BMKG Tetapkan Status Awas Kekeringan Meteorologis di Seluruh DIY

1 jam yang lalu 2
BMKG Tetapkan Status Awas Kekeringan Meteorologis di Seluruh DIY Ilustrasi(Antara)

BADAN Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi D.I. Yogyakarta mengeluarkan peringatan awal kekeringan meteorologis dengan Status Awas untuk seluruh wilayah D.I. Yogyakarta pada dasarian II Agustus 2026. Indeks El Nino Southern Oscillation (ENSO) berada kondisi sangat kuat, kondisi tersebut berkesempatan terjadi sampai dengan Desember 2026.

Dalam siaran pers, Kepala Stasiun Klimatologi D.I. Yogyakarta, Dr. Mamenun, S.Si., M.Si., mengungkapkan, berasas kajian per 10 Agustus 2026, intensitas curah hujan di wilayah DIY diperkirakan berada pada kriteria sangat rendah (0–10 mm per dasarian) dengan sifat hujan secara umum Bawah Normal (BN) hingga November 2026. 

Agustus 2026 menjadi puncak musim kemarau. Durasi musim tandus berkisar antara 16 dan 21 dasarian. "Peringatan Dini Kekeringan Meteorologis Dasarian II Agustus 2026 seluruh wilayah D.I Yogyakarta dalam status Awas," terang dia.

Mamenun mengimbau pemerintah wilayah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi akibat kekeringan nan lebih ekstrem dibandingkan rata-rata tahunan.

"Kami mengimbau pemerintah daerah, lembaga terkait, dan masyarakat untuk lebih siap dan antisipatif terhadap akibat musim kemarau, terutama di wilayah nan rentan terhadap musibah kekeringan meteorologis, seperti kebakaran rimba dan lahan serta berkurangnya kesiapan air bersih," tegas Mamenun dalam keterangan resminya.

Ia menambahkan kejadian El Niño nan sangat kuat ini berakibat langsung pada pengurangan curah hujan serta perpanjangan periode musim tandus di DIY.

"Sehubungan dengan status hati-hati kekeringan di seluruh wilayah D.I. Yogyakarta, masyarakat dan pemangku kepentingan diharapkan dapat mengantisipasi kondisi tersebut melalui pengelolaan sumber daya air secara efisien dan penyesuaian aktivitas sesuai kondisi wilayah. Kondisi musim tandus diprediksi lebih kering dibandingkan rata-rata klimatologisnya," lanjutnya.

Sementara itu, Balai Taman Nasional Gunung Merapi menyampaikan, sekitar 13,6 hektare area terdampak kebakaran pada 9 Agustus di wilayah RPTN Srumbung, Taman Nasional Gunung Merapi. Angin nan cukup kencang membikin api sigap membesar, membakar rumput, alang-alang, semak belukar, serta beberapa vegetasi lainnya. 

Tim campuran Balai TNGM berbareng Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, Polsek dan Koramil Srumbung sukses memadamkan api pada pukul 18.45 WIB.

Dugaan sementara, kebakaran berangkaian dengan aktivitas pembukaan area untuk tambang manual. Monitoring dan pengumpulan info lebih lanjut bakal dilakukan untuk memastikan kondisi kawasan. (Z-2)

Selengkapnya