BKPM Beberkan Strategi Tarik Investasi Proyek Hilirisasi Strategis

55 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) membeberkan langkah pemerintah menggaet investasi, khususnya di sektor hilirisasi sampai pada industrialisasi.

Hal itu juga untuk memastikan program hilirisasi tidak hanya berakhir pada produk mentah, melainkan bersambung hingga menciptakan nilai tambah nan maksimal di dalam negeri.

"Para pelaku usaha, penanammodal tidak bakal membangun industri jika tidak ada kepastian alias sustainability dari bahan bakunya. Oleh lantaran itu kita buatlah satu kita identifikasi info mana persediaan kita nan memang kita itu terbesar bumi alias paling tidak kita memang lebih unggul dari negara-negara pesaing kita," kata Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis BKPM Heldy Satrya Putera dalam aktivitas Mindialogue 2026, di Jakarta, dikutip Kamis (13/8/2026).

Sejauh ini, pemerintah telah memetakan 28 komoditas prioritas dari sektor mineral, perkebunan, hingga kelautan nan mempunyai potensi persediaan terbesar di dunia. Pemilihan komoditas tersebut didasarkan pada kelebihan komparatif Indonesia dibandingkan negara lain.

"Apa nan kita lakukan agar penanammodal mau datang? Pertama kami mengidentifikasi lagi siapa champion investor-investor nan memang mereka punya teknologi terbaik untuk bisa mengolah sumber daya alam kita. Itu kita petakan," jelas Heldy.

Selain agunan bahan baku dan teknologi, pemerintah menawarkan beragam akomodasi insentif fiskal untuk menarik minat pemodal asing maupun domestik masuk ke sektor hilir. Adapun, masalah kesiapan sumber daya manusia juga diantisipasi melalui program vokasi unik nan didukung oleh insentif pajak bagi perusahaan nan melatih tenaga kerja lokal.

"Kita sorong dengan paket vokasional insentif juga. Kita berikan 20% dari total biaya nan mereka keluarkan untuk mendidik. Ya, sehingga mereka bisa mendapatkan insentif," tambahnya.

Pihaknya saat ini mulai memperluas konsentrasi hilirisasi ke beragam komoditas seperti bauksit, tembaga, hingga emas guna membangun ekosistem industri nan terintegrasi. Penyesuaian izin juga dilakukan secara bergerak agar investasi nan masuk tidak menumpuk di tahap pengolahan awal saja, melainkan bersambung ke produk akhir.

"Tetapi jika kepastian selalu kita berupaya dan selalu kita juga memandang gimana negara-negara pesaing itu mereka memberikan kebijakan-kebijakan jika ada nan lebih baik, nah kita lihat bagaimana. Jadi perubahannya lantaran itu," tandasnya.

(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya