Air Telaga Merdada di Dieng terus menyusut akibat kemarau. Ratusan petani terpaksa menyedot air dengan pompa untuk menjaga tanaman kentang.(MI/Lilik Darmawan)
VOLUME air Telaga Merdada di area Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, terus menyusut akibat kemarau panjang nan dipengaruhi kejadian El Nino Godzilla. Kondisi tersebut mulai menakut-nakuti pengairan lahan pertanian ratusan petani di sekitar area telaga.
Sedikitnya 200 petani dari Desa Karangtengah, Buntu, dan Bakal mengandalkan air Telaga Merdada untuk mengairi tanaman pertanian, terutama kentang. Seiring sumber air lain mulai mengering, para petani terpaksa menggunakan pompa untuk menyedot air dari telaga.
Zaenuri, petani asal Desa Karangtengah, mengatakan kondisi air Telaga Merdada mulai mengalami penurunan dalam sekitar dua bulan terakhir. Ia menyebut penyusutan volume air cukup mengkhawatirkan lantaran kebutuhan air untuk tanaman kentang tetap tinggi. "Sudah sekitar dua bulan menyedot air dari Telaga Merdada lantaran untuk pertanian sudah kering," kata Zaenuri.
Untuk mengairi lahan kentang seluas sekitar 2.500 meter persegi, Zaenuri kudu menggunakan pompa nan memerlukan bahan bakar sekitar tujuh liter per hari. Dengan nilai bahan bakar (BBM) jenis pertalite sekitar Rp11.000 per liter, kebutuhan biaya operasional pompa menjadi beban tambahan bagi petani.
Dalam sebulan, kebutuhan bahan bakar untuk pengairan mencapai sekitar 50 liter. Sementara untuk lahan nan lebih luas, kebutuhan bahan bakar dapat mencapai 100 liter hingga tanaman memasuki masa panen.
Menurut Zaenuri, petani dari tiga desa, ialah Karangtengah, Buntu, dan Bakal, saat ini sama-sama mengandalkan Telaga Merdada. Jika kondisi tandus terus berlangsung, volume air telaga diperkirakan semakin kritis dalam satu hingga dua bulan ke depan.
Petani lainnya dari Desa Buntu, Hanif, mengatakan aktivitas penyedotan air dari Telaga Merdada telah dilakukan selama sekitar dua bulan. Pompa digunakan untuk menjaga tanaman kentang tetap mendapatkan pasokan air. "Sudah dua bulan menyedot, kudu pakai air. Kalau kondisi telaga tetap mencukupi, mungkin untuk satu bulan lagi tetap aman," ujar Hanif.
Kondisi permukaan telaga juga mulai ditumbuhi tanaman air, di antaranya eceng gondok. Meski demikian, air Telaga Merdada tetap menjadi tumpuan petani untuk mempertahankan tanaman mereka selama musim kemarau.
Farid, petani asal Desa Karangtengah, mengatakan dirinya mulai menggunakan air Telaga Merdada sejak Mei untuk mengairi tanaman kentang dengan luas lahan lebih dari satu ha.
Pengoperasian Pompa
Ia mengoperasikan tiga mesin pompa dengan kebutuhan bahan bakar sekitar 15 liter per hari. Masing-masing mesin memerlukan sekitar lima liter bahan bakar. "Kalau kebutuhan solar sekitar 15 liter. Ada tiga mesin, rata-rata satu mesin lima liter. Kami menyedot setiap hari," katanya.
Menurut Farid, kebutuhan pengairan tersebut diperkirakan berjalan hingga sekitar empat bulan. Ia berambisi musim tandus tidak berjalan terlalu panjang lantaran kondisi telaga diperkirakan bakal semakin surut. "Airnya tetap cukup. Kalau musim kemaraunya tidak panjang. Kalau dua bulan lagi, sepertinya sudah surut," ujarnya.
Biaya bahan bakar juga menjadi salah satu persoalan nan kudu ditanggung petani. Farid menyebut nilai solar nan digunakan sekitar Rp6.800 per liter. Di sisi lain, nilai kentang di tingkat petani saat ini berkisar Rp12.000 hingga Rp13.000 per kilogram.
Petani lainnya, Kasno, 43, mengatakan penyedotan air dari Telaga Merdada menjadi pilihan lantaran tanaman kentang memerlukan pasokan air nan cukup, terutama pada musim kemarau.
Menurut dia, kondisi kekeringan membikin petani tidak bisa hanya mengandalkan sumber air alami. Jika tanaman tidak mendapatkan penyiraman secara rutin, pertumbuhan kentang dapat terganggu dan berpotensi menurunkan hasil panen.
"Kami mulai menyedot air pada pertengahan Juli. Saya mengalirkan air dari Telaga Merdada ke areal kentang milik saya sejauh sekitar satu kilometer," ujar Kasno.
Biaya Bahan Bakar
Untuk mengoperasikan pompa, Kasno kudu menyiapkan bahan bakar solar. Dalam sekali pengoperasian, dia memerlukan sekitar lima liter solar dengan nilai Rp10.000 per liter.
Ia biasanya menghidupkan pompa setiap dua hingga tiga hari sekali. Penyiraman dilakukan sejak tanaman kentang mulai ditanam hingga memasuki masa panen.
"Saya memompa air dari Telaga Merdada dua sampai tiga hari sekali, mulai tanaman kentang usia nol hari," katanya.
Kasno mengatakan kebutuhan air nan tinggi membikin biaya produksi pada musim tandus meningkat dibandingkan saat musim penghujan. Untuk lahan kentang seluas sekitar 5.000 meter persegi alias 0,5 hektare, sedikitnya diperlukan 15 kali penyiraman hingga tanaman siap dipanen.
Setiap kali penyiraman, petani kudu memperhitungkan biaya bahan bakar untuk menjalankan pompa serta biaya operasional lainnya. Kondisi tersebut membikin pengeluaran petani bertambah di tengah ketidakpastian hasil panen.
"Pada musim tandus memang kudu mengeluarkan ongkos produksi lebih tinggi dibandingkan dengan musim penghujan," ujar Kasno.
Hal serupa dialami Solikin, 52, petani asal Desa Bakal, Kecamatan Batur. Ia mengatakan kekeringan membikin penyedotan air dari Telaga Merdada menjadi kebutuhan untuk menjaga tanaman kentang agar tidak kekurangan air.
Solikin mengaku kudu menyiapkan sekitar Rp100.000 untuk membeli solar setiap tiga hari. Pompa digunakan untuk mengalirkan air dari telaga menuju lahan kentangnya nan luasnya sekitar satu hektare.
"Saya memerlukan biaya Rp100 ribu untuk membeli solar. Setiap tiga hari sekali kudu menyedot air untuk menyelamatkan tanaman kentang dengan luas sekitar satu hektare," kata Solikin.
Bagi petani di area Dieng, kesiapan air menjadi salah satu aspek krusial dalam menjaga produktivitas tanaman hortikultura. Saat musim tandus berlangsung, kebutuhan tersebut mendorong petani memanfaatkan sumber air nan tetap tersedia, termasuk Telaga Merdada.
Namun, penggunaan pompa juga berfaedah petani kudu menanggung tambahan biaya produksi. Semakin panjang musim tandus dan semakin jarang hujan turun, semakin sering pula pompa kudu dioperasikan untuk mempertahankan tanaman.
"Inilah nan meningkatkan beban biaya nan kudu ditanggung petani kentang di area dataran tinggi Dieng,"tambahnya. (Z-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·