Budaya Siaga Bencana Kota Bandung Penting untuk Hadapi Ancaman Sesar Lembang

1 jam yang lalu 3
Budaya Siaga Bencana Kota Bandung Penting untuk Hadapi Ancaman Sesar Lembang Kesiapsiagaan menghadapi musibah tidak boleh dipandang sebagai persoalan teknis semata, tetapi kudu menjadi budaya nan tumbuh dalam kehidupan masyarakat.(Dok. Diskominfo Kota Bandung)

KESIAPSIAGAAN menghadapi musibah di Kota Bandung sekarang diarahkan untuk melampaui pemisah teknis dan prosedural. Pemerintah Kota Bandung menekankan bahwa mitigasi kudu beralih bentuk menjadi budaya nan melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Hal ini menjadi krusial mengingat posisi geografis Kota Bandung nan mempunyai kerentanan tinggi, terutama akibat aktivitas Sesar Lembang.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa sebagai ibu kota Provinsi Jawa Barat, akibat musibah di Kota Bandung dapat berimplikasi luas. Oleh lantaran itu, kesiapsiagaan kudu dibangun sejak awal melalui pendekatan kultural.

"Kesiapsiagaan menghadapi musibah kudu berada dalam konteks kultural alias pembudayaan. Jangan dianggap sekadar persoalan teknis, tetapi kudu menjadi kebiasaan masyarakat," ujar Farhan saat mengukuhkan Kampung Siaga Bencana (KSB) Kecamatan Coblong di Monumen Perjuangan Rakyat Jabar, Jumat (31/7) malam.

Membangun Budaya "Warga Jaga Warga"

Menurut Farhan, pembudayaan siaga musibah berfaedah masyarakat secara organik terbiasa dengan protokol keselamatan. Hal ini mencakup pemahaman otomatis mengenai titik evakuasi, langkah-langkah pengamanan mandiri, hingga kesadaran untuk saling membantu tanpa menunggu petunjuk formal.

Nilai gotong royong nan menjadi karakter bangsa Indonesia dipandang sebagai fondasi utama resiliensi kota. Farhan mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak pada pola pikir egoistis alias hanya mengandalkan pemerintah sepenuhnya saat terjadi keadaan darurat.

"Menjaga Kota Bandung bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan memerlukan partisipasi aktif seluruh komponen masyarakat. Gotong royong adalah budaya sekaligus kepribadian bangsa," tambahnya.

Ia juga memperkenalkan semangat "Warga Jaga Warga" sebagai komitmen kolektif untuk saling melindungi. Dalam situasi darurat, Farhan mengimbau masyarakat untuk lebih mengedepankan tindakan nyata membantu sesama dibandingkan sekadar mendokumentasikan kejadian untuk media sosial.

Ancaman Sesar Lembang dan Peran KSB

Urgensi penguatan kesiapsiagaan ini didasarkan pada info kerentanan wilayah. Kepala Dinas Sosial Kota Bandung, Yorisa Sativa, mengungkapkan bahwa berasas pemetaan, sekitar 62 persen wilayah kecamatan di Kota Bandung berpotensi terdampak aktivitas Sesar Lembang.

Data Kerentanan Bencana Kota Bandung:

  • Cakupan Risiko: 20 dari 30 kecamatan (62%) berpotensi terdampak Sesar Lembang.
  • Dasar Hukum: Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.
  • Target: Mitigasi dan kesiapsiagaan berbasis masyarakat.

Sebagai langkah konkret, Pemerintah Kota Bandung terus memperluas pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB). Hingga saat ini, telah terbentuk lima KSB nan tersebar di titik-titik strategis:

  1. Kecamatan Mandalajati
  2. Kecamatan Ujungberung
  3. Kecamatan Cidadap
  4. Kecamatan Sukasari
  5. Kecamatan Coblong (Baru dikukuhkan)

Infrastruktur Sosial di Kampung Siaga Bencana

KSB bukan sekadar organisasi formal, melainkan sistem nan dilengkapi dengan sarana pendukung penanganan musibah di tingkat akar rumput. Yorisa menjelaskan bahwa setiap KSB mempunyai komponen utama sebagai berikut:

Komponen KSB Fungsi Utama
Gardu Sosial Pusat info dan koordinasi kebencanaan tingkat lokal.
Lumbung Sosial Tempat penyimpanan logistik darurat untuk kebutuhan warga.
Personel Tagana Tenaga terlatih (Taruna Siaga Bencana) nan siap memobilisasi warga.
Pilar Sosial Kolaborasi RT, RW, Posyandu, PKK, Karang Taruna, dan LPM.

Keberadaan KSB diharapkan bisa melembagakan semangat gotong royong melalui sistem nan terencana, terstruktur, dan berkelanjutan. Dengan kerjasama antara pemerintah, masyarakat, dan bumi usaha, Kota Bandung diharapkan mempunyai daya lenting (resiliensi) nan kuat dalam menghadapi potensi musibah di masa depan. (AN/I-1)

Selengkapnya