Boikot Piala Dunia! UEFA dan Concacaf Tolak Rencana Penjualan Saham FIFA

9 jam yang lalu 5
Boikot Piala Dunia! UEFA dan Concacaf Tolak Rencana Penjualan Saham FIFA UEFA dan Concacaf berasosiasi menolak rencana Gianni Infantino menjual saham kejuaraan FIFA ke penanammodal swasta. Sanksi boikot Piala Dunia membayang.(FIFA)

SEPAK bola bumi kembali diguncang krisis besar. Sebanyak 55 asosiasi personil UEFA secara bulat memilih untuk memboikot Piala Dunia jika Badan Sepak Bola Dunia (FIFA) melanjutkan rencana penjualan saham kejuaraan kepada penanammodal swasta.

Langkah tegas ini diambil dalam rapat darurat nan digelar untuk merespons usulan Presiden FIFA, Gianni Infantino. Sikap serupa ditunjukkan Concacaf (Amerika Utara, Tengah, dan Karibia) nan menyatakan 41 anggotanya juga resmi menolak proposal tersebut.

Dalam wacananya, FIFA berencana membentuk anak perusahaan baru berjulukan Fifa Forward Enterprise (FFE) untuk mengelola ajang-ajang utamanya, termasuk Piala Dunia. Investor luar, nan kabarnya dipimpin oleh firma modal ventura AS Thrive Eternal, diizinkan membeli saham minoritas di FFE.

Infantino memerlukan 106 bunyi dari total 211 personil FIFA agar rencana ini lolos. Namun, penolakan campuran 96 asosiasi dari UEFA dan Concacaf membikin rencana tersebut terancam gagal. Meski Infantino menjanjikan biaya hingga USD 40 juta (sekitar Rp650 miliar) bagi asosiasi nan mendukung, gelombang perlawanan tetap tak terbendung.

Sepak Bola Bukan Produk Investasi

Melalui pernyataan resminya, UEFA menegaskan bahwa warisan sejarah sepak bola tidak boleh diperjualbelikan demi untung finansial semata.

"Piala Dunia tidak bisa diperlakukan sebagai produk investasi," tegas UEFA. "Ini adalah salah satu warisan olahraga terbesar dalam sepak bola nan dibangun selama bertanding-tanding generasi oleh para pemain, tim nasional, dan pendukung di setiap benua. Tidak ada bagian darinya nan boleh diserahkan kepada penanammodal swasta. Piala Dunia tidak untuk dijual."

UEFA menilai langkah FIFA nan merancang skema ini secara rahasia tanpa konsultasi berarti sebagai corak kegagalan kepemimpinan nan nyata.

"Ini bukan sekadar kegagalan kepemimpinan nan mendalam, melainkan pengabaian tugas FIFA sebagai pengawal sepak bola dunia," lanjut UEFA. "Ini bukanlah 'keputusan demokratis', melainkan tata kelola melalui intimidasi, sebuah tindakan pemaksaan nan tidak layak dilakukan oleh lembaga nan dipercayakan untuk mengelola permainan dunia ini."

Wakil Presiden UEFA, Laura McAllister, turut menyuarakan keprihatinannya atas ancaman nan dinilainya banget krusial bagi masa depan olahraga ini.

"Kenyataannya, kita tidak punya pilihan lain selain mengeluarkan ancaman nan sepadan dengan proposal mengerikan dan katastropik ini, nan tergesa-gesa disahkan tanpa uji tuntas, tata kelola nan benar, dan tanpa konsultasi," ujar McAllister.

Dukungan Luas dari Berbagai Pihak

Ancaman boikot UEFA mencakup seluruh kejuaraan FIFA, mulai dari Piala Dunia Pria, Wanita, hingga Piala Dunia Antarklub. Jika terealisasi, Piala Dunia dipastikan kehilangan panggung utamanya, mengingat kekuasaan negara-negara Eropa di kancah internasional.

Sikap keras UEFA mendulang support luas dari Federasi Sepak Bola Inggris (FA), Federasi Sepak Bola Skotlandia, asosiasi suporter Football Supporters' Europe, hingga World Leagues Association (WLA) dan Liga Premier.

Kini, bola panas berada di tangan FIFA. Tanpa adanya kompromi alias pembatalan rencana dari Infantino, sepak bola bumi terancam mengalami perpecahan terbesar dalam sejarah modern. (BBC/Z-2)

Selengkapnya