Apa Salah Ronaldo hingga Portugal Kandas di Piala Dunia 2026?

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNN Indonesia --

Perjalanan Portugal di Piala Dunia 2026 kudu berhujung di babak 16 besar usai takluk 0-1 dari Spanyol. Ironisnya, laga tersebut justru jadi salah satu penampilan terbaik Selecao das Quinas sepanjang turnamen.

Sayang, penampilan apik tim didikan Roberto Martinez itu tak diiringi kontribusi maksimal dari Cristiano Ronaldo. Laga kontra Spanyol malah jadi pertandingan dengan sentuhan bola paling minim bagi sang kapten, hanya 19 kali sepanjang 90 menit.

Dari 19 sentuhan itu, hanya tiga kali Ronaldo menyentuh bola di kotak penalti Spanyol. Kendati demikian, bomber Al Nassr tetap punya dua kesempatan berpotensi menjadi gol.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peluang pertama datang di menit ke-12. Berawal dari umpan Bruno Fernandes, Ronaldo menyisir sisi kanan dan berhadapan satu musuh satu dengan Aymeric Laporte, sebelum melepaskan tembakan dari perspektif sempit tetap bisa dihalau Unai Simon.

Dalam situasi itu, sebenarnya ada dua opsi nan bisa diambil Ronaldo. Membuat aktivitas tipuan untuk mengelabui Laporte, alias melepas sepakan keras nan mendatar agar kesempatan gol membesar.

Namun keduanya susah dieksekusi. Kelincahan mengecoh bek musuh sudah tak seperti dulu, sementara arah tembakannya pun condong mudah dibaca kiper.

Banner Gempita Bola 2026

Peluang kedua muncul di menit ke-37, hasil umpan lambung Pedro Neto nan disundul Joao Felix ke arah Ronaldo. Sayangnya Ronaldo menyambut bola dalam posisi tak siap, membelakangi gawang, dan ditempel Pau Cubarsi.

Andai lebih lebih sadar bakal ruang, posisi Ronaldo semestinya bisa lebih diuntungkan daripada bek muda Barcelona nan tepat di belakangnya.

Di luar soal peluang, aspek usia turut berperan. Di umur 41 tahun, Ronaldo bukan lagi pemain sayap lincah doyan menggiring bola dari sisi ke sisi seperti masa mudanya.

Idealnya di usia segini, Ronaldo berkedudukan sebagai poacher efektif memaksimalkan sedikit kesempatan di kotak penalti. Erling Haaland jadi contoh. Hanya tiga sentuhan di kotak penalti saat musuh Brasil, namun mencetak dua gol dalam kemenangan 2-1 Norwegia.

Sayangnya Ronaldo bukan jenis striker tunggal sejak awal karier, sehingga penyesuaian penuh ke peran poacher murni tak semudah itu terjadi di usia senja.

Di sisi lain, minimnya suplai bola juga jadi masalah nyata. Rekan-rekan seperti Bruno Fernandes, Vitinha, dan Joao Neves tampak enggan mengambil akibat mengirim umpan selain posisi Ronaldo betul-betul lowong dari kawalan.

Bandingkan dengan Haaland nan tetap menyentuh bola 30 kali sepanjang laga kontra Brasil meski hanya tiga kali di kotak penalti. Artinya, penyerang Manchester City itu tetap dilibatkan rekan setim, sedangkan Ronaldo relatif terisolasi dari aliran bola.

Add as a preferred
source on Google

Selengkapnya