Ilustrasi: Seorang wanita melangkah melewati graffiti anti-Amerika Serikat di luar gedung jejak Kedutaan Besar AS nan sekarang dijadikan Museum Den of Spies di Teheran, Iran.( ATTA KENARE / AFP)
PEMERINTAH Amerika Serikat mengumumkan peluncuran hukuman ekonomi berjudul Operation Economic Outcast. Langkah keras ini menakut-nakuti bakal memutus akses sistem finansial Dolar AS bagi negara alias entitas mana pun nan tetap menjalin hubungan ekonomi dengan Iran, di tengah upaya Washington mengakhiri kebuntuan militer nan telah berjalan selama enam bulan.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengibaratkan agresi ekonomi ini setara dengan operasi pendaratan D-Day pada Perang Dunia II. "Tujuan kami adalah memutuskan setiap urat nadi ekonomi nan menopang rezim di Teheran sampai mereka betul-betul terisolasi secara global," ujar Bessent pada konvensi pers di Washington.
Target utama dari hukuman sekunder ini mengarah pada ekspor minyak Iran. Meski Washington belum merinci secara definitif apakah hukuman bakal menyasar Tiongkok, pembeli terbesar minyak Iran nan menyerap 80 persen pasokan tahun lalu, Bessent menegaskan tidak ada negara nan kebal dari cakupan hukuman ini.
Respons sigap langsung ditunjukkan oleh Uni Emirat Arab (UEA) nan mengumumkan pembekuan hubungan jual beli dengan Iran. Di sisi lain, Kedutaan Besar Tiongkok di Washington menolak tekanan tersebut dan mendesak dilakukannya perbincangan diplomasi, sementara Turki tetap belum memberikan tanggapan resmi.
Iran Ancam Balasan Militer
Langkah garang AS memicu tanggapan keras dari Teheran. Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, menegaskan pihaknya siap melancarkan pembalasan melalui operasi darat, laut, udara, hingga serangan siber terhadap negara-negara nan mendukung tindakan isolasi AS.
Eskalasi ekonomi ini terjadi setelah operasi militer AS dan Israel pada awal tahun 2026 kandas memaksa Iran menghentikan pengayaan uraniumnya. Kebuntuan tersebut sebelumnya dipicu oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran, nan berujung pada tindakan blokade jawaban oleh AS dan mengguncang pasar daya global.
Meskipun konsentrasi saat ini tertuju pada hukuman finansial, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa opsi militer tetap terbuka lebar. "Kami sama sekali tidak menutup kemungkinan untuk melakukan serangan kinetik susulan di Selat Hormuz maupun di wilayah Iran," pungkas Hegseth.
(Theguardian/P-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·