Bocor! Iran Diam-diam Siapkan Perang Lebih Besar Lawan AS

56 menit yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Di kembali nota kesepahaman (MoU) nan diteken Presiden AS Donald Trump dengan Iran pada 17 Juni lalu, para pemimpin garis keras Iran rupanya menyiapkan skenario berbeda. Alih-alih meletakkan kepercayaan pada perundingan damai, mereka disebut menghabiskan dua bulan terakhir untuk mempersiapkan konfrontasi nan lebih besar dengan Amerika Serikat dan sekutunya di kawasan.

Berdasarkan laporan The Wall Street Journal nan mengutip komunikasi intelijen nan sukses disadap serta sumber pejabat Iran dan Arab, Minggu (17/8/2026), para elite garis keras Teheran meyakini kesepakatan tersebut hanyalah strategi AS dan Israel untuk meredakan tekanan terhadap ekonomi dunia sembari membeli waktu untuk serangan lebih besar di kemudian hari.

Sejumlah langkah persiapan telah dilakukan Iran, mulai dari memperkuat kendali Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) atas angkatan bersenjata reguler, menempatkan veteran perang Iran-Irak di posisi-posisi kunci, memperluas operasi kontra-intelijen domestik, hingga menggenjot produksi rudal dan drone. Pemerintah Iran juga dilaporkan mengintensifkan koordinasi dengan milisi sekutu di Yaman dan Irak untuk memperluas medan konflik.

"Ada pandangan luas di Iran bahwa perang sesungguhnya belum betul-betul dimulai," kata Mohammad Hassan Sangtarash, analis pertahanan asal Teheran nan dekat dengan pemerintah Iran. Ia menyebut strategi Iran mengikuti pola "salami-slicing", ialah eskalasi berjenjang dan terukur untuk melemahkan musuh sebelum konfrontasi besar-besaran terjadi.

Kesenjangan persepsi antara Washington dan Teheran ini disebut menjadi biang keladi macetnya negosiasi damai. Trump apalagi berulang kali menyebut para pemimpin Iran "gila" dan menuduh mereka berbohong, di tengah rangkaian serangan nan justru meningkat pascapenandatanganan MoU, termasuk penembakan kapal-kapal di Selat Hormuz dan ekspansi bentrok ke Laut Merah.

Padahal, kesepakatan nan diteken di Istana Versailles, Prancis itu menjanjikan keringanan hukuman bagi Iran untuk kembali menjual minyaknya, akses ke miliaran dolar biaya nan dibekukan, hingga potensi biaya rekonstruksi senilai US$300 miliar. Sebagai gantinya, Iran wajib membuka kembali Selat Hormuz untuk lampau lintas kapal dan berkompromi secara serius soal program nuklirnya.

Namun kenyataannya, IRGC disebut memanfaatkan masa tenang pascakesepakatan untuk mengirim penasihat militer ke Irak, Yaman, dan Lebanon guna menyusun rencana serangan lanjutan, komplit dengan pengiriman rudal, senjata laut, dan peluncur drone ke area Laut Merah. Hasilnya, milisi Houthi di Yaman kembali menyerang kapal-kapal Arab Saudi dan menutup akses Selat Bab al-Mandeb, sementara milisi di Irak dilaporkan menyerang akomodasi minyak Saudi menggunakan drone.

Iran juga meningkatkan serangan terhadap pasukan AS, termasuk menembakkan lima rudal balistik ke Yordania nan menewaskan sejumlah tentara Amerika. Di dalam negeri, Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Khamenei melakukan reshuffle besar-besaran di tubuh militer dan abdi negara keamanan, menunjuk sejumlah loyalis untuk memperketat rantai komando serta mendorong pendekatan nan lebih ofensif terhadap negara-negara Teluk nan menjadi pedoman militer AS.

Para pejabat Teluk, termasuk Kuwait, semakin waswas usai kejadian penyelundupan enam personel IRGC ke sebuah pulau Kuwait pada awal Mei. IRGC apalagi disebut telah menyusun rencana eskalasi lanjutan, mulai dari sabotase kabel internet bawah laut di Teluk Persia, memicu kerusuhan politik di negara berpenduduk Syiah seperti Kuwait dan Bahrain, hingga opsi operasi darat ke wilayah Kuwait.

Dengan perundingan nan kembali menemui jalan buntu dan Iran nan tak kunjung mundur dari sikap eskalatifnya, Trump dilaporkan memilih menahan diri sembari menunggu pengaruh tekanan ekonomi dan blokade Angkatan Laut AS melemahkan posisi Teheran. Namun para penasihat dekat perunding utama Iran memperingatkan bahwa perundingan tenteram saat ini mungkin hanya jarak sementara sebelum bentrok nan lebih besar pecah. "Bangsa Iran tetap punya banyak urusan nan belum selesai dengan Trump. Iran siap menghadapi konfrontasi besar," kata Mehdi Mohammadi, penasihat strategis perunding utama Iran.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya