Jakarta, CNBC Indonesia - Bankir senior Rusia Andrei Klepach dipecat dari bank pembangunan milik negara VEB setelah menyampaikan kritik tajam terhadap kondisi ekonomi Rusia di tengah perang Ukraina. Ia memperingatkan Moskow tidak bakal memenangkan perang ekonomi berkepanjangan jika tekanan terhadap negara terus meningkat.
Klepach, nan menjabat sebagai kepala ahli ekonomi VEB sejak 2014, diberhentikan beberapa hari setelah pidatonya kepada sesama ahli ekonomi pada Mei lampau diberitakan media Rusia. Dalam pidato tersebut, dia menyebut Rusia "tertinggal" dari China dan Amerika Serikat, apalagi "dalam beberapa aspek, Ukraina".
Klepach juga memperingatkan tekanan ekonomi akibat perang berpotensi memicu "krisis sosial" nan dapat meledak "saat tidak ada seorang pun nan menduganya". Ia menilai dugaan bahwa ekonomi Ukraina bakal segera runtuh merupakan sebuah ilusi.
"Kita tidak bakal memenangkan persaingan ini dalam perang nan menguras tenaga dan sumber daya melawan Ukraina," ujar Klepach, seperti dikutip The Guardian, Senin (18/8/2026).
Menurut dia, Rusia keliru jika menganggap ekonomi Ukraina bakal segera kolaps lantaran pada kenyataannya "tidak runtuh, dan tidak bakal runtuh", sementara biaya nan kudu ditanggung Moskow terus meningkat.
Pernyataan tersebut menjadi pengakuan langka dari ahli ekonomi senior Rusia mengenai tekanan nan membebani perekonomian negara. Pandangan Klepach juga bertolak belakang dengan klaim Presiden Vladimir Putin bahwa Rusia bisa menghadapi tekanan ekonomi akibat perang dan bahwa kehancuran ekonomi Ukraina hanya tinggal menunggu waktu.
VEB tidak mengungkap argumen resmi pemecatan Klepach. Namun, seorang sumber nan mengenalnya mengatakan kepada Vedomosti bahwa kepergiannya berangkaian dengan "penilaian pribadinya nan keras terhadap perkembangan ekonomi dan politik negara" nan dinilai tidak dapat sejalan dengan posisi perusahaan.
Media independen The Bell juga melaporkan, mengutip sejumlah sumber, bahwa pemecatan tersebut diperintahkan Kremlin dan berangkaian langsung dengan pidatonya pada Mei.
Pemecatan itu terjadi ketika ekonomi Rusia menghadapi tekanan berat akibat shopping perang, hukuman Barat, serta serangan Ukraina terhadap sektor energi. Dalam empat bulan pertama 2026, defisit anggaran Rusia mencapai 5,87 triliun rubel alias sekitar US$81 miliar (Rp1.441,8 triliun), jauh di atas sasaran defisit 3,79 triliun rubel untuk sepanjang tahun.
Mantan penasihat bank sentral Rusia Alexandra Prokopenko menyebut Klepach sebagai salah satu ahli ekonomi makro terbaik Rusia.
"Pemberhentian Klepach kemungkinan besar tidak bakal menunda krisis nan sudah di depan mata," ujar Prokopenko, seraya menilai proyeksi Klepach lebih banyak didasarkan pada kondisi nyata daripada kemauan untuk menyenangkan pemerintah.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

55 menit yang lalu
1








English (US) ·
Indonesian (ID) ·