AS akan Gunakan Kekuatan Militer, Ekonomi, dan Politik untuk Taklukkan Iran

1 jam yang lalu 4
AS bakal Gunakan Kekuatan Militer, Ekonomi, dan Politik untuk Taklukkan Iran ilustrasi kekuatan militer AS.(Antara)

WAKIL Presiden Amerika Serikat JD Vance mengatakan pihaknya bakal menggunakan sarana militer, ekonomi, dan diplomatik untuk menyelesaikan bentrok dengan Iran. Menanggapi pertanyaan mengenai halangan dalam negosiasi dengan Iran dalam wawancaranya dengan Fox News, Rabu (5/8), Vance menyebut dua aspek utama: “Pertama, Iran adalah pihak nan sangat susah untuk diajak bekerja sama. Kedua, mereka mempunyai sistem nan terpecah,” katanya.

Vance menyampaikan bahwa ada pihak-pihak dalam sistem Iran nan mau perang segera berakhir, tetapi ada juga golongan radikal nan mau bentrok terus berlanjut. “Tugas kami adalah menyikapi situasi tersebut dan mencapai hasil terbaik bagi rakyat Amerika serta Presiden Amerika Serikat,” ucapnya.

Vance berambisi bentrok pada akhirnya dapat diselesaikan, meski mengakui prosesnya tidak bakal mudah. “Prosesnya bakal rumit dan memerlukan waktu, tetapi pada akhirnya kita bakal sampai ke tujuan,” katanya, seraya menambahkan bahwa nilai minyak diperkirakan bakal turun dan tetap rendah.

“Iran tidak bakal pernah mempunyai senjata nuklir, dan Amerika Serikat bakal berada pada posisi nan lebih kuat,” lanjutnya.

“Namun kami bakal mengerahkan seluruh instrumen nan kami miliki, baik militer, ekonomi, dan diplomatik—untuk memastikan bentrok ini berhujung dengan penyelesaian nan tepat,” kata Vance.

Pernyataan tersebut disampaikan Vance di tengah meningkatnya ketegangan di sekitar Selat Hormuz setelah serangkaian konfrontasi militer antara Amerika Serikat dan Iran.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan dia lebih memilih mencapai kesepakatan dengan Iran daripada menggunakan kekuatan militer. Namun, dia menegaskan bahwa opsi militer tetap terbuka andaikan upaya diplomasi gagal. “Saya lebih memilih membikin kesepakatan lantaran saya tidak mau membunuh orang,” kata Trump dalam sebuah aktivitas di Las Vegas.

Adapun pada 18 Juni, Washington dan Teheran menandatangani sebuah perjanjian kerangka serta memulai perundingan menuju kesepakatan final. Namun, pembicaraan kemudian terhenti akibat perbedaan pandangan mengenai agunan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Bulan lalu, ketegangan kembali meningkat ketika Amerika Serikat melancarkan serangan di wilayah Iran. Sebagai balasan, Teheran menyerang apa nan disebutnya sebagai akomodasi dan peralatan militer AS di sejumlah negara Arab, terutama Yordania, Bahrain, dan Kuwait. (Ant/P-3)

Selengkapnya