BKSDA Sulteng Pantau Kesehatan Satwa Langka Endemik Burung Maleo

1 jam yang lalu 4
BKSDA Sulteng Pantau Kesehatan Satwa Langka Endemik Burung Maleo Secara rutin, BKSDA Sulteng memeriksa dan mendata kondisi kesehatan burung maleo nan ditangkarkan DSLNG.(Dok. PT Donggi Senoro LNG)

TIM Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Tengah melaksanakan pemeriksaan kesehatan satwa endemik maleo (Macrocephalon maleo) di akomodasi Pusat Konservasi Maleo Eksitu PT Donggi Senoro LNG (DSLNG) pada Selasa (28/7). Ini merupakan pemeriksaan kesehatan berkala untuk burung endemik Sulawesi nan terancam punah.

Menurut drh. Anang sebagai Medic Veteriner dari BKSDA Sulteng nan memimpin tim pemeriksaan, aktivitas dilakukan dengan pemeriksaan rutin dan pendataan kondisi kesehatan untuk burung maleo nan ditangkarkan DSLNG. 

Dari hasil pemeriksaan ini menunjukkan secara umum kondisi 21 ekor burung maleo di setiap kandang sehat. Dengan dua ekor di antaranya sedang mengalami diare dan telah diberikan langkah penanganan nan diperlukan. Adapun pemeriksaan meliputi pemeriksaan bentuk meliputi mulut dan paruh, berat badan, serta suhu tubuh, dan beberapa aspek lainnya untuk memastikan tidak ada penyakit nan dialami maleo. Jika ditemukan penyakit maka bakal dilakukan penanganan segera.

"Kami melakukan pemeriksaan meliputi pemeriksaan suhu, terus kemudian pemeriksaan kloaka alias anus, kemudian melakukan pemeriksaan mulut untuk memastikan ada alias tidaknya kandidiasis alias jamur pada mulut," ujar Anang dalam keterangannya. 

Kemudian pemeriksaan juga dilakukan terhadap parasit nan berada pada kulit. Secara umum kondisi satwa dalam keadaan sehat, hanya ditemukan dua nan diare dan telah dilakukan tindakan.

Sementara itu Corporate Communication Manager DSLNG Adhika Paramanandana menyebutkan, sejak diresmikan pada 5 Juni 2013, akomodasi konservasi eksitu maleo ini telah sukses melepasliarkan 127 anakan maleo ke habitatnya di Suaka Margasatwa Bakiriang, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. 

Fasilitas ini berdiri di area Kilang DSLNG dan tercatat sebagai akomodasi konservasi maleo pertama di luar habitatnya (eksitu). Fasilitas ini juga telah menjadi nan pertama sukses menetaskan generasi Fillial 1 di inkubator dari indukan maleo di kandang penangkaran.

"Konservasi maleo eksitu ini adalah upaya nyata kami dari DSLNG dalam upaya meningkatkan populasi maleo nan terancam di alam liar. Upaya ini adalah salah satu bentuk nyata komitmen kami terhadap pelestarian lingkungan hidup," sebutnya. (E-1)

Selengkapnya