ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang protes pecah di sejumlah wilayah ibu kota Kuba, Havana, pada Selasa (7/7/2026) malam waktu setempat ketika jutaan penduduk tetap hidup tanpa aliran listrik di tengah blokade pasokan bahan bakar dari Amerika Serikat (AS) nan telah berjalan selama enam bulan.
Warga turun ke jalan sembari memukul panci, membunyikan klakson kendaraan, hingga meneriakkan tuntutan agar pemerintah segera mengembalikan pasokan listrik. Aksi tersebut terjadi sehari setelah Kuba mengalami pemadaman listrik nasional pada Senin, nan menjadi kejadian ketiga sepanjang tahun ini.
Meski pemerintah menyatakan sebagian besar wilayah Kuba telah kembali terhubung ke jaringan listrik nasional hingga Selasa malam, banyak wilayah tetap tetap gelap gulita lantaran negara itu kekurangan bahan bakar untuk mengoperasikan pembangkit listrik.
Operator jaringan listrik nasional Kuba, Unión Eléctrica (UNE), mengatakan jaringan listrik telah sukses dipulihkan dari Provinsi Pinar del Rio di ujung barat hingga Holguin di bagian timur pulau.
Namun, Kota Santiago de Cuba nan merupakan kota terbesar kedua di negara tersebut tetap belum tersambung ke jaringan listrik dan tetap mengalami pemadaman total, menurut keterangan pemerintah.
Blokade AS Picu Krisis Energi
Krisis listrik nan terus berjalan tidak lepas dari kebijakan AS. Sejak Januari lalu, Washington menghentikan pasokan bahan bakar ke Kuba, kemudian memperketat hukuman ekonomi nan memicu hengkangnya banyak perusahaan asing serta nyaris melumpuhkan sektor pariwisata negara tersebut.
Langkah itu dilakukan sebagai upaya menekan pemerintah Kuba agar bersedia kembali ke meja perundingan.
Pemerintah AS secara terbuka menyatakan mau mengakhiri pemerintahan komunis di Kuba serta mendorong penyelenggaraan pemilu nan demokratis dan pembebasan para tahanan nan mereka sebut sebagai tahanan politik.
Di sisi lain, pemerintah Kuba berbareng Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menilai hukuman nan dijatuhkan Presiden Donald Trump melanggar norma internasional serta kewenangan asasi manusia penduduk Kuba.
Warga Turun ke Jalan
Di sejumlah area pinggiran Havana seperti Jaimanitas dan Santa Fe, ratusan penduduk nan kelelahan akibat pemadaman listrik berkepanjangan turun ke jalan pada malam hari.
Sebagian penduduk lainnya memilih duduk di depan rumah alias di trotoar sembari bermain domino dan berbincang dengan tetangga sembari menunggu listrik kembali menyala di tengah cuaca malam musim panas nan panas.
Banyak penduduk mengaku sudah terbiasa menghadapi pemadaman listrik nan berjalan lebih dari 30 jam, sehingga mereka pasrah kudu kembali menghabiskan malam tanpa listrik, dikelilingi nyamuk dan dengan waktu tidur nan sangat terbatas.
"Saya tidak memandang ada solusi sigap untuk masalah ini," kata Amauri Gonzalez, seorang penduduk setempat nan keluar rumah untuk mencari udara segar, dilansir Reuters.
"Pembangkit listrik kami sudah usang dan tidak ada bahan bakar," ujarnya.
Di beberapa wilayah Santa Fe, aliran listrik kembali menyala tidak lama setelah tindakan memukul panci dimulai.
Hal itu membikin para pengunjuk rasa segera membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing untuk memanfaatkan listrik nan baru pulih.
Perundingan Kuba-AS Mandek
Baik pejabat Kuba maupun Amerika Serikat mengakui bahwa pembicaraan antara kedua negara sekarang mengalami kebuntuan.
Dalam sidang Majelis Umum PBB nan membahas hukuman Amerika Serikat pada Selasa, Duta Besar AS untuk PBB Michael Waltz menyalahkan pemerintah Kuba atas krisis listrik nan melanda negara tersebut.
"Ubahlah langkah Anda memerintah dan nyalakan kembali listrik bagi rakyat Anda," kata Waltz.
Namun, sebagian besar negara nan berbincang dalam sidang tersebut justru meminta Washington mengakhiri blokade terhadap Kuba dan mencabut hukuman ekonomi nan dinilai telah melumpuhkan perekonomian negara pulau tersebut.
(luc/luc)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·