BI: Prospek Ekonomi Global 2026 masih Lemah, Ketidakpastian Pasar Keuangan Tinggi

58 menit yang lalu 2
 Prospek Ekonomi Global 2026 tetap Lemah, Ketidakpastian Pasar Keuangan Tinggi Ilustrasi(Antara)

BANK Indonesia (BI) menilai prospek perekonomian dunia pada 2026 tetap menghadapi tekanan. Pertumbuhan ekonomi bumi diperkirakan belum kuat, sementara ketidakpastian di pasar finansial dunia tetap berada pada level tinggi.

Pejabat Gubernur Sementara BI Destry Damayanti mengatakan kondisi tersebut antara lain dipengaruhi oleh eskalasi perang di Timur Tengah nan kembali mendorong kenaikan nilai minyak dan sejumlah komoditas global.

“Pertumbuhan ekonomi bumi 2026 belum kuat, nan diperkirakan sekitar 3%,” kata Destry dalam konvensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Agustus 2026 di Jakarta, Rabu (19/8).

Menurut Destry, tekanan inflasi dunia juga tetap tinggi dan diproyeksikan mencapai sekitar 4,5% pada 2026. Kondisi itu berpotensi membikin bank sentral di beragam negara mempertahankan alias memperketat kebijakan moneternya.

Salah satu nan menjadi perhatian adalah kebijakan suku kembang Amerika Serikat (AS). BI memperkirakan suku kembang referensi AS alias Fed Funds Rate berpotensi meningkat pada triwulan IV 2026.

Pada saat nan sama, imbal hasil alias yield US Treasury diperkirakan tetap tinggi. Pergerakan tersebut didorong oleh meningkatnya ekspektasi terhadap kenaikan Fed Funds Rate serta kondisi defisit anggaran AS nan tetap lebar.

Destry menjelaskan ketidakpastian pasar finansial bumi nan bersambung turut menahan minat penanammodal dunia untuk menempatkan biaya pada instrumen portofolio di negara-negara emerging market.

Situasi tersebut juga membikin indeks dolar AS tetap kuat, baik terhadap mata duit negara maju nan tercermin dalam DXY maupun terhadap mata duit negara berkembang melalui indeks ADXY.

Menghadapi kondisi eksternal tersebut, BI menilai diperlukan penguatan koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter. Sinergi tersebut krusial untuk meningkatkan ketahanan eksternal, mempertahankan stabilitas ekonomi, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Ekonomi Indonesia Tetap Tumbuh

Di tengah tekanan ekonomi global, keahlian perekonomian domestik Indonesia dinilai tetap terjaga. BI memandang momentum pertumbuhan perlu terus diperkuat agar ekspansi ekonomi nasional tetap berlanjut.

Ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29% secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut melanjutkan pertumbuhan pada triwulan I 2026 nan mencapai 5,61% yoy.

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 terutama mendapat support dari stimulus fiskal pemerintah. Kebijakan tersebut mendorong peningkatan konsumsi pemerintah dan investasi.

Konsumsi pemerintah tercatat tetap tumbuh tinggi, antara lain ditopang peningkatan shopping pegawai, termasuk pembayaran penghasilan ke-13. Belanja peralatan dan jasa nan berangkaian dengan penyelenggaraan program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga turut memberikan kontribusi.

Sementara itu, konsumsi rumah tangga tetap menunjukkan keahlian positif. BI menilai komponen tersebut perlu terus diperkuat, terutama dengan memanfaatkan momentum stimulus fiskal pemerintah.

Kinerja ekspor juga menjadi salah satu sektor nan perlu ditingkatkan. Penguatan ekspor dinilai krusial untuk membikin struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia semakin kokoh.

“Ke depan, pertumbuhan ekonomi diperkirakan bakal tetap baik ditopang oleh penerapan beragam program stimulus pemerintah dan kepercayaan pelaku ekonomi nan terjaga,” kata Destry.

BI menyatakan bakal melanjutkan penguatan bauran kebijakan melalui instrumen moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran. Kebijakan tersebut bakal terus disinergikan dengan langkah pemerintah untuk menjaga stabilitas sekaligus memperkuat pertumbuhan ekonomi.

“Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia 2026 berada dalam kisaran 4,9 hingga 5,7%,” kata Destry. (Ant/E-4)

Selengkapnya