Nations mengenai korban akibat beragam peristiwa musibah dalam satu dekade. Sementara 1,7 miliar lainnya terdampak.
Upaya Google menjadi bagian dari support terhadap inisiatif Early Warnings for All nan digagas United Nations dengan memanfaatkan AI untuk mendeteksi, memprediksi, dan menyampaikan info mengenai ancaman bencana.
Salah satu teknologinya, Flood Hub, bisa memprediksi banjir sungai hingga tujuh hari sebelumnya dan sekarang mencakup wilayah berisiko di lebih dari 150 negara, dengan potensi menjangkau sekitar 2 miliar orang melalui Google Search, Google Maps, serta notifikasi Android di sejumlah negara.
Google juga memanfaatkan AI untuk memperkirakan banjir bandang perkotaan nan susah diprediksi secara konvensional dengan menggabungkan info cuaca, pengukuran sungai, gambaran satelit, dan info historis.
Melalui Groundsource, Google mengidentifikasi jutaan kejadian banjir bandang di beragam wilayah dan mengembangkan sistem nan bisa memberikan prediksi hingga 24 jam sebelumnya, sehingga masyarakat, pemerintah, dan organisasi kemanusiaan mempunyai waktu lebih untuk melakukan pemindahan dan mempersiapkan bantuan.
AI Google
Teknologi AI Google juga dimanfaatkan untuk memantau kebakaran rimba melalui gambaran satelit dan model AI nan membantu melacak perkembangan serta pemisah api, dengan sistem nan sekarang tersedia di 34 negara. Google bekerja sama dengan Earth Fire Alliance dan Muon Space melalui konstelasi satelit FireSat untuk mempercepat penemuan kebakaran.
Sementara berbareng UNOSAT, AI digunakan untuk menganalisis kerusakan pascabencana, termasuk membantu menilai lebih dari 385.000 gedung terdampak Badai Melissa di Jamaika pada 2025. Teknologi prediksi memang tidak dapat menghentikan bencana, tetapi tambahan waktu beberapa jam hingga beberapa hari dapat membantu masyarakat melakukan evakuasi, mengamankan barang, dan mempersiapkan jasa darurat.
Sistem peringatan awal juga dinilai dapat mengurangi akibat korban jika info diterima masyarakat dan segera diikuti tindakan.
Di tengah meningkatnya cuaca ekstrem dan akibat bencana, tantangan penggunaan AI bukan hanya meningkatkan kecermatan prediksi, tetapi memastikan info dapat disampaikan sebagai peringatan nan mudah dipahami dan mendorong tindakan nyata.
Google memandang AI berpotensi membantu memperluas sistem peringatan dini, terutama di wilayah nan tetap mempunyai keterbatasan info dan prasarana pemantauan. (H-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·