Ilustrasi.(Magnific)
AMERIKA Serikat menyatakan optimisme bahwa kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dapat tercapai dalam waktu dekat, kemungkinan besar pada Selasa (4/8) alias Rabu (5/8) waktu setempat. Harapan ini muncul hanya beberapa jam setelah suatu kapal kargo kembali menjadi sasaran serangan di jalur perairan vital tersebut.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengungkapkan kepada CNBC bahwa terdapat kesempatan besar kesepakatan bakal terwujud dalam hitungan jam. Pernyataan ini memperkuat klaim Presiden Donald Trump sebelumnya nan memprediksi jalur pasokan minyak dunia tersebut bisa dibuka kembali pada Selasa.
Berbicara dari Gedung Putih, Trump mempertahankan style diplomasinya nan khas: perpaduan antara optimisme tinggi dan ancaman keras. Ia memperingatkan Teheran bahwa ini kesempatan terakhir sebelum dekapitasi (pemenggalan struktur kekuasaan).
Konflik nan Berlarut
Ketegangan bersenjata antara Teheran dan Washington pecah sejak 28 Februari, dipicu oleh serangan mendadak AS dan Israel ke Iran. Meski sempat ada gencatan senjata dan kesepakatan awal, upaya diplomasi selama lima bulan terakhir kerap menemui jalan buntu.
Selat Hormuz menjadi titik pusat konflik. Iran berupaya mempertahankan kendali penuh dan memberlakukan tarif tol di selat tersebut, kewenangan nan tidak pernah mereka jalankan sebelum perang dan ditentang keras oleh Amerika Serikat.
Trump sempat menakut-nakuti bakal menyerang prasarana sipil Iran pekan lalu, tetapi kemudian melunak dengan menyatakan bahwa parameter kesepakatan sudah mulai terbentuk. Ia juga mengaku bersedia melanjutkan pembicaraan atas permintaan negara-negara area seperti Arab Saudi, Emirat Arab, dan Qatar.
Simpang Siur Negosiasi
Meski Trump bersikeras bahwa komunikasi sedang berlangsung, Kementerian Luar Negeri Iran membantah ada negosiasi langsung dengan Washington. Qatar, nan bertindak sebagai mediator, mengonfirmasi bahwa upaya diplomatik terus berjalan, tetapi menyatakan belum ada rencana pertemuan langsung antara pihak Iran dan AS.
Trump menilai persoalan ini tidak terlalu kompleks. Fokus utamanya adalah pembukaan kembali Hormuz nan ditargetkan segera, sementara rumor denuklirisasi Iran diakui bakal menyantap waktu lebih lama.
Di sisi lain, Trump terus menekan melalui blokade pelabuhan. "Tidak ada nan bisa masuk ke Iran selain kami mengizinkannya. Tidak bakal ada nan lolos selain kesepakatan alias penyerahan total tercapai," tegasnya melalui media sosial.
Insiden Kapal Kargo
Di tengah upaya diplomasi, situasi di lapangan tetap berbahaya. Badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, melaporkan satu kapal kargo terkena proyektil tak dikenal di Selat Hormuz lepas pantai Oman pada Selasa pagi. Hingga saat ini, otoritas mengenai tetap menyelidiki tingkat kerusakan dan korban jiwa.
Iran tetap memberlakukan blokade efektif di selat tersebut dan mewajibkan kapal-kapal untuk berkoordinasi dengan mereka serta mengikuti rute nan mendekati pesisir Iran. Hal ini memaksa banyak kapal komersial mengambil rute selatan nan lebih dekat dengan wilayah Oman untuk menghindari risiko.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan pihaknya sedang merundingkan rute baru dengan Muscat. Namun, dia menegaskan bahwa pembicaraan tersebut tidak berangkaian dengan pembukaan kembali Selat Hormuz sesuai tuntutan AS. (AFP/I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·