Pemadaman Listrik Massal Hantam Seluruh Negeri, Pemerintah Kelimpungan

3 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Kuba kembali dilanda krisis listrik nasional setelah jaringan listrik utama negara itu kolaps pada Senin (6/7/2026) waktu setempat, memicu pemadaman massal di seluruh negeri. Gangguan ini menjadi pukulan terbaru bagi negara Karibia tersebut nan selama berbulan-bulan telah bergulat dengan krisis energi, kekurangan bahan bakar, serta terbatasnya pasokan obat-obatan.

Operator jaringan listrik nasional Kuba, Unión Eléctrica (UNE), menyatakan proses pemulihan pasokan listrik mulai dilakukan secara berjenjang pada hari nan sama. Namun hingga Senin sore waktu setempat, listrik baru dapat dipasok untuk sejumlah jasa vital seperti rumah sakit dan pusat produksi pangan.

UNE mengatakan kapabilitas nan sukses dipulihkan di ibu kota Havana baru bisa memenuhi sekitar 1% dari total kebutuhan listrik kota tersebut. Hingga kini, pemerintah Kuba belum mengungkap penyebab runtuhnya jaringan listrik nasional tersebut.

Krisis ini memperparah kondisi Kuba nan dalam beberapa bulan terakhir sudah terbiasa mengalami pemadaman listrik selama berjam-jam, apalagi berhari-hari. Gangguan berkepanjangan itu dikaitkan dengan kondisi jaringan listrik nan telah menua serta blokade pasokan minyak nan diberlakukan Amerika Serikat sehingga membatasi kesiapan bahan bakar di pulau tersebut.

Pemadaman berskala nasional dan lambatnya proses pemulihan semakin menambah beban masyarakat Kuba nan telah kelelahan menghadapi pemadaman bergilir. Kondisi tersebut membikin banyak penduduk kesulitan bekerja maupun beristirahat di tengah suhu musim panas area Karibia nan tinggi.

"Lihat saja wajah saya, semuanya sudah tergambar," kata Ariel Sotelo, penduduk Havana berumur 57 tahun nan mengaku sudah tidak menikmati aliran listrik sejak sehari sebelumnya, dilansir Reuters.

"Kami hanya bisa memperkuat dan menerima keadaan, tetapi ini sama sekali tidak mudah," ujarnya.

Adapun ketika jaringan nasional betul-betul kolaps pada Senin, nyaris dua pertiga wilayah Kuba sebenarnya sudah lebih dulu mengalami pemadaman listrik. Akibatnya, banyak penduduk nan telah terbiasa hidup tanpa listrik maupun akses komunikasi apalagi nyaris tidak merasakan perbedaan ketika jaringan nasional akhirnya betul-betul berakhir beroperasi.

Dalam siaran televisi nasional, pemerintah apalagi meminta penduduk nan tetap beruntung memperoleh aliran listrik untuk menyampaikan berita mengenai runtuhnya jaringan listrik nasional kepada kawan dan tetangga nan tidak mempunyai akses info akibat pemadaman.

Pemadaman nasional nan terjadi pada Senin merupakan kejadian kedelapan sejak Oktober 2025 dan menjadi nan ketiga sepanjang tahun ini.

Situasi daya Kuba juga makin memburuk setelah pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghentikan pengiriman bahan bakar dari Venezuela ke Kuba pada awal tahun ini. Washington juga menekan Meksiko agar menghentikan pengiriman minyak ke Kuba serta menakut-nakuti bakal mengenakan tarif terhadap negara mana pun nan tetap memasok minyak ke pulau tersebut.

Pemerintah Amerika Serikat menyebut pemerintah Kuba sebagai ancaman terhadap keamanan nasional dan beranggapan bahwa hukuman tersebut diperlukan untuk memaksa terjadinya perubahan pemerintahan di negara itu, nan telah lama menjadi salah satu tujuan kebijakan luar negeri Washington.

Sebaliknya, Kuba nan hanya berjarak sekitar 145 kilometer dari Kepulauan Florida Keys, Amerika Serikat, secara konsisten membantah tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa negara itu bukan ancaman bagi AS.

Namun bagi sebagian besar penduduk Kuba, persoalan nan mereka hadapi saat ini jauh lebih berkarakter praktis dibandingkan politik.

"Panasnya, nyamuknya, semuanya betul-betul tidak tertahankan," kata Omar Ortega, penduduk Havana berumur 60 tahun. "Berapa lama lagi kondisi seperti ini bakal terus berlangsung? Terus terang, kami sudah tidak sanggup lagi," ujarnya.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya