AS Iran Panas Lagi! Trump Terapkan Sanksi Terkeras Sejarah ke Teheran

1 jam yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) bakal menjatuhkan "sanksi terberat dalam sejarah" terhadap Iran. Hal ini dikatakan Menteri Keuangan (Menkue) AS Scott Bessent dalam sebuah wawancara unik ke CNBC International, Kamis waktu setempat.

Pernyataan ini mempertegas komentar Presiden AS Donald Trump nan sebelumnya mengatakan bakal merubah strategi terhadap Iran dari operasi militer saat ini. Trump menakut-nakuti bakal melakukan "Perang Ekonomi" dan memperingatkan akibat ekonomi lain, ke negara mana pun nan memberikan "bantuan dalam corak apa pun kepada Iran".

"Jika kami melakukan tekanan ekonomi maksimum, maka kemungkinan besar tidak bakal ada dimulainya kembali operasi militer skala besar," kata Bessent dalam wawancara eksklusif dengan "Squawk on the Street", dikutip Jumat (21/8/2026).

"AS bakal menciptakan isolasi ekonomi terkoordinasi terbesar dalam sejarah dunia," tegasnya.

"Jika Anda bersikeras melakukan upaya dengan (Iran), baik dengan mentransfer uang, membeli minyak mereka, maupun melakukan transfer kapal melalui laut, maka Departemen Keuangan AS dan pemerintah AS ... bakal mengerahkan seluruh kekuatan dan keahlian mereka untuk menegakkan tindakan terhadap Anda," lanjut Bessent.

"Sudah waktunya bagi sekutu kami dan seluruh bumi untuk mengambil keputusan... Kami bakal menghancurkan perekonomian rezim 'pembunuh' ini."

Lebih lanjut, Bessent juga menegaskan tekanan ekonomi itu bakal melangkah tetap berbareng dengan blokade laut nan sedang berlangsung, nan dilakukan AS ke Selat Hormuz. Sebelumnya awal pekan, Trump membikin pernyataan gempar dengan menyatakan Selat Hormuz adalah "teritori AS".

"Ini adalah pukulan satu-dua. Kami mempunyai blokade, dan kami bakal menerapkan hukuman terberat dalam sejarah," kata Bessent.

"Kami bakal meruntuhkan rezim ini," tambahnya.

Memang, produk domestik bruto (PDB) Iran diyakini mengalami kontraksi akibat perang, sementara inflasi di negara tersebut melonjak ke level tertinggi dalam sejarah. Namun, sejumlah master mengatakan perihal ini tak serta merta bisa diasumsikan bahwa perekonomian Iran bakal segera kolaps.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan pihaknya mengecam hukuman ekonomi dan perdagangan AS, menyebutnya sebagai "terorisme ekonomi" nan bakal menyasar rakyat Iran dan dapat dianggap sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan. Dalam pernyataan di X, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut langkah baru AS sebagai upaya "melipatgandakan kebijakan nan telah kandas hanya bakal membawa kekalahan lebih lanjut-dan permusuhan dari rakyat Iran".

Harga minyak naik ke level tertinggi dalam lebih dari tiga pekan pada Kamis menyusul ancaman AS tersebut berupa balasan finansial ini.

AS sebenarnya sedang memaksa perang enam bulan dengan Iran nan membikin jutaan barel minyak Timur Tengah terkatung-katung. Namun hingga sekarang Trump belum mencapai tujuan nan ditetapkannya pada awal perang, ialah "membongkar program nuklir Iran", membatasi keahlian Iran untuk menyerang rival-rival regionalnya, dan menciptakan kondisi agar rakyat Iran menggulingkan para pemimpin ustadz mereka.


Bukan Cuma Iran Tapi China Juga Ditarget?

Sementara itu, ketika ditanya apakah AS dapat menargetkan China lantaran melakukan upaya dengan Iran, Bessent mengatakan banyak pembicaraan mengenai perihal tersebut lebih baik dilakukan secara tertutup. Mengutip Reuters, China membeli lebih dari 80% minyak Iran nan dikirim melalui jalur laut, merujuk info 2025 dari perusahaan analitik Kpler.

"Perlu diingat bahwa China mendapatkan 50% energinya dari area Teluk. Jadi, bakal sangat menguntungkan bagi mereka untuk mengikuti program ini," katanya.

Meski demikian, berurusan dengan China juga bakal menyusahkan AS. Data menunjukkan gimana China merupakan eksportir besar ke AS termasuk mineral tanah jarang nan sangat penting, di mana setiap hukuman bakal berisiko memicu tindakan jawaban dari Beijing.

Sebenarnya, Iran sudah bertahun-tahun hidup di bawah tekanan hukuman AS. Di sisi lain, Iran secara terpisah tengah merundingkan kesepakatan dengan Oman mengenai pengelolaan Selat Hormuz dan dalam beberapa pekan terakhir telah beberapa kali mengatakan bahwa kesepakatan tersebut nyaris tercapai.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya