Bos BGN Sudaryono Copot 137 Kepala Dapur MBG, Ini Penjelasannya

59 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Gizi Nasional (BGN) mencopot 137 Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) alias kepala dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) nan tersebar di sejumlah daerah. Langkah ini diambil sebagai corak penegakan disiplin terhadap pelanggaran nan ditemukan dalam penyelenggaraan program, mulai dari kasus keracunan hingga dugaan penyimpangan pengelolaan keuangan.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, pencopotan dilakukan terhadap Kepala SPPG nan terbukti melanggar disiplin, maupun mempunyai rekam jejak nan tidak sesuai dengan standar operasional dan integritas penyelenggaraan program.

"Per hari ini, saya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional telah mencopot 137 Kepala Dapur di seluruh Indonesia ialah di Jawa Barat, lampung, Jawa Timur, Sumatra Utara, Banten dan Jawa Tengah termasuk nan kemarin dapurnya nan di Semarang nan menimbulkan keracunan di SMK Negeri 6 Semarang," kata Sudaryono dalam keterangannya, dikutip Selasa (4/8/2026).

Ia menegaskan, BGN menerapkan kebijakan tanpa toleransi terhadap beragam pelanggaran dalam penyelenggaraan MBG.

"Yang jelas kami zero toleran terhadap keracunan, zero toleran terhadap tindakan korupsi, hengki pengki, ngentik uang, dan lain-lain itu kita zero toleran, dan kami telah menyiapkan suatu sistem sistem di mana trust is good, tapi control is better," tegasnya.

Selain memperkuat pengawasan internal melalui pengembangan sistem digital, BGN juga bakal membuka akses info nan lebih transparan kepada publik. Nantinya, orang tua, sekolah, pemerintah daerah, hingga dinas mengenai dapat mengetahui menu makanan nan diberikan kepada siswa, kandungan gizinya, dapur penyedia, kepala SPPG nan bertugas, hingga beragam keluhan nan muncul.

"Sebagaimana janji saya setelah saya dilantik adalah gimana menyediakan info nan terbuka kepada pihak-pihak mengenai khususnya orang tua, kemudian dinas kesehatan, dinas pendidikan, termasuk guru, kepala sekolah itu mendapatkan info bahwa anaknya diberi menu makan apa oleh negara di hari ini, hari kemarin, hari esok, dan rencananya apa, kandungan gizinya apa, kemudian menu tadi itu dimasak di SPPG mana, kepala SPPG-nya siapa, dan ada keluhan apa, sehingga kita bisa lihat," tutur dia.

Untuk memperkuat tata kelola tersebut, BGN juga tengah menyiapkan portal pengaduan bagi mitra dan Kepala SPPG. Kanal tersebut ditargetkan mulai beraksi dalam satu hingga dua hari ke depan sebagai saluran resmi untuk menyampaikan beragam hambatan operasional secara sigap dan transparan.

"Kami tentu saja mau juga membuka portal ya, semacam portal pengaduan, insya Allah nih jika bisa 1-2 hari ini bisa jalan portal pengaduan bagi mitra, sehingga mitra itu bisa cerita misalnya apakah ada perlakuan tidak adil, alias ada bentrok dengan yayasan kah, alias bentrok dengan kepala dapurnya kah, dan lain-lain kita bisa juga bisa dapat inputan," kata Sudaryono.

Portal serupa juga bakal disediakan unik bagi Kepala SPPG. Melalui kanal tersebut, mereka dapat melaporkan beragam persoalan nan memengaruhi penerapan standar keamanan pangan dan higiene, termasuk andaikan dapur tempat mereka bekerja belum memenuhi standar operasional.

"Mereka juga kita buatkan portal khusus, pengaduan khusus, dimana misalnya bisa jadi kan tidak higienis itu bukan lantaran kelalaian seorang kepala SPPG, bisa jadi misalnya dapurnya tidak standar," ujarnya.

Menurut dia, Kepala SPPG berkuasa mengusulkan penambahan maupun perbaikan akomodasi kepada mitra andaikan kondisi dapur belum memenuhi standar. Jika usulan tersebut tidak ditindaklanjuti, BGN juga membuka kesempatan bagi Kepala SPPG untuk mengusulkan perpindahan ke dapur lain.

"Dan jika itu tidak diindahkan, maka kepala SPPG itu kami perbolehkan untuk kemudian mengusulkan perpindahan dari dapur tempat dia bekerja. Karena jika diteruskan maka bakal berisiko, bakal adanya keracunan nan bakal berisiko terhadap karir dia. Kan gitu ya," ucap dia.

Sudaryono menegaskan, portal pengaduan tidak dibuat untuk memperketat pengawasan semata, melainkan menjadi sarana memperbaiki tata kelola agar seluruh pihak nan terlibat dapat menyampaikan persoalan sekaligus mencari solusi demi memastikan program MBG melangkah dengan aman.

"Jadi kami, intinya bukan kok kita sok galak, nekan, tapi gimana juga setiap penekanan alias setiap ketegasan kita itu kemudian diindahkan oleh semua pihak, mau mitra, mau kepala SPPG, mau yayasan, mau termasuk internal di BGN. Tapi juga kami menyediakan saluran-saluran dimana kita bisa mengatur-atur ya, meng-arrange susunan nan baik sehingga ke depan, ke depan itu bukan kok kemudian jauh-jauh ke depan, tapi dalam waktu nan sesingkat-singkatnya kita bisa memberikan pelayanan nan prima. Dalam kaitannya menyediakan makanan nan bergizi dan aman," pungkasnya.

Selengkapnya