Begini Strategi Danantara Tekan Ketergantungan Impor

39 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Chief Technology Officer (CTO) Danantara, Sigit Puji Santosa mengatakan, sektor industri di Indonesia tidak kudu selalu melakukan impor. Apalagi jika ada volatilitas, ada currency exchange, serta kondisi dunia nan luar biasa.

"Jadi saya pikir tidak mungkin kita kudu impor terus. Substitusi impor itu bukan berfaedah kita kudu menggeser nan lain, bukan. Tapi kita memastikan bahwa kita bisa mempunyai ketahanan terhadap industri nan kita bangun, apalagi industri pertahanan, dan juga untuk kontinuitas sustainability dari produk dan industri nan kita bangun," ungkap dia dalam Mindialogue 2026: Mineral untuk Stabilitas Ekonomi RI, di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Sigit mencontohkan, di industri pertahanan ada kebutuhan nan luar biasa mengenai dengan isian alias bahan pendorong amunisi, di mana jumlah produsennya cukup terbatas, dan andaikan ada permintaan besar, pasokannya baru bisa dipenuhi beberapa tahun kemudian.

"Tapi Alhamdulillah kita lakukan R&D berbareng pemerintah, berbareng mitra, kita lakukan sertifikasi, NATO standar sudah terpenuhi, dan nan paling krusial adalah materialnya semuanya dari Indonesia, 100%. Jadi begitu kita bisa, sekarang kita lagi scaling up dari 10 ton menjadi 70 ton menjadi 1.000 ton. Kalau 1.000 ton kita sudah bisa fulfill untuk nan isian tadi, kita bisa mengerti bisa ekspor kelak jika pada saat kita memerlukan sampai ke 2.300 ton," rinci Sigit.

Oleh lantaran itu, Sigit menegaskan, bahwa mengurangi ketergantungan impor sangat mungkin, misalnya nan bisa dilakukan adalah Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia melakukan kerja sama dengan sumber-sumber terbaik. Dia memastikan untuk perihal ini pemerintah sangat mendukung.

Sebelumnya, SIgit juga membujuk masyarakat Indonesia untuk berterima kasih lantaran mempunyai kekayaan alam nan luar biasa. Sehingga sangat krusial agar Indonesia bisa mengelola sumber kekayaan alam tersebut dan memberikan nilai tambah nan lebih optimal, di mana salah satunya dilakukan lewat hilirisasi.

Danantara sendiri, lanjutnya, mempunyai strategi garang dalam mendorong hilirisasi bisa melangkah dengan baik. Salah satunya dengan melakukan proses integrasi secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Langkah ini sangat krusial agar produksi hingga pengedaran tidak terputus.

"Selama ini tahun 70-an, 80-an kita untuk mineral lebih banyak ekstraktif industri activity. Kita di sisi hilir hanya posisi di mana produksi dan industri untuk assembly missing link ada di tengah. Jadi Danantara dalam rangka bangun indusri berkepanjangan maka kita bakal membangun indusrtri berkepanjangan dari mulai hulu upstream sampai ke downstream," terangnya.

Seperti diketahui, tantangan nan cukup besar selama ini dalam pemanfaatan sumber daya alam lebih banyak menyorot ke arah industri ekstraktif. Mengingat teknologi dan sumber daya manusia belum mumpuni. Selain itu, investasi nan dibutuhkan juga tidak sedikit. Beruntung saat ini Indonesia telah mempunyai Danantara. Kebutuhan investasi nan besar dalam mendorong program hilirisasi bisa dipenuhi.

"Jadi tantangan invest its not a problem anymore," tandasnya. 

(Teti Purwanti/bul) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya