Bertahan dengan Air Hujan, Pengungsi Gempa di Mekandetung Menanti Air Bersih

1 jam yang lalu 3
Bertahan dengan Air Hujan, Pengungsi Gempa di Mekandetung Menanti Air Bersih Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma berbincang dengan pengungsi korban gempa bumi di.Desa Mekandetung, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Minggu (23/8/2026).(Dok Humas Pemprov NTT)

BAGI penduduk nan mengungsi di Desa Mekandetung, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, air hujan bukan lagi sekadar berkah. Air dari langit menjadi persediaan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari setelah gempa bumi bermagnitudo 7,7 pada Sabtu (15/8).

Namun, ketika hujan berakhir dan persediaan mulai habis, penduduk kembali berjuntai pada pasokan mobil tangki. “Kami di sini menggunakan air hujan. Kalau air hujan sudah habis, kami menggunakan air dari tangki. Kami sangat memerlukan air, apalagi kami tinggal di bukit,” ungkap Kristina Potut, penduduk nan tinggal di tenda pengungsian.

Kebutuhan air bersih itu disampaikan penduduk saat Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma menemui mereka di letak pengungsian, Minggu (23/8).

Bagi penduduk setempat, persoalan air bersih terasa lebih berat lantaran aktivitas sehari-hari sekarang berjalan di tenda pengungsian. Air dibutuhkan untuk minum, memasak, membersihkan diri, serta memenuhi kebutuhan family nan di dalamnya terdapat bayi, lansia, dan penduduk penyandang disabilitas.

Desa Mekandetung mempunyai 17 titik pengungsian nan menampung 495 kepala family alias lebih dari 900 jiwa. Khusus di Dusun Kangae terdapat tiga titik pengungsian dengan 29 kepala family alias 79 jiwa. Di antaranya terdapat satu bayi, 10 lansia, serta penduduk penyandang disabilitas.

Keluhan mengenai kebutuhan air bersih langsung mendapat respons dari Johni. Pemerintah bakal mengirimkan pasokan air menggunakan mobil tangki ke titik-titik pengungsian nan membutuhkan. “Kita bakal kirimkan dua tangki air untuk masing-masing titik nan membutuhkan,” tegas Johni.

Johni juga meminta pemerintah kecamatan dan desa terus mendata kebutuhan penduduk agar support nan disalurkan sesuai dengan kondisi di masing-masing letak pengungsian.

Selain air bersih, penduduk menyampaikan persediaan makanan mulai menipis. Mereka juga tetap menghadapi rasa takut dan trauma setelah gempa.

Hidup Berubah di Balik Tenda

Gempa mengubah aktivitas penduduk Mekandetung. Rumah nan sebelumnya menjadi tempat berlindung sekarang tidak semuanya dapat digunakan. Warga memilih memperkuat di tenda pengungsian.

Sekretaris Camat Kangae, Cristiniati Baga, mengatakan sejumlah desa di wilayah Kecamatan Kangae terdampak cukup parah, baik pada rumah penduduk maupun akomodasi umum.

“Kami mengucapkan terima kasih lantaran Bapak Wakil Gubernur sudah datang mengunjungi kami. Di Kecamatan Kangae ada tiga sampai empat desa nan terdampak cukup parah, baik rumah penduduk maupun akomodasi umum,” jelasnya.

Sejumlah akomodasi pendidikan ikut rusak, termasuk dua sekolah dan satu PAUD. Sejumlah ruas jalan juga mengalami keretakan hingga terbelah.

Meski tidak terdapat korban meninggal bumi di wilayah tersebut, sejumlah penduduk mengalami luka akibat tertimpa reruntuhan. “Untuk saat ini aktivitas masyarakat terpusat di tenda pengungsian,” tambah Cristiniati.

Di tengah kondisi tersebut, akomodasi kesehatan juga terdampak. Poskesdes Mekandetung mengalami rusak berat. Puskesmas Waepare kemudian menyampaikan kebutuhan tenda agar tenaga kesehatan tetap dapat memberikan pelayanan kepada warga.

Akses Masih Menjadi Kendala

Bantuan kebutuhan pokok sebelumnya telah diterima masyarakat Desa Mekandetung, antara lain berupa sembako dan selimut.

Namun, pengedaran support ke sejumlah wilayah terdampak tetap menghadapi hambatan akses. Kerusakan prasarana membikin mobilitas support melangkah lebih lambat, terutama menuju wilayah-wilayah terpencil.

Johni mencontohkan kondisi Pulau Palue nan tetap menghadapi keterbatasan akses kendaraan. “Di Palue belum bisa dilewati mobil dan kendaraan lainnya tetap terbatas. Relawan untuk mengangkut peralatan juga tidak banyak. Jadi bukan berfaedah support tidak ada, tetapi mobilitasnya tetap lambat,” jelasnya.

Karena itu, Johni meminta masyarakat bersabar lantaran tetap banyak penduduk di desa terpencil nan belum terjangkau akibat kerusakan jalan. “Saya minta semua penduduk bersabar. Saya berambisi support nan datang tidak berlebihan dan tidak kekurangan, lantaran tetap banyak masyarakat nan belum terjangkau. Masih banyak desa terpencil dengan akses jalan nan rusak parah dan apalagi terbelah akibat gempa ini,” katanya.

Di Mekandetung, persoalan itu bermuara pada kebutuhan nan paling dasar, ialah air. Ketika hujan turun, penduduk menampung air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika persediaan habis, mereka menunggu pasokan dari mobil tangki.

Dua tangki air nan dijanjikan pemerintah diharapkan dapat mengurangi beban penduduk nan tetap memperkuat di pengungsian. Sebab, selama kehidupan belum sepenuhnya kembali normal, air bersih menjadi kebutuhan nan tidak bisa ditunda. (PO/E-4)

Selengkapnya