Ilustrasi(magnifik)
BULAN Agustus 2026 menjadi salah satu periode nan paling dinantikan oleh para pecinta astronomi. Dalam kurun waktu kurang dari tiga pekan, langit bakal dihiasi oleh dua kejadian gerhana, ialah Gerhana Matahari Total pada 12 Agustus 2026 dan Gerhana Bulan Sebagian pada 27-28 Agustus 2026.
Fenomena langka ini dipastikan menarik perhatian dunia. Namun, muncul pertanyaan nan banyak dicari masyarakat Indonesia: apakah kedua eklips tersebut bisa disaksikan dari Tanah Air?
Gerhana Matahari Total Jadi Sorotan Dunia
Menurut NASA, Gerhana Matahari Total pada 12 Agustus 2026 bakal menjadi salah satu peristiwa astronomi terbesar dalam dasawarsa ini. Jalur totalitasnya melintasi Greenland, Islandia, Samudra Atlantik, Rusia bagian utara, Spanyol, serta sebagian mini Portugal.
Saat eklips total berlangsung, Bulan bakal menutupi seluruh piringan Matahari sehingga langit berubah gelap layaknya senja selama beberapa menit. Pada momen inilah korona Matahari lapisan atmosfer terluar nan biasanya tertutup sinar Matahari bakal terlihat jelas oleh pengamat.
NASA menjelaskan bahwa lama fase totalitas di sebagian besar wilayah hanya berjalan kurang dari dua menit. Meski singkat, kejadian tersebut menjadi kesempatan berbobot bagi intelektual untuk mempelajari struktur korona, aktivitas Matahari, hingga dampaknya terhadap atmosfer Bumi.
Apakah Gerhana Matahari Bisa Dilihat dari Indonesia?
Sayangnya, jawabannya adalah tidak.
Berdasarkan peta resmi nan dirilis NASA, gambaran inti Bulan (umbra) maupun gambaran sebagian (penumbra) sama sekali tidak melintasi wilayah Indonesia. Artinya, masyarakat Indonesia tidak bakal dapat menyaksikan Gerhana Matahari Total maupun fase eklips sebagian pada 12 Agustus 2026.
Sebaliknya, kejadian ini hanya dapat diamati secara total dari negara-negara nan berada tepat di jalur gambaran Bulan. Di luar jalur tersebut, sejumlah wilayah di Amerika Utara, Eropa, dan Afrika bagian barat laut hanya bakal mengalami eklips sebagian.
Mengapa Tidak Semua Negara Bisa Melihat Gerhana Matahari?
Gerhana Matahari merupakan kejadian nan sangat berjuntai pada posisi Matahari, Bulan, dan Bumi. Bayangan Bulan nan jatuh ke permukaan Bumi mempunyai jalur nan relatif sempit sehingga hanya wilayah tertentu nan dapat menikmati eklips total.
Karena posisi Indonesia berada jauh di luar lintasan gambaran Bulan pada Agustus 2026, kejadian tersebut tidak bakal terlihat sama sekali dari wilayah Nusantara. Hal inilah nan membikin setiap Gerhana Matahari Total selalu mempunyai jalur pengamatan nan berbeda-beda di setiap kejadian.
Lalu Bagaimana dengan Gerhana Bulan?
Selain Gerhana Matahari Total, bulan Agustus 2026 juga menghadirkan Gerhana Bulan Sebagian nan terjadi pada malam 27 hingga awal hari 28 Agustus.
Pada eklips jenis ini, hanya sebagian permukaan Bulan nan masuk ke dalam gambaran inti Bumi sehingga piringan Bulan tampak seperti "terpotong". Berbeda dengan Gerhana Matahari, Gerhana Bulan dapat disaksikan dari wilayah nan sedang mengalami malam hari ketika kejadian berlangsung.
Namun, visibilitasnya tetap berjuntai pada posisi geografis masing-masing negara saat eklips terjadi. Karena itu, masyarakat perlu menunggu info resmi dari lembaga astronomi mengenai wilayah nan dapat mengawasi kejadian tersebut secara optimal.
NASA Siapkan Misi Ilmiah Khusus
Gerhana Matahari Total 2026 tidak hanya menjadi tontonan langit nan spektakuler, tetapi juga dimanfaatkan sebagai laboratorium alam oleh para peneliti.
NASA telah menyiapkan beragam misi ilmiah, mulai dari pengamatan korona Matahari menggunakan pesawat berkecepatan tinggi hingga penerbangan puluhan balon ilmiah untuk mengukur perubahan suhu, tekanan udara, dan kondisi atmosfer ketika sinar Matahari mendadak berkurang akibat gerhana. Penelitian ini diharapkan bisa memberikan pemahaman baru mengenai aktivitas Matahari serta pengaruhnya terhadap atmosfer Bumi.
Agustus 2026 memang menjadi bulan nan spesial lantaran menghadirkan dua kejadian eklips dalam waktu berdekatan. Meski demikian, masyarakat Indonesia kudu bersabar lantaran Gerhana Matahari Total pada 12 Agustus 2026 tidak dapat disaksikan dari wilayah Indonesia.
Bagi nan mau menikmati momen tersebut, siaran langsung dari lembaga seperti NASA dan observatorium internasional bisa menjadi pengganti terbaik. Sementara itu, masyarakat tetap berkesempatan mengikuti perkembangan Gerhana Bulan Sebagian pada akhir Agustus sesuai info visibilitas nan bakal diumumkan oleh lembaga astronomi resmi.
Sumber: NASA








English (US) ·
Indonesian (ID) ·