Jakarta, CNBC Indonesia - Sedikitnya 14 orang tewas dan puluhan lainnya terluka setelah seorang pelaku peledak bunuh diri meledakkan diri di luar sebuah instansi polisi di Lembah Swat, Pakistan, Minggu (2/8/2026) malam waktu setempat. Ledakan terjadi di tengah kerumunan penduduk nan sedang menggelar tindakan protes menuntut pemerintah mengambil tindakan terhadap meningkatnya kekerasan di area tersebut.
Serangan terjadi di Kabal, sebuah kota di Lembah Swat nan berada di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, dekat perbatasan Afghanistan.
Menurut Kepala Kepolisian Distrik Swat (DPO) Umar Khan, pelaku meledakkan bahan peledak setelah personel polisi berupaya menghentikan dan memeriksanya di pintu masuk instansi polisi.
"Pelaku peledak bunuh diri meledakkan bahan peledak setelah personel polisi berupaya menghentikan dan menggeledahnya di pintu masuk instansi polisi," kata Khan, dilansir Al Jazeera.
Wakil Inspektur Jenderal Polisi Swat, Fida Hussain, mengatakan sedikitnya 22 orang mengalami luka-luka dalam serangan tersebut. Hingga sekarang belum ada golongan nan mengaku bertanggung jawab atas tindakan itu.
Ledakan terjadi di dekat ratusan penduduk nan berkumpul di sebuah persimpangan jalan tidak jauh dari letak kejadian. Mereka sedang menggelar demonstrasi untuk mendesak pemerintah mengambil langkah tegas menghadapi meningkatnya kekerasan di wilayah tersebut.
Ledakan menghantam kerumunan ketika pembicara terakhir tetap menyampaikan pidatonya, memicu kepanikan dan membikin penduduk berlarian menyelamatkan diri.
Adapun tindakan unjuk rasa itu secara unik digelar untuk mengecam kembali meningkatnya serangan kekerasan di Swat. Wilayah tersebut pernah menjadi pedoman kuat Taliban Pakistan alias Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) sebelum operasi militer pada 2009 sukses memukul mundur golongan tersebut dari area itu.
Dalam demonstrasi tersebut, sejumlah pembicara menuduh abdi negara menindak penduduk sipil nan tenteram sementara golongan bersenjata justru bebas beraksi di pegunungan sekitar dan apalagi menyebarkan aktivitas mereka melalui media sosial.
"Kami telah menyaksikan bertahun-tahun pertumpahan darah. Kami tidak mau generasi lain menjadi janda dan yatim piatu," kata salah satu pembicara nan dikutip media Pakistan, Dawn.
Presiden Pakistan Asif Ali Zardari dan Perdana Menteri Shehbaz Sharif mengutuk serangan peledak bunuh diri tersebut serta menyampaikan duka mendalam atas jatuhnya korban jiwa.
Dalam pernyataan terpisah, keduanya menyampaikan belasungkawa kepada family korban tewas, mendoakan kesembuhan para korban luka, serta memerintahkan otoritas mengenai memastikan seluruh korban mendapatkan perawatan medis terbaik.
Zardari dan Sharif juga menegaskan bahwa perjuangan Pakistan melawan "terorisme" bakal terus bersambung hingga ancaman tersebut betul-betul diberantas.
Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi turut mengecam serangan tersebut. Dalam pernyataannya, dia menyampaikan belasungkawa kepada family korban dan mendoakan kesembuhan sigap bagi mereka nan terluka.
Sementara itu, Umar Khan mengatakan abdi negara keamanan telah menutup area kejadian dan memulai penyelidikan untuk mengungkap pelaku serta jaringan di kembali serangan tersebut.
Korban luka dievakuasi ke rumah sakit di kota Saidu Sharif nan berada tidak jauh dari letak kejadian. Beberapa korban dilaporkan berada dalam kondisi kritis.
Pada saat nan sama, kepolisian melancarkan operasi pencarian dan penyisiran di sekitar wilayah serangan.
Serangan di Swat menjadi bagian dari meningkatnya gelombang kekerasan di Provinsi Khyber Pakhtunkhwa, wilayah nan sejak 2007 menjadi letak pemberontakan TTP terhadap pemerintah Pakistan dengan tujuan menerapkan sistem pemerintahan jenis mereka sendiri.
Hanya tiga hari sebelum ledakan peledak bunuh diri tersebut, serangan penyergapan menggunakan drone bermuatan bahan peledak menewaskan 11 polisi di sebuah pos pemeriksaan di Distrik Hangu.
Sementara itu, serangan peledak mobil di Distrik Tank pada akhir Juli menewaskan 27 tentara Pakistan. Serangan tersebut diklaim oleh TTP.
Data Pakistan Institute for Conflict and Security Studies menunjukkan sedikitnya 154 kematian mengenai "terorisme" tercatat di seluruh Provinsi Khyber Pakhtunkhwa selama Juli. Jumlah itu lebih dari dua kali lipat dibandingkan korban pada Juni.
Pemerintah Pakistan berulang kali menuduh pemerintahan Taliban Afghanistan memberikan perlindungan kepada kelompok-kelompok bersenjata nan merencanakan serangan lintas pemisah terhadap Pakistan. Namun tuduhan tersebut dibantah oleh Kabul.
Perselisihan itu semakin memperburuk hubungan kedua negara bertetangga tersebut. Awal tahun ini, Pakistan melancarkan serangan udara ke wilayah Afghanistan nan menurut pemerintah Taliban dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menewaskan puluhan penduduk sipil.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]

1 hari yang lalu
8







English (US) ·
Indonesian (ID) ·