AS Bikin Iran Makin Kuat di Timur Tengah, Ini Buktinya

1 jam yang lalu 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran dilaporkan tengah memanfaatkan bentrok selama enam bulan terakhir untuk mengejar dan menegakkan tujuan perangnya sendiri di Timur Tengah, menentang tuntutan penyerahan dari Amerika Serikat. Strategi manuver kekuasaan nan lebih besar ini berpotensi mengubah selamanya tatanan regional nan sudah dalam kondisi tidak stabil setelah nyaris tiga tahun krisis sejak meletusnya perang di Gaza.

Tujuan inti Teheran sejatinya bukanlah soal nuklir, meskipun AS dan Israel meletakkan konsentrasi tajam pada masalah tersebut. Republik Islam ini selalu membantah tuduhan bahwa mereka berupaya memproduksi senjata pemusnah massal. Sebaliknya, sepanjang perang berlangsung, Iran telah menggunakan perangkat nan apalagi lebih kuat, ialah pengaruh mereka atas Selat Hormuz.

Status kendali ini kemungkinan bakal segera diresmikan di tengah laporan mengenai kesepakatan mendatang antara Iran dan Oman. Oman diketahui telah berupaya menetapkan sistem biaya jasa nan bakal dikumpulkan oleh kedua negara nan terletak di sepanjang koridor perdagangan minyak dan gas nan krusial tersebut sebagai kunci untuk membuka jalan menuju penyelesaian damai.

"Tujuan terpenting Iran adalah mengubah pencapaian militernya dan tekanan perang menjadi untung permanen nan diakui secara strategis-yakni, kendali atas Selat Hormuz," ujar Direktur Studi Teluk Persia di Center for Scientific Research and Middle East Strategic Studies di Teheran, Javad Heirannia, dilansir Newsweek, Rabu (5/8/2026).

Heirannia menegaskan bahwa Teheran berupaya memaksakan kendali dan pengaruhnya atas jalur air vital tersebut kepada dunia, khususnya kepada AS, sebagai realitas nan tidak dapat disangkal dan tidak dapat diubah.

Kendali atas Selat Hormuz ini dapat berfaedah sebagai nilai tawar mengenai masalah nuklir. Hal ini memberi Iran polis asuransi terhadap intervensi AS di masa depan jika mereka setuju untuk mengencerkan uranium nan sangat diperkaya, meskipun Washington pada akhirnya kandas memenuhi kesepakatannya sendiri.

"Dari perspektif Teheran, pengakuan status Iran sebagai pemain regional nan kuat adalah perihal nan paling penting, lantaran pengakuan ini membuka jalan bagi realisasi tujuan utamanya-yakni, mengonsolidasikan kendali atas Selat Hormuz dan mendapatkan agunan keamanan," ungkap Heirannia.

Tatanan Baru Timur Tengah dan Konsekuensi bagi AS

Pasca serangan golongan milisi Palestina Hamas terhadap Israel pada Oktober 2023, koalisi Poros Perlawanan Iran bergerak cepat, di mana Hizbullah Lebanon, Houthi Yaman, dan golongan milisi Irak segera berasosiasi dalam konflik.

Meskipun Poros Perlawanan sempat melemah akibat serangan mematikan, Iran justru memperkuat investasi dan melakukan perubahan taktis untuk menghidupkan kembali jaringan ini. Anggota golongan tersebut sekarang membuka front baru, seperti tindakan terbaru Houthi terhadap Arab Saudi, untuk meningkatkan tekanan pada musuh.

Perang aktif ini juga mempercepat perubahan geopolitik Timur Tengah. Arab Saudi, nan sekarang terancam dari beragam front, kian condong ke kuartet informal kekuatan Muslim seperti Mesir, Turki, dan Pakistan dengan menandatangani pakta pertahanan resmi pada September lalu.

Sementara itu, Uni Emirat Arab mengejar kerja sama nan lebih erat dengan Israel sejalan dengan Perjanjian Abraham, serta menjalin penyelarasan dengan India, Yunani, dan Siprus. Perbedaan arah antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab ini pada akhirnya telah memicu gesekan di antara dua negara tetangga Dewan Kerja Sama Teluk tersebut nan sekarang berbeda mengenai bentrok di Libya, Sudan, dan Yaman.

Konflik nan meluas ini telah membawa akibat negatif nan signifikan terhadap kehadiran AS di Timur Tengah. Penipisan pasokan amunisi penting, termasuk pencegat untuk memperkuat dari serangan rudal dan drone Iran, membikin para mitra Washington mulai mempertanyakan sejauh mana cakupan payung keamanan dan kemanjuran ikatan pertahanan mereka.

Penumpukan pasukan AS di Timur Tengah dan Amerika Selatan juga dinilai menunjukkan bahwa pemerintah AS telah teralihkan perhatiannya dan mengabaikan apa nan sebenarnya krusial bagi keselamatan dan keamanan Amerika Serikat.

Situasi ini pada akhirnya memberikan ruang bagi China untuk memperluas dominasinya di Timur Tengah dengan mempromosikan diri sebagai mercusuar stabilitas. CEO Gulf State Analytics, Giorgio Cafiero, menyebut bahwa para mitra Teluk Washington sekarang berkeinginan untuk mendiversifikasi hubungan mereka dengan memperdalam kerja sama dengan China dan kekuatan lainnya untuk mengurangi ketergantungan pada AS.

"Pertumbuhan pengaruh China nan mengorbankan keistimewaan Amerika ini dinilai selaras dengan kepentingan geopolitik jangka panjang Iran di area tersebut," tuturnya.

(tps/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya