Militer AS membombardir Iran selama 11 malam berturut-turut demi mengamankan Selat Hormuz. Trump sebut AS belum selesai dan ancam libas Gunung Pickaxe.(Centcom)
KOMANDO Pusat AS (CENTCOM) melancarkan gelombang serangan udara terhadap sasaran militer di Iran selama 11 malam berturut-turut. Langkah ini diambil seiring kian meningkatnya eskalasi perang di area Timur Tengah.
CENTCOM menyatakan dalam unggahannya di platform X bahwa serangan nan dimulai Selasa pukul 23.00 GMT dan berhujung Rabu pukul 00.15 GMT tersebut dirancang untuk merusak keahlian Iran dalam menakut-nakuti pelayaran komersial di Selat Hormuz.
Operasi militer ini menyasar pusat operasi militer, akomodasi maritim, hanggar pesawat, tempat penyimpanan drone, hingga prasarana logistik militer Iran. Menurut CENTCOM, Iran telah menyerang lebih dari 30 kapal komersial di Selat Hormuz dalam tiga bulan terakhir.
"Serangan tanpa argumen ini telah membahayakan ratusan pelaut nan tidak bersalah dan merusak kebebasan navigasi," tegas CENTCOM.
Presiden Donald Trump menegaskan Amerika Serikat "belum selesai" menggempur Iran. Ia apalagi menilai Iran butuh waktu lebih dari 20 tahun untuk pulih dari kerusakan nan ditimbulkan.
"Jika kita pergi sekarang, butuh waktu 20 hingga 25 tahun bagi Iran untuk membangun kembali. Kami belum selesai sama sekali... kami tidak bakal pergi saat ini," ujar Trump.
Trump juga mengisyaratkan sasaran berikutnya adalah kompleks bawah tanah Gunung Pickaxe (Pickaxe Mountain) dekat Natanz.
"Kami bakal menghantam area tersebut dalam waktu dekat, dan sangat berat," tambah Trump.
Menanggapi ancaman tersebut, Komando Militer Khatam Al-Anbiya Iran memperingatkan bakal menganggapnya sebagai "perluasan perang di kawasan" dan menakut-nakuti bakal membalas seluruh kepentingan AS beserta sekutunya.
Eskalasi pun meluas ke negara-negara tetangga. Bahrain, Kuwait, dan Yordania melaporkan telah mencegat serangan rudal dan drone. Garda Revolusi Iran mengonfirmasi serangan ke Yordania nan menargetkan akomodasi pasukan AS di Rukban, serta menyatakan telah menghantam dua kapal tanker di Selat Hormuz.
Di sisi lain, Trump menyatakan bakal "mengarungi" milisi Houthi di Yaman jika mereka merealisasikan ancaman blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi.
"Jika perihal seperti itu terjadi, kami bakal membereskannya," kata Trump.
Konflik nan kian membara ini menguras anggaran Washington. Menteri Pertahanan Pete Hegseth mengungkapkan kepada Senat AS bahwa biaya perang sejauh ini telah menembus nomor US$37,5 miliar.
Meski pertempuran terus berkecamuk, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menyebut bahwa komunikasi diplomatik dengan Washington melalui pihak mediator tetap tetap berjalan. (AFP/Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·