ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengambil langkah lanjutan untuk melindungi peternak ayam rakyat di tengah anjloknya nilai ayam hidup (live bird). Salah satunya, dengan meminta Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperketat masuknya investasi perusahaan besar ke sektor budidaya ayam.
Langkah tersebut ditempuh dengan mengirimkan surat kepada Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, agar penanammodal besar tidak lagi masuk ke upaya peternakan ayam nan dinilai semestinya menjadi ruang upaya bagi peternak rakyat.
Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian (Kementan) Suwandi mengatakan, upaya tersebut merupakan bagian dari rangkaian langkah nan tengah disiapkan pemerintah untuk memperbaiki kondisi peternak.
"Bapak Menteri Pertanian (Amran Sulaiman) sudah bersurat ke Menteri Perindustrian (Agus Gumiwang Kartasasmita) agar industri besar jangan masuk penanammodal ke peternakan ayam. Banyak upayalah," kata Suwandi dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) berbareng Komisi IV DPR RI di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (1/7/2026).
Selain menyurati Kementerian Perindustrian, Kementan juga telah mengusulkan peningkatan konsumsi telur dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta menyiapkan beragam langkah lain untuk menopang nilai komoditas unggas di tingkat peternak.
Ditemui sebelumnya, Amran menegaskan sektor budidaya ayam semestinya diprioritaskan bagi peternak kecil. Karena itu, pemerintah mendukung pembatasan masuknya penanammodal besar ke sektor tersebut.
"Itu jangan sampai penanammodal masuk ke sektor itu (peternakan ayam), itu untuk rakyat kecil. Kita perketat, kita setuju. Biar rakyat mini bermain di peternakan ayam kecil," kata Amran saat ditemui di kantornya, Jakarta, Selasa (30/6/2026).
Amran juga memastikan kebijakan tersebut segera ditindaklanjuti oleh jajarannya.
"Saya sudah minta tanya Dirjen (Peternakan dan Kesehatan Hewan/PKH Kementan), sudah saya minta ditindaklanjuti," ujarnya.
Desakan itu muncul setelah Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN), mengungkapkan anjloknya nilai ayam hidup lebih disebabkan kelebihan produksi dibandingkan lemahnya pasokan bahan baku pakan. Saat ini nilai ayam hidup di tingkat peternak hanya sekitar Rp14.000-Rp15.000 per kg, jauh di bawah nilai pokok produksi (HPP) nan diperkirakan mencapai Rp20.000 per kg.
"Memang hari ini, suplai produksi ayam tidak diimbangi oleh peningkatan demand daging ayam. nan terjadi kemudian, nilai ayam hidup di kandang-kandang peternak tertekan," kata Sekretaris Jenderal GOPAN Sugeng Wahyudi kepada CNBC Indonesia.
Menurut Sugeng, salah satu penyebab utama kondisi tersebut adalah semakin banyak perusahaan besar nan ikut menjalankan upaya budidaya ayam broiler sehingga pasokan terus bertambah, sementara permintaan tidak tumbuh sebanding.
"Saat ini nyaris semua pelaku di industri mempunyai budidaya ayam broiler, tanpa terkecuali. Sementara pasar nan diandalkan pasar ayam hidup, nan terjadi kemudian nilai rendah di tingkat peternak tak terhindarkan," jelasnya.
Karena itu, GOPAN meminta pemerintah membatasi ekspansi upaya budidaya ayam hidup, khususnya bagi perusahaan besar nan juga menguasai upaya pakan dan day old chick (DOC).
"Termasuk ekspansi upaya di sektor budidaya final stock ayam hidup juga dibatasi, begitu banyak pelaku-pelaku baru investasi tanpa memperhitungkan pasar. Terutama pelaku-pelaku besar nan menguasai pakan dan DOC (Day Old Chick)," ujarnya.
Akibat kondisi tersebut, peternak rakyat diperkirakan menanggung kerugian sekitar Rp5.000 per kg ayam nan dijual lantaran biaya produksi mencapai sekitar Rp20.000 per kg, sementara nilai jual hanya berkisar Rp14.000-Rp15.000 per kg.
Sekretaris Jenderal Kementan, Suwandi saat ditemui di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (1/7/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Sekretaris Jenderal Kementan, Suwandi saat ditemui di kompleks parlemen, Jakarta, Rabu (1/7/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
(dce)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·