Jakarta, CNBC Indonesia - Delapan perusahaan minyak terbesar dunia, ialah Aramco, BP, Shell, Equinor, TotalEnergies, Eni, Chevron, dan ExxonMobil, sukses meraup untung nyaris mencapai US$93 miliar (Rp1.488 triliun) hanya dalam waktu tiga bulan hingga akhir Juni. Perusahaan-perusahaan ini mencetak untung di tengah gangguan pasokan bahan bakar fosil terbesar dalam sejarah pasar untuk melipatgandakan campuran untung mereka dari nan sebelumnya di bawah US$ 50 miliar pada periode nan sama tahun lalu.
Mengutip The Guardian, Rabu (5/8/2026), info menunjukkan bahwa kedelapan perusahaan tersebut mencetak untung lebih dari US$700.000 (Rp11,2 miliar) setiap menitnya selama kuartal kedua, sementara valuasi pasar mereka membengkak sekitar US$600 miliar menjadi di atas US$3 triliun.
Keuntungan terbesar pada kuartal tersebut diraup oleh perusahaan minyak milik negara Arab Saudi, Aramco, nan melaporkan peningkatan untung bersih kuartalan sebesar 34% menjadi lebih dari US$33 miliar (Rp528 triliun). Pencapaian ini diraih Aramco meskipun prasarana mereka sempat mengalami kerusakan akibat serangan pesawat nirawak dan rudal dari pasukan Iran serta Houthi.
Di Amerika Serikat, Chevron melaporkan untung bersih sebesar US$12,2 miliar (Rp195,2 triliun) untuk kuartal kedua, nan merupakan peningkatan lebih dari lima kali lipat dibandingkan periode nan sama tahun lalu. ExxonMobil juga mencatatkan untung sebesar US$ 14,5 miliar (Rp232 triliun), dua kali lipat dari perolehannya tahun lampau dan menjadi untung kuartalan tertingginya sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022.
Laba dahsyat dari Chevron dan ExxonMobil ini memicu kritik dari Presiden AS Donald Trump, nan menuduh keduanya meraup terlalu banyak duit dari perangnya di Iran dan memperingatkan bahwa mereka bakal dipaksa mengembalikan untung tersebut kepada publik menjelang pemilihan paruh waktu bulan November di tengah merosotnya ranking persetujuan sang presiden.
Di Eropa, Shell melaporkan untung kuartalan tertinggi kedua sepanjang sejarahnya dengan lonjakan pendapatan bersih menjadi US$9,84 miliar (Rp157,4 triliun), meskipun mereka memproduksi lebih sedikit gas dari pabriknya di Qatar akibat kerusakan senilai miliaran dolar nan dipicu oleh perang. Keuntungan Equinor turut merangkak naik menjadi US$3,2 miliar (Rp51,2 triliun) dari US$1,8 miliar pada kuartal musim semi tahun lalu.
Sementara itu, BP melaporkan untung kuartalan sebesar US$5,73 miliar (Rp91,6 triliun), nan merupakan nomor tertinggi sejak tahun pertama perang Rusia-Ukraina dan meningkat lebih dari dua kali lipat dari US$2,5 miliar pada tiga bulan sebelumnya. Chief Executive BP nan baru, Meg O'Neill, memihak untung perusahaannya dengan menyatakan bahwa mereka berfokus pada upaya mengatasi situasi dengan memproduksi lebih banyak produk minyak nan sedang langka secara andal.
Kendati demikian, BP justru memangkas anggaran transisi daya tahunannya dari US$5 miliar menjadi kisaran US$1,5 miliar hingga US$2 miliar sejak membatalkan ambisi lingkungannya dalam sebuah perombakan mendasar awal tahun lalu. Dalam beberapa tahun terakhir, BP telah memisahkan ladang angin lepas pantai di Inggris menjadi perusahaan patungan, menjual upaya angin darat di AS, dan baru-baru ini mengumumkan penjualan upaya biogas AS senilai US$4 miliar nan merupakan produsen gas terbarukan terbesar di Amerika.
BP juga sedang dalam tahap negosiasi lanjutan untuk menjual upaya tenaga suryanya, Lightsource, kepada konsorsium nan didukung oleh biaya kekayaan negara Kuwait, serta menempatkan upaya minyak dan gas Laut Utara mereka untuk dijual setelah beraksi selama lebih dari 60 tahun. Langkah penjualan ini kembali memicu seruan agar pemerintah Inggris membatalkan pengembangan dua ladang Laut Utara nan kontroversial di cekungan tua tersebut.
Dampak Krisis Iklim dan Tuntutan Tanggung Jawab
Laba nomplok akibat perang ini kembali memicu tuntutan agar raksasa minyak dan gas bayar kerusakan lingkungan nan disebabkan oleh tindakan mereka menguangkan penderitaan manusia, serta mendanai transisi sigap ke daya terbarukan. Para aktivis memperingatkan bahwa jutaan rumah tangga kudu menanggung dampaknya melalui tagihan nan lebih tinggi dan kekacauan iklim.
Basis info Carbon Majors mencatat bahwa produksi bahan bakar fosil Saudi Aramco menjadikannya entitas nan paling bertanggung jawab atas emisi karbon dalam sejarah, diikuti oleh Chevron, ExxonMobil, Shell, dan BP. Arab Saudi sendiri diketahui telah memimpin beragam upaya sukses untuk memblokir dan menunda tindakan suasana internasional selama beberapa dekade.
Analisis ilmiah nan diterbitkan September lampau secara langsung mengaitkan emisi karbon dari perusahaan bahan bakar fosil terbesar dengan gelombang panas nan mematikan, di mana emisi dari salah satu dari 14 perusahaan terbesar tersebut masing-masing cukup untuk memicu lebih dari 50 gelombang panas nan mustahil terjadi secara alami.
Patrick Galey, ketua kampanye bahan bakar fosil di Global Witness, menyoroti bahwa di saat kebakaran rimba menakut-nakuti beragam organisasi di seluruh dunia, kekeringan melanda, dan biaya daya melonjak, family biasalah nan kudu bayar nilai atas prioritas industri minyak besar terhadap kekayaan pemegang saham di atas kelestarian planet.
"Keuntungan BP nan setinggi langit adalah pengingat nan memalukan tentang siapa nan menguangkan penderitaan manusia tahun ini," tegas Galey.
"Sudah saatnya membikin raksasa minyak bayar untuk memperbaiki kerusakan suasana nan mereka dorong. Bayangkan berapa banyak pertahanan kebakaran dan banjir nan bisa kita bangun, alias berapa banyak panel surya nan bisa kita pasang, jika minyak besar bayar bagian pajak mereka secara adil."
"Anda tahu bahwa perusahaan minyak besar sedang mempermainkan kita ketika salah satu sekutu terbesar mereka, Donald Trump, menyuruh mereka untuk mengendalikan pengambilan untung mereka," sindir Galey.
Dampak krisis suasana musim panas ini mencakup gelombang panas terburuk nan pernah terjadi di Eropa, nan dikategorikan oleh para intelektual sebagai kejadian nan mustahil terjadi tanpa adanya pemanasan dunia akibat ulah manusia. Sekitar 20.000 orang diperkirakan telah meninggal bumi akibat suhu ekstrem tersebut, termasuk nyaris 3.000 orang di Inggris hanya pada bulan Mei dan Juni.
Korea Selatan dan Jepang juga mengalami rekor panas nan memecahkan rekor hingga 42,5C, nan memaksa badan cuaca Korea menginstruksikan warganya untuk segera menghentikan semua aktivitas di luar ruangan. Krisis suasana turut mendorong kenaikan suhu di sebagian besar wilayah Afrika pada bulan Juli. Sebuah laporan di The Lancet memperkirakan bahwa pemanasan dunia membikin setiap gelombang panas menjadi lebih intens dan meningkatkan nomor kematian dunia akibat suhu tinggi menjadi satu orang per menit.
"Di seluruh dunia, musibah nan didorong oleh suasana mencapai proporsi mimpi buruk. Apa nan perlu dilakukan sudah jelas: tinggalkan batu bara, minyak, dan gas lebih cepat, tingkatkan daya terbarukan, dan lindungi masyarakat di mana dampaknya paling parah," seru Kepala Iklim PBB, Simon Stiell.
Gelombang panas nan berturut-turut di Eropa telah menyedot kelembapan tanah hingga kering dan memicu kekeringan ekstrem nan merusak pasokan makanan mulai dari jagung, kembang matahari, hingga sayuran salad. Setidaknya 9 juta ton biji-bijian diperkirakan hilang, dan Inggris kudu menghadapi rekor panen terburuknya. Kondisi gersang ini juga memicu kebakaran rimba luar biasa di Prancis, Spanyol, Portugal, dan Yunani nan menyebabkan kerugian miliaran euro.
Kebakaran rimba membikin polusi udara berbisa melonjak, di mana kebakaran di AS dan Kanada pada 15-23 Juli diperkirakan telah menewaskan sekitar 4.000 orang dalam waktu seminggu setelah terpapar. Krisis suasana secara umum telah memperburuk cuaca kebakaran dan memperpendek usia hidup sekitar 1,5 juta orang per tahun akibat asap.
Di Asia Selatan, krisis suasana memicu curah hujan ekstrem lantaran udara nan lebih hangat 1C dapat menampung 7% lebih banyak air. Curah hujan lebih dari 40 cm turun hanya dalam 24 jam di Chattogram, Bangladesh pada awal Juli, nan berujung pada banjir bandang. Banjir dan tanah longsor serupa juga merenggut nyawa serta mata pencaharian penduduk di Pakistan dan India, sementara puluhan korban jiwa tercatat di barat laut China di mana ribuan orang terpaksa dievakuasi akibat angin besar dahsyat.
(tps)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
5







English (US) ·
Indonesian (ID) ·