Amran Punya Jurus Baru Bikin Pendapatan Petani Tembus Rp 16 Juta/Bulan

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mendorong percepatan modernisasi pertanian lewat sistem intensifikasi. Salah satu nan sekarang didorong pemerintah adalah penerapan metode tanam baru nan disebut PM AAS (Pertanian Modern-Advanced Agriculture System), nan diklaim bisa mendongkrak produksi sekaligus meningkatkan pendapatan petani.

Amran mengatakan, upaya percepatan ini telah dibahas berbareng jejeran dinas pertanian hingga penyuluh di seluruh Indonesia. Fokusnya bukan hanya mengejar produksi, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan petani lewat transformasi pertanian modern.

"Hari ini kami kumpulkan Kepala Dinas, kemudian Direktur Wilayah PPL se-Indonesia. Tujuannya adalah kita melakukan percepatan dengan intensifikasi," kata Amran saat konvensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Menurut dia, sistem intensifikasi bakal dipercepat melalui pertanian modern nan diarahkan langsung untuk memperbaiki taraf hidup petani. .

"Sistem intensifikasi kita akselerasi, ialah pertanian modern sekarang, kemudian kesejahteraan petani. Petani sejahtera. Jadi pertanian modern bertransformasi, pertanian modern menjadikan petani sejahtera," ujarnya.

Salah satu contoh nan disorot Amran adalah metode PM AAS. Ia menyebut metode tersebut sudah diuji coba di lahan seluas 1.600 hektare selama dua tahun. Hasilnya, produktivitas padi disebut bisa menembus 10 ton per hektare, apalagi di beberapa letak mencapai 12 ton per hektare. Sementara hasil minimalnya berada di kisaran 9 ton per hektare.

Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman berbareng Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono saat konvensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (9/7/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman berbareng Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono saat konvensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (9/7/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky) Foto: Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman berbareng Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono saat konvensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (9/7/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

"Contoh sederhana sekarang ada metode baru, metode PM AAS. Ini sudah 1.600 hektare kita uji coba. Itu produksinya 10 ton apalagi ada 12 ton. Minimal 9 ton. Nah, kita mencoba daerah-daerah irigasi kita tanami metode ini. Katakanlah sekarang rata-rata nasional kan 5,5 ton (per hektare). Kalau 11 ton kan berfaedah dua kali lipat," tutur dia.

Ia lampau menggambarkan dampaknya jika metode ini diterapkan secara luas. Misalnya, jika produktivitas naik 3 ton per hektare dan diterapkan di lahan 1 juta hektare, maka tambahan produksi bisa mencapai 3 juta ton. Jika lahan irigasi itu ditanami tiga kali dalam setahun, maka tambahan produksi bisa naik menjadi 9 juta ton gabah.

"Katakanlah naik 3 ton saja, jika 1 juta hektare kita tanami berfaedah 3 juta ton. Kalau ditanam 3 kali 1 tahun unik wilayah irigasi berfaedah 9 juta ton. 9 juta ton itu katakanlah rendemen 55 persen itu berfaedah 5 juta ton peningkatan. Ini kita kejar," ujarnya.

Tak hanya produksi, Amran juga menyatakan metode ini bisa mengerek pendapatan petani secara signifikan. Ia menyebut, jika metode tersebut melangkah optimal di wilayah irigasi dengan tiga kali masa tanam per tahun dan produksi menyentuh 10 ton per hektare, maka pendapatan petani bisa melonjak berlipat.

"Kalau ini bisa optimal untuk wilayah irigasi, tiga kali tanam, produksi 10 ton, pendapatan petani per bulan, satu family nan dulunya itu Rp5 juta, meningkat menjadi Rp16,3 juta per orang. Ya katakanlah Rp15 juta per orang. Itu meningkat tiga kali lipat," kata Amran.

Ia menegaskan, arah kebijakan pertanian modern saat ini memang ditujukan untuk mengejar kesejahteraan petani. Menurut dia, jika petani sejahtera, maka dorongan untuk terus menanam juga bakal semakin kuat dan pada akhirnya ikut mengerek produksi pangan nasional.

"Nah, sekarang kita kejar pendekatannya adalah kesejahteraan. Transformasi pertanian modern besar-besaran, itu dengan memperhatikan kesejahteraan petani," ucap dia.

Lebih lanjut, Amran menyebut PM AAS bukan varietas bibit baru, melainkan metode tanam nan merupakan campuran antara metode dari Arkansas (Amerika Serikat) dan sistem Jajar Legowo. Lewat metode ini, populasi tanaman per hektare ditingkatkan jauh lebih tinggi dibanding pola tanam biasa.

"Nggak, hanya metodenya. Metode campuran antara Arkansas dengan metode Jajar Legowo. Nah ini prinsip kerjanya adalah penggabungan. Jadilah metode AAS," jelasnya.

Ia menjelaskan, metode ini memanfaatkan ruang tanam nan tetap memberi ruang sinar seperti pola Jajar Legowo, tetapi dengan populasi tanaman nan jauh lebih padat. Jika sebelumnya populasi tanaman berkisar 300 ribu-360 ribu batang per hektare, maka lewat metode ini jumlahnya bisa ditingkatkan hingga sekitar 1 juta batang.

Dengan kepadatan tanaman nan lebih tinggi, biaya produksi memang naik. Namun, Amran menyebut kenaikannya relatif mini dibanding lonjakan pendapatan nan dihasilkan.

"Biayanya naik. Dulu biayanya Rp13 juta, naik menjadi Rp15 juta. Tapi dulu pendapatannya Rp20 juta, ini menjadi Rp65 juta. Dulu untungnya Rp5 juta, sekarang bisa Rp16 juta. Nah itu urutan-urutannya," kata Amran.

Selain meningkatkan populasi tanaman, metode ini juga disebut bisa menghemat tenaga kerja lantaran proses tanam tidak lagi melalui tahapan semai, cabut, lampau pindah tanam. Pola nan dipakai adalah direct seeding alias tanam bibit langsung.

"Kemudian ada lagi, menghemat tenaga kerja nan dulunya kan semai dulu, cabut baru tanam kembali. Sekarang langsung direct seeding," pungkasnya.

(wur)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya