Arab Saudi Bentuk Aliansi Pertahanan Baru Berisi 14 Negara, Mau Apa?

2 jam yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi berbareng 13 negara lainnya resmi membentuk Aliansi Pertahanan Maritim Multinasional demi mengamankan jalur pelayaran strategis di Selat Bab al-Mandeb, Laut Merah, dan Teluk Aden. Pembentukan koalisi ini dilakukan di tengah meningkatnya ancaman terhadap rute perdagangan dan pasokan daya dunia akibat memanasnya bentrok di Timur Tengah.

Kementerian Pertahanan Arab Saudi menyatakan aliansi tersebut dibentuk sebagai wadah memperkuat kerja sama pertahanan maritim kolektif. Riyadh menegaskan tujuan utama koalisi adalah menjaga kebebasan navigasi serta mengamankan jalur perdagangan internasional dan pengedaran daya nan menghubungkan Samudra Hindia dengan Laut Mediterania.

"Pintu tetap terbuka bagi negara-negara lain untuk menyetujui piagam koalisi setelah menyelesaikan prosedur nasional mereka," demikian pernyataan kementerian, seperti dikutip Al Jazeera, Jumat (31/7/2026).

Selain Arab Saudi, negara nan telah berasosiasi dalam aliansi ini adalah Turkiye, Kuwait, Bahrain, Qatar, Yordania, Mesir, Pakistan, Djibouti, Somalia, Bangladesh, Yaman, Sudan, dan Komoro. Pertemuan pembentukan aliansi turut dihadiri perwakilan dari 43 negara, termasuk delegasi Uni Eropa. Namun, Uni Emirat Arab dan Oman belum menjadi bagian dari koalisi tersebut meski mempunyai kepentingan keamanan nan sama di kawasan.

Menurut pemerintah Saudi, negara-negara peserta mempunyai "keyakinan bahwa keamanan maritim adalah tanggung jawab berbareng dan bahwa kerja sama serta koordinasi antarnegara merupakan landasan untuk menghadapi ancaman maritim umum dan lintas negara."

Riyadh juga menegaskan aliansi tersebut "murni berkarakter melindungi dan tidak menargetkan negara mana pun."

Pembentukan koalisi berjalan ketika ketegangan di area meningkat menyusul terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz akibat bentrok Amerika Serikat (AS)-Iran. Di saat bersamaan, jalur Bab al-Mandeb-Laut Merah-Teluk Aden juga berulang kali menjadi sasaran serangan golongan Houthi nan didukung Iran di Yaman.

Aliansi ini bakal berfokus pada pertukaran intelijen, berbagi informasi, penyusunan rencana operasi, hingga penyelenggaraan latihan militer berbareng dan operasi maritim. Namun, Arab Saudi belum mengungkapkan kontribusi kapal perang maupun pesawat nan bakal disediakan masing-masing negara anggota.

Arab Saudi menjadi personil pendiri sekaligus negara nan bakal menjadi markas besar aliansi tersebut, meski letak pastinya belum diumumkan. Langkah ini juga diambil setelah golongan Houthi memberlakukan blokade maritim terhadap Arab Saudi nan mengganggu pengiriman minyak melalui Laut Merah.

Sejak terganggunya aktivitas di Selat Hormuz, Arab Saudi tetap dapat mempertahankan sebagian besar ekspor minyaknya melalui pipa Timur-Barat menuju terminal Yanbu di pesisir Laut Merah. Meski demikian, seluruh pengiriman tetap kudu melintasi Selat Bab al-Mandeb nan berada di antara Eritrea, Djibouti, dan Yaman, sehingga area tersebut menjadi titik rawan terhadap serangan Houthi.

Selat Bab al-Mandeb merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di bumi lantaran dilalui sekitar 10-12% perdagangan maritim global, termasuk jutaan barel minyak setiap hari. Dengan lebar hanya sekitar 29 kilometer di titik tersempit, gangguan di jalur ini berpotensi memicu lonjakan nilai daya bumi sekaligus menghalang arus perdagangan internasional.

(tfa) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya