AI Kini Bisa Menganalisis Suara untuk Mendeteksi Tanda-tanda Penyakit

1 jam yang lalu 2
AI Kini Bisa Menganalisis Suara untuk Mendeteksi Tanda-tanda Penyakit Ilustrasi(magnifik)

SUARA manusia rupanya tidak hanya berfaedah sebagai perangkat komunikasi, tetapi juga dapat menyimpan info mengenai kondisi kesehatan. 

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) sekarang memungkinkan peneliti menganalisis perubahan mini dalam langkah seseorang berbicara, bernapas, hingga kualitas bunyi untuk mencari tanda-tanda penyakit. 

Teknologi nan dikenal sebagai vocal biomarkers ini berpotensi membantu mendeteksi dan memantau beragam kondisi, termasuk Parkinson, Alzheimer, depresi, kandas jantung, dan glukosuria jenis 2.

Suara Menyimpan Sinyal Kesehatan

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa perubahan bunyi dapat memberikan petunjuk mengenai proses fisiologis maupun kognitif nan terjadi di dalam tubuh. AI dapat digunakan untuk mengolah karakter bunyi nan sangat halus, sehingga perubahan nan susah dikenali manusia dapat dianalisis sebagai info kesehatan.

Menurut University of South Florida (USF Health), para peneliti dan klinisi dari USF Morsani College of Medicine serta Luxembourg Institute of Health tengah mengembangkan kerangka ilmiah untuk vocal biomarkers. 

Upaya ini melibatkan 24 master internasional dari Eropa dan Amerika Utara dan menjadi bagian dari inisiatif VOCAL nan bermaksud membangun standar untuk penelitian biomarker suara.

NIH Kembangkan AI Berbasis Data Suara

Pengembangan teknologi biomarker bunyi mendapat support National Institutes of Health (NIH) melalui program Bridge2AI, nan diluncurkan pada 2022 dengan investasi hingga US$130 juta selama empat tahun untuk memperluas penggunaan AI dalam penelitian biomedis dan perilaku. 

Salah satu proyeknya, Bridge2AI-Voice, berfokus mengumpulkan info suara, ucapan, dan batuk secara etis nan dikaitkan dengan info kesehatan, sehingga dapat digunakan peneliti untuk mengembangkan dan menguji model AI dalam mengenali pola bunyi nan berpotensi berangkaian dengan beragam penyakit.

Bisa Digunakan untuk Skrining Penyakit

Potensi teknologi ini terlihat dalam studi Bridge2AI-Voice nan menguji model AI untuk skrining lesi laring, termasuk kondisi jinak, prakanker, dan kanker, menggunakan info 205 peserta dan 131 fitur akustik dari rekaman suara. 

Hasilnya menunjukkan bahwa kajian bunyi dapat membantu membedakan peserta dengan lesi laring dari golongan kontrol, meski teknologi tersebut tetap memerlukan pengetesan dan pengesahan lebih lanjut sebelum dapat diterapkan secara luas dalam jasa kesehatan.

Mengapa Teknologi Ini Menarik?

Salah satu kelebihan biomarker bunyi adalah pengumpulan datanya relatif sederhana dan noninvasif lantaran dapat dilakukan melalui perangkat digital, sehingga berpotensi mendukung pemantauan kesehatan jarak jauh dan skrining awal. 

Namun, studi kepantasan Bridge2AI-Voice menunjukkan tetap ada tantangan dalam penerapannya. Dari 47 peserta nan mempunyai perangkat pintar, hanya 41 persen nan sukses menyelesaikan tugas perekaman akustik, menunjukkan bahwa teknologi ini tetap perlu ditingkatkan, terutama dari sisi kreasi aplikasi dan kemudahan penggunaannya.

Belum Bisa Menggantikan Diagnosis Dokter

Meski menjanjikan, AI belum dapat digunakan untuk mendiagnosis penyakit hanya berasas bunyi lantaran biomarker vokal tetap perlu diuji agar konsisten, akurat, dan dapat diterapkan pada beragam populasi. 

USF dan Luxembourg Institute of Health menilai diperlukan standar ilmiah nan seragam, sehingga kerangka VOCAL dikembangkan untuk membedakan pengukuran bunyi dengan biomarker nan telah tervalidasi serta mendukung penyusunan standar pengesahan dan regulasi. 

Jika terus dikembangkan, teknologi ini berpotensi membantu skrining dan pemantauan penyakit secara non-invasif, tetapi untuk saat ini hasil kajian AI tetap menjadi perangkat pendukung dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.

Sumber: National Institutes of Health (NIH), University of South Florida

Selengkapnya