Kepala BGN Sudaryono.(Dok. Antara)
KEPALA Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengambil langkah tegas dengan menutup permanen sekitar 1.300 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) nan dinilai bermasalah. Keputusan ini diambil setelah dilakukan pertimbangan menyeluruh terhadap standar keamanan dan kualitas layanan, menyusul adanya kejadian keracunan makanan di Berastagi.
Sudaryono merinci bahwa dalam tiga pekan masa jabatannya, sebanyak 800 dapur telah ditutup pada tahap awal, disusul 500 unit lainnya berasas pertimbangan terbaru. Langkah ini bermaksud memastikan keselamatan penerima manfaat, terutama anak-anak, agar terhindar dari akibat kesehatan akibat konsumsi makanan nan tidak layak.
"Manakala tidak memenuhi standar di sistem saya, maka dengan berat hati kudu saya tutup permanen," tegas Sudaryono di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (17/8).
Untuk memperketat pengawasan, BGN tengah mempertimbangkan penggunaan test kit kimia di setiap dapur SPPG. Alat ini berfaedah mendeteksi kandungan rawan seperti arsen alias kondisi makanan lama nan tidak bisa terdeteksi hanya melalui metode organoleptik (melihat, mencium, dan mencicipi).
Sudaryono mencontohkan keberhasilan SPPG nan dikelola Bhayangkari Polri nan telah menerapkan test kit dan terbukti nihil kasus keracunan. Meski demikian, dia menekankan bahwa dari total 27 ribu dapur nan beroperasi, sebagian besar telah menjalankan jasa dengan standar nan baik.
Selain penutupan unit, BGN juga bakal menindak personel, termasuk ASN PPPK, nan tidak bisa mengikuti standar kerja nan ditetapkan. Sementara itu, mengenai kebijakan insentif sebesar Rp6 juta per hari bagi SPPG, Sudaryono menyatakan perihal tersebut tetap dalam tahap pertimbangan lebih lanjut.
Penindakan tegas ini, menurut Sudaryono, merupakan corak perlindungan bagi mitra SPPG lain nan telah bekerja sesuai ketentuan sekaligus menjaga integritas program pemenuhan gizi nasional. (Z-10)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·