ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Deputi Gubernur Bank Sentral Vietnam, Pham Thanh Ha, resmi mengumumkan bahwa rentetan akibat dunia saat ini tengah memberikan tekanan berat pada manajemen kebijakan moneter negaranya. Negara pusat manufaktur di Asia Tenggara tersebut menilai eskalasi perang Iran dinilai berpotensi menggagalkan rencana pertumbuhan 10%.
Mengutip laporan Reuters, Kamis (2/07/2026), Pham menjelaskan bahwa mata duit dong Vietnam juga ikut terdepresiasi akibat keperkasaan dolar Amerika Serikat (AS). Guna mengatasi ketidakpastian tersebut, bank sentral sekarang tengah bekerja keras serta bergerak elastis untuk menstabilkan pasar kurs asing demi memastikan seluruh permintaan mata duit asing di dalam perekonomian Vietnam tetap dapat terpenuhi secara penuh.
"Ketegangan geopolitik dan gesekan perdagangan terus berlanjut, sementara eskalasi bentrok di Timur Tengah secara unik telah memberikan tekanan signifikan pada pasar komoditas dan finansial internasional," ungkap Pham dalam sebuah konvensi pers di Hanoi.
Pada kesempatan nan sama, Kepala Departemen Kebijakan Moneter Bank Sentral Vietnam, Pham Chi Quang, menambahkan bahwa Vietnam juga sedang menghadapi draf lonjakan tekanan inflasi nan tinggi. Hal itu akibat keterbukaannya terhadap ekonomi global.
Sebagai parameter kuat, tingkat inflasi tahunan Vietnam dilaporkan telah menembus nomor 5,6% pada bulan Mei. Ini melewati periode pemisah sasaran inflasi tahunan negara nan dipatok di level 4,5%.
Oleh lantaran itu, pihak bank sentral menegaskan bakal menjadikan pengendalian inflasi sebagai prioritas utama di sisa tahun ini demi menjaga stabilitas makroekonomi. Sembari, tetap berupaya mencapai sasaran pertumbuhan nan dicanangkan pemerintah.
(tps/sef)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·