Jakarta, CNBC Indonesia - Perlambatan tajam sektor properti China rupanya membawa akibat tak terduga bagi pasar daya global. Di tengah ancaman gangguan pasokan minyak akibat ketegangan di Selat Hormuz, anjloknya aktivitas bangunan di Negeri Tirai Bambu justru membantu meredam lonjakan nilai minyak dunia.
Hal ini dimuat analis Bloomberg Opinion David Fickling, sebagaimana dimuat Channel News Asia (CNA), dikutip Selasa (28/7/2026). Ia menilai melemahnya permintaan bahan bakar dari sektor bangunan China menjadi salah satu aspek nan menahan kenaikan nilai daya global.
Produksi solar China pada Juni hanya mencapai 12,9 juta ton, level terendah sejak 2010 jika tidak menghitung periode pandemi Covid-19. Produksi aspal juga turun ke titik terendah sejak Xi Jinping mulai memimpin China pada 2012.
Kedua produk tersebut merupakan parameter krusial aktivitas konstruksi. Aspal digunakan untuk pembangunan jalan dan genting gedung sementara diesel menjadi bahan bakar utama perangkat berat seperti ekskavator, truk proyek, crane, hingga mesin pencampur semen.
Menurut Fickling, kemerosotan sektor properti China sekarang memasuki fase nan belum pernah terjadi sebelumnya. Volume pembangunan rumah baru sepanjang 2026 apalagi menjadi nan terendah sejak 2002, tidak lama setelah China berasosiasi dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
Akibatnya, ribuan proyek properti di beragam wilayah China berakhir alias terbengkalai. Kondisi tersebut membikin kebutuhan diesel turun drastis sehingga impor minyak mentah China ikut melambat sepanjang tahun ini.
Permintaan Minyak Turun Tajam
Data menunjukkan produksi kilang minyak China turun sekitar 2,5 juta barel per hari antara Maret hingga Juni. Dari jumlah tersebut, nyaris 900 ribu barel per hari berasal dari pemangkasan produksi diesel.
Dibandingkan puncaknya pada akhir 2022 saat kebijakan Zero Covid berakhir, produksi diesel China sekarang telah turun sekitar sepertiga. Sementara produksi aspal ambruk lebih dari dua pertiga dibanding puncaknya pada 2021.
Banyak developer properti sekarang hanya berupaya menyelesaikan proyek-proyek lama dengan support program revitalisasi kota dari pemerintah. Mereka menunda pembangunan proyek baru lantaran kenaikan nilai diesel sekitar 50% sejak Maret membikin biaya bangunan semakin mahal.
Tak Hanya Karena Kendaraan Listrik
Penurunan konsumsi diesel memang turut dipengaruhi semakin banyaknya truk listrik di China. Namun, menurut Fickling, elektrifikasi kendaraan belum cukup menjelaskan penurunan permintaan nan begitu tajam dalam beberapa bulan terakhir.
Penyebab terbesar tetap berasal dari merosotnya aktivitas pembangunan properti. Di sisi lain, kilang minyak China sekarang mulai mengalihkan produksi dari bahan bakar transportasi menuju petrokimia seperti plastik dan nafta.
Pada Juni, produksi plastik dan nafta nyaris mencetak rekor tertinggi. Bahkan volume produksi plastik mentah sekarang sudah melampaui produksi bensin.
Selat Hormuz Tak Lagi Sebesar Dulu?
Fickling pun menilai jika Selat Hormuz kembali beraksi normal, permintaan diesel kemungkinan bakal pulih sebagian. Namun pemulihan tersebut diperkirakan terbatas lantaran sektor bangunan sekarang hanya menyumbang kurang dari seperlima konsumsi diesel China.
Selain itu, penjualan truk listrik terus meningkat pesat. Saat ini sekitar sepertiga penjualan truk baru di China sudah menggunakan tenaga baterai, dan pemerintah menargetkan porsinya naik menjadi 40% pada 2030.
Menurut Fickling, kombinasi krisis properti dan transisi menuju kendaraan listrik membikin permintaan minyak China memasuki tren penurunan jangka panjang. Artinya, perlambatan ekonomi China nan selama ini dipandang sebagai berita jelek justru menjadi salah satu aspek nan membantu menahan lonjakan nilai minyak bumi ketika bentrok di Timur Tengah menakut-nakuti pasokan daya global.
(sef/sef)
Addsource on Google

3 jam yang lalu
4







English (US) ·
Indonesian (ID) ·