AS Kucurkan Tambahan Rp3,8 Triliun untuk Atasi Wabah Ebola di Kongo

1 jam yang lalu 2
AS Kucurkan Tambahan Rp3,8 Triliun untuk Atasi Wabah Ebola di Kongo Ilustrasi.(Magnific)

PEMERINTAH Amerika Serikat (AS) mengumumkan alokasi biaya tambahan sebesar lebih dari US$242 juta alias sekitar Rp3,8 triliun untuk memerangi pandemi ebola nan kian memburuk di Republik Demokratik Kongo (DRC). Pengumuman ini disampaikan pada Rabu (5/8 waktu setempat di tengah kekhawatiran dunia terhadap penyebaran virus tersebut.

Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa tambahan biaya ini menjadikan total support finansial langsung dari Washington untuk merespons pandemi tersebut mencapai lebih dari US$500 juta. Dengan nomor tersebut, Amerika Serikat menegaskan posisinya sebagai kontributor finansial terbesar dalam upaya penanggulangan ebola di wilayah tersebut.

Washington juga menyerukan kepada negara-negara lain untuk segera meningkatkan kontribusi mereka guna mendukung upaya pemberantasan penyakit mematikan ini. Pengumuman support tersebut bertepatan dengan kehadiran kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di DRC untuk meninjau langsung situasi di lapangan.

Kondisi Darurat di Kongo

Republik Demokratik Kongo, negara di Afrika Tengah dengan populasi lebih dari 100 juta jiwa, secara resmi mengumumkan pandemi ebola ke-17 pada 15 Mei lalu. Penyakit ini diyakini menyebar beberapa minggu sebelum deklarasi resmi dilakukan.

WHO memberikan peringatan serius pada Sabtu pekan lampau bahwa pandemi ini menyebar dengan kecepatan nan luar biasa. Lembaga kesehatan bumi tersebut mendesak agar respons kesehatan segera ditingkatkan secara signifikan. Hingga saat ini, otoritas DRC melaporkan total 3.874 kasus terkonfirmasi, dengan nomor kematian mencapai 1.751 jiwa sejak pandemi dimulai.

Kebijakan Perjalanan dan Apresiasi untuk Uganda

Di sisi lain, AS tetap mempertahankan kebijakan ketat mengenai pembatasan perjalanan guna mencegah masuknya ebola ke wilayah mereka. Langkah ini mencakup larangan bagi penduduk negara AS untuk melakukan perjalanan langsung dari DRC ke Amerika Serikat, serta pembatasan bagi pelancong dari Uganda dan Sudan Selatan.

Meski menerapkan patokan ketat, Washington memberikan apresiasi kepada Uganda atas langkah sigap mereka dalam menangani penyebaran virus. "Meskipun lintasan pandemi di DRC tetap mengkhawatirkan, Amerika Serikat memuji Uganda atas tindakan sigap dan tegas dalam merespons pandemi serta membatasi penyebaran ebola," tulis pernyataan resmi Departemen Luar Negeri AS.

Sebelumnya, AS sempat menghadapi kritik atas kebijakan karantina bagi warganya di Kenya, langkah nan apalagi sempat digugat di pengadilan negara tersebut. Namun, Washington menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah menekan laju penularan di sumber pandemi melalui support finansial dan teknis. (AFP/I-2)

Selengkapnya