Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan potensi lonjakan konsumsi listrik nasional seiring kejadian El Nino nan diperkirakan berjalan hingga awal 2027. Kondisi cuaca nan lebih panas saat musim tandus diproyeksikan mendorong penggunaan pendingin ruangan secara masif, sementara di sisi lain pembangkit listrik tenaga air (PLTA) menghadapi ancaman berkurangnya debit air.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan info prakiraan curah hujan menjadi aspek krusial bagi pengelola PLTA untuk mengatur pemanfaatan persediaan air selama periode kemarau.
"Informasi mengenai curah hujan sangat krusial untuk menentukan rencana penggunaan air di PLTA-PLTA. Biasanya cuaca panas itu memicu lonjakan konsumsi energi, sehingga info suasana ini sangat digunakan untuk menentukan langkah-langkah antisipasinya," kata Ardhasena dalam konvensi pers dikutip Jumat, (31/7/2026).
Kenaikan suhu udara selama musim tandus bakal meningkatkan beban puncak listrik lantaran penggunaan perangkat pendingin ruangan oleh masyarakat semakin tinggi. Pada saat bersamaan, keahlian PLTA menghasilkan listrik berpotensi menurun andaikan permukaan air waduk dan waduk terus berkurang.
BMKG meminta Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), PT PLN (Persero), hingga pengelola waduk menjadikan pembaruan info suasana sebagai dasar dalam mengatur operasi turbin dan alokasi air agar pasokan listrik tetap terjaga selama musim kemarau.
"Manajemen alokasi air nan presisi dinilai menjadi kunci utama agar suplai listrik dari PLTA tetap stabil hingga melewati periode puncak kemarau," katanya.
Langkah antisipasi sejak awal bakal membantu menjaga keandalan sistem kelistrikan nasional meski menghadapi tekanan cuaca panas akibat El Nino.
Di sisi lain, BMKG juga memperbarui proyeksi perkembangan El Nino. Fenomena tersebut diperkirakan tetap memperkuat hingga awal kuartal pertama 2027 dengan kesempatan berkembang melampaui kategori kuat. Berdasarkan kajian BMKG, indeks El Nino diproyeksikan mencapai puncaknya pada Desember 2026 hingga Januari 2027 sehingga potensi dampaknya terhadap suasana nasional perlu terus diwaspadai.
Pemantauan hingga dasarian terakhir Juli 2026 menunjukkan musim tandus semakin menguat. BMKG mencatat sebanyak 509 Zona Musim alias sekitar 54,5% wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau, sedangkan wilayah nan tetap mengalami musim hujan tersisa 77 Zona Musim.
Wilayah selatan khatulistiwa seperti Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan Timur, sebagian besar Sulawesi, Maluku, hingga sebagian Papua sekarang didominasi kondisi kering dengan tingkat Hari Tanpa Hujan (HTH) nan bervariasi, mulai dari kategori 21 hari hingga lebih dari 60 hari tanpa hujan.
"Kondisi tersebut sesuai pola klimatologis Indonesia, dimana musim tandus umumnya bermulai dari Nusa Tenggara Timur, kemudian bergerak secara berjenjang ke arah barat," ujar Ardhasena.
(hoi/hoi)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·