Ancaman Berantai Cuaca Ekstrem Global

2 jam yang lalu 5
Ancaman Berantai Cuaca Ekstrem Global Warga menggunakan perahu untuk melintasi area nan dilanda banjir akibat hujan monsun dan luapan sungai di Wetlet, wilayah Sagaing, Myanmar, pada Senin (10/8).Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menilai perubahan pola cuaca dan suasana membikin setiap negara p(AFP)

Fenomena cuaca ekstrem saat ini tidak lagi hanya identik dengan peningkatan suhu global. Dalam beberapa pekan terakhir, beragam negara menghadapi eskalasi musibah hidrometeorologi berupa hujan intensitas tinggi, banjir bandang, hingga angin besar tropis nan merusak prasarana dan menelan korban jiwa. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menegaskan bahwa pola ini merupakan akibat nyata dari perubahan suasana nan semakin kompleks.

Dalam laporan State of the Climate in Asia 2025, WMO menyoroti bahwa hujan ekstrem, pemanasan laut, dan banjir besar telah memberikan akibat signifikan terhadap perekonomian di area Asia. Peningkatan suhu permukaan laut nan ekstrem menjadi pemicu utama lantaran mempercepat penguapan dan menyediakan "bahan baku" uap air bagi pembentukan hujan ekstrem.

Bencana Beruntun di Tiongkok dan India

Tiongkok menjadi salah satu wilayah nan terdampak paling parah. Pada awal Agustus, Provinsi Gansu dilanda banjir bandang dan tanah longsor nan menewaskan sedikitnya 25 orang. Kondisi ini diperparah dengan ancaman Topan Dolphin nan membayangi wilayah Beijing, memicu peringatan banjir perkotaan dan aliran lumpur di area pegunungan.

Pusat Iklim Nasional Tiongkok mencatat curah hujan di wilayah utara berada 20% hingga 50% di atas normal. Profesor Xuebin Zhang dari University of Victoria menekankan bahwa perubahan suasana bukan lagi ancaman masa depan bagi Tiongkok, melainkan realitas nan sedang terjadi dan memerlukan penyesuaian prasarana segera.

Kondisi serupa melanda India, di mana banjir dan longsor di wilayah utara serta timur laut menewaskan sedikitnya 25 orang. Karakteristik tanah nan jenuh air di wilayah pegunungan membikin area tersebut sangat rentan terhadap longsor susulan.

Data Dampak Bencana Hidrometeorologi Asia 2025

Wilayah/Fenomena Dampak Utama Keterangan Data
Provinsi Gansu, Tiongkok Banjir Bandang & Longsor 25 Tewas, 23 Luka-luka
India (Utara & Timur Laut) Banjir & Longsor Sedikitnya 25 Tewas
Siklon Senyar (Indonesia-Malaysia) Badai Tropis >1.200 Tewas, 10 Juta Terdampak
Lautan Asia Gelombang Panas Laut Mencakup 10 Juta Km²

Risiko di Indonesia dan Proyeksi 2026

Indonesia menghadapi akibat tinggi akibat posisi geografis dan pola monsun. Laporan WMO mencatat akibat destruktif Siklon Senyar pada 2025 nan menyebabkan lebih dari 1.200 kematian di wilayah Indonesia dan Malaysia. Hal ini menunjukkan bahwa sistem peringatan awal menjadi kunci krusial bagi negara berkembang nan mempunyai keterbatasan prasarana darurat.

WMO juga memberikan peringatan awal mengenai kejadian El Nino nan diperkirakan menguat pada paruh kedua 2026. Kondisi ini berpotensi meningkatkan kesempatan cuaca ekstrem nan lebih intens. "Ekstremitas monsun jarang datang sendirian. Banjir, kekeringan, dan gelombang panas dapat terjadi secara berurutan, menciptakan akibat berantai," tulis laporan WMO. (I-3)

Catatan Mitigasi: Investasi pada sistem peringatan awal dan pemantauan kondisi atmosfer-laut secara real-time dinilai sebagai langkah paling efektif untuk menekan nomor fatalitas akibat musibah hidrometeorologi di masa depan.

Selengkapnya