Belanja Pakai QRIS Kena Biaya Tambahan? Ini Penjelasan Bank Indonesia Sulteng

1 jam yang lalu 2
Belanja Pakai QRIS Kena Biaya Tambahan? Ini Penjelasan Bank Indonesia Sulteng Analis Junior KPwBI Sulawesi Tengah, Bintang Samudera.(MI/M Taufan SP Bustan)

KANTOR Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sulawesi Tengah terus mendorong percepatan digitalisasi sistem pembayaran. Pihaknya mengandalkan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) untuk meningkatkan daya saing UMKM. Analis Junior KPwBI Sulawesi Tengah, Bintang Samudera, menyampaikan perihal ini dalam aktivitas Capacity Building Media Mitra di Ampana, Kabupaten Tojo Unauna, Senin (3/8).

Bintang meluruskan kekeliruan masyarakat mengenai biaya transaksi QRIS. Ia menegaskan Bank Indonesia tidak membebankan biaya tambahan kepada konsumen. Biaya transaksi berupa Merchant Discount Rate (MDR) hanya bertindak bagi merchant dengan tarif sangat murah. 

Sektor rumah ibadah dan support sosial menikmati tarif MDR 0%. Sementara itu, sektor komersial hanya bayar tarif sekitar 0,7%. Angka ini jauh lebih murah daripada kartu pembayaran internasional nan mencapai tiga hingga empat kali lipat.

“QRIS memberi efisiensi biaya bagi pelaku usaha. Sistem ini sekaligus memperkuat pembayaran nasional melalui Gerbang Pembayaran Nasional (GPN),” ujar Bintang.

Bintang menilai transaksi nontunai menjadi nilai tambah bagi UMKM. Konsumen condong memilih toko nan menyediakan QRIS. Kondisi ini berpotensi meningkatkan omzet penjualan pelaku usaha.

Selain memudahkan pembayaran, QRIS membantu pengelolaan finansial usaha. Seluruh transaksi langsung masuk ke rekening pemilik. Sistem ini meminimalkan akibat kebocoran biaya maupun penggelapan duit tunai. Bintang menceritakan pengalaman pribadinya saat mengelola upaya secara tunai. Karyawannya sempat menggelapkan biaya usaha.

Setelah memakai QRIS, seluruh transaksi menjadi transparan dan mudah terpantau. Pencatatan transaksi digital juga membantu UMKM membangun rekam jejak keuangan. Bank dapat menilai kesehatan upaya secara jeli melalui riwayat transaksi QRIS. Hal ini memudahkan UMKM mengakses pembiayaan perbankan.

Data BI menunjukkan pengguna QRIS di Sulawesi Tengah tumbuh 27% hingga pertengahan 2026. Angka ini meningkat signifikan dibanding tahun 2025. Namun, BI mencatat tiga wilayah dengan mengambil QRIS terendah. Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Tojo Una-Una, Banggai Kepulauan, dan Buol. Keterbatasan jaringan telekomunikasi menjadi hambatan utama di wilayah tersebut.

Oleh lantaran itu, BI mendorong kerjasama dengan penyedia jasa telekomunikasi. Pihaknya mau memperkuat prasarana jaringan agar masyarakat mudah mengakses pembayaran digital. Bintang juga mengingatkan bahwa QRIS mengusung prinsip CEMUMUAH (Cepat, Mudah, Murah, Aman, dan Handal).

Sistem ini terintegrasi dengan BI-FAST nan beraksi 24 jam nonstop. Melalui ekspansi QRIS, BI berambisi UMKM di Sulawesi Tengah semakin profesional. Pelaku upaya dapat memperluas pasar, merapikan pembukuan, dan memperoleh akses permodalan dengan lebih mudah. (TB/E-4)

Selengkapnya